Ketika Eleanore kembali ke apartemen dengan membawa dua tas besar berisi barang-barang belanjaan, Nikolai sudah menunggunya di sofa dengan wajah menekuk.
Pria itu tampak seperti anak kecil yang baru saja ditinggal orang tuanya terlalu lama.
"Kau tidak mengajakku berbelanja," gerutu Nikolai sambil menatapnya dengan kening berkerut tak suka.
Biasanya Eleanore akan membalas komentar itu. Mungkin dengan menyuruhnya berhenti merajuk atau mengingatkan bahwa mereka hanya berpisah beberapa jam.
Tetapi, kali ini ia tidak mengatakan apa-apa. Pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Romeo. Kata-kata pria itu terus berputar di kepalanya, bercampur dengan pengakuan tentang Pavlena, kebencian Nikolai, dan tuduhan bahwa semua yang terjadi hanyalah bagian dari rencana balas dendam.
Eleanore membenci dirinya sendiri karena masih memikirkannya.
Ia tahu Romeo telah menyakitinya. Ia tahu pria itu tidak berhak mencampuri hidupnya lagi. Tetapi, beberapa perkataannya tetap berhasil meninggalkan luka yang membuat hatinya terasa sesak.
Dan, tampaknya Nikolai menyadarinya.
"Hei," panggil Nikolai dengan nada lebih lembut. Ia langsung menyadari bahwa sikap Eleanore terlihat aneh. "What's wrong? Are you okay?"
Tidak ada jawaban. Sekadar gelengan atau anggukan pun tidak. Eleanore hanya mondar-mandir mengeluarkan isi belanjaannya.
Perlahan, Nikolai bangkit dari sofa dan mendekat. Diperhatikannya sejenak perempuan tersebut sebelum ditariknya tangan Eleanore perlahan.
"Hei," bisik Nikolai, pria itu menatap wajah Eleanore sesaat. "You good?"
Kedua mata Eleanore masih kosong. Perempuan itu terlihat seperti kehilangan jiwanya, dan tentu hal itu membuat Nikolai sangat khawatir.
Perlahan, Nikolai membantu Eleanore melepas jaket dan syalnya. Kemudian, dia juga membuka dua lapis jaket lainnya. Saat hendak merengkuh Eleanore lagi, Nikolai tertegun. Dia melihat tanda kemerahan di pergelangan tangan perempuan itu. Terlihat jelas seperti ada seseorang yang mencengkeram sangat erat perempuan itu.
Apa yang terjadi?
Rahang Nikolai mengeras, kepalanya langsung penuh karena memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi pada perempuannya.
Detik berikutnya, Nikolai tertegun.
Apa? Perempuannya?
Ya, bukankah Eleanore memang perempuannya, kan?
Tapi, mengapa kali ini ungkapan itu terasa aneh?
Lamunannya buyar ketika Eleanore perlahan menarik tangannya dari genggaman.
Nikolai langsung bergerak. Kedua tangannya menangkup wajah perempuan itu, memaksanya menoleh dan menatapnya.
"Hei." Tatapannya menyapu wajah Eleanore lekat. "What's wrong?"
Tidak ada jawaban.
"Ada apa?"
Eleanore hanya menggeleng pelan.
Tatapan Nikolai kemudian turun ke bekas kemerahan di pergelangan tangannya. "Siapa yang melakukannya?"
Eleanore kembali menggeleng.
"Anak kecil pun tahu kalau kau sedang berbohong. Kenapa kau berbohong padaku?"
"Tidak ada apa-apa, Nik."
"Jelas sesuatu telah mengusikmu."
"Tidak ada."
"Apa aku membuat kesalahan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
