Perlahan Eleanore terbangun karena seseorang mengusap kepalanya. Untuk beberapa detik, perempuan itu masih terlalu mengantuk untuk membuka mata. Ia hanya bergerak sedikit mencari posisi yang lebih nyaman.
Rasanya hangat dan nyaman, itulah hal pertama yang ia sadari. Wajahnya menempel pada sesuatu yang kokoh, dada seseorang. Sementara, sebuah lengan melingkari pinggangnya dengan cukup erat.
Jemari yang tadi membangunkannya kembali bergerak, menyisir pelan rambutnya. Akhirnya Eleanore membuka mata. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Nikolai yang tengah menatapnya.
Eleanore baru menyadari bahwa ia tengah berbaring di atas dada Nikolai.
"Kau sudah bangun? I was holding my breath because I was afraid I'd wake you up." Suara serak Nikolai terdengar dari atas kepalanya. Satu tangannya masih berada di rambut Eleanore, mengusapnya pelan.
"Kau membangunkanku."
"Tidurlah lagi." Pria itu mengusap batang hidung Eleanore dengan ibu jarinya, seperti yang selalu pria itu lakukan selama satu bulan ini di malam hari ketika berusaha membuat Eleanore tertidur.
Eleanore mengangkat kepala sedikit dari dada Nikolai, berniat mencari posisi lain yang lebih nyaman. Namun, baru beberapa sentimeter ia menjauh, Nikolai kembali menarik kepalanya kembali hingga wajah perempuan itu kembali menempel di dadanya.
"Mau ke mana?"
"Aku mau pindah posisi."
"Kenapa?"
"Gerah."
Eleanore segera berguling menjauh, perempuan itu membelakangi Nikolai, meringkuk di sisi lain ranjang sambil memeluk bantal yang ada di dekatnya. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian punggung telanjangnya. Sementara itu, kepalanya sudah rebah di bantal lain.
Namun, tak berapa lama, dada hangat pria itu sudah menempel di punggungnya, dan lengannya menyelinap ke bawah kepala Eleanore, menjadi bantal. Sungguh, pria itu tak pernah melepaskan Eleanore bahkan untuk sedetik pun.
"Nikolai—"
Belum sempat Eleanore melanjutkan ucapannya, sebelah lengan Nikolai sudah melingkar di pinggangnya, menarik tubuh Eleanore mundur menempel pada tubuh polosnya.
"Nikolai."
"Hm? Tidurlah, jangan terus memanggilku."
"Jangan tidur menyamping seperti ini."
"Kenapa?"
"Rusukmu baru pulih."
Pria itu justru tersenyum tipis, jarinya mengusap pelan punggung tangan perempuan itu.
"It's been two months sejak kecelakaan itu, sekarang aku baik-baik saja."
Ya, sudah dua bulan sejak kecelakaan itu terjadi. Yang artinya, sudah satu bulan lamanya Nikolai tinggal di apartemen Eleanore. Pria itu benar-benar menganggap apartemen ini seperti rumahnya sendiri, bahkan beberapa sudut apartemen telah dipenuhi oleh barang-barang pria itu.
"Even last night, you didn't have to work so hard being on top anymore. I can already—"
"Nik, tutup mulutmu."
Pria itu mengeratkan pelukannya hingga Eleanore bisa merasakan milik pria itu, cukup keras—mungkin karena masih pagi, dan Nikolai selalu seperti itu ketika pagi—menempel pada punggungnya.
"Jauhkan dirimu dariku."
"I like the scent of peonies on you."
"Then I'll change my body wash and perfume so you won't like it anymore."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romansa[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
