Bab 25

24.8K 1.2K 65
                                        

Begitu Romeo akhirnya pergi meninggalkan apartemen itu, suasana mendadak kembali hening untuk beberapa saat. Eleanore masih berdiri mematung beberapa detik di ruang tengah dengan pikiran kacau.

Romeo ingin melepas takhtanya.

Romeo ingin memperjuangkannya.

Romeo—yang selama ini selalu memilih kewajiban—akhirnya memilih dirinya.

Sungguh, semuanya terasa terlalu menyesakkan. Ia tak tahu harus merasa seperti apa. Marah? Terkejut? Sedih? Ataukah seharusnya ia merasa senang? Eleanore tak yakin.

Perempuan itu mengembuskan napas panjang pelan sebelum akhirnya berjalan menuju balkon apartemen, membukakan pintu untuk Nikolai yang masih terkurung di sana.

Pria itu bersandar malas di pinggir rail balkon sambil melipat tangan di dada dengan ekspresi tidak sabar yang jelas terlihat sejak tadi.

Begitu pintu dibuka, Nikolai langsung berdecak. "Akhirnya." Tatapannya langsung jatuh pada wajah Eleanore yang tampak lesu sekarang. "Kau benar-benar mengunciku di luar balkon hanya untuk bicara dengan mantanmu?"

Eleanore terlalu lelah untuk berdebat, namun Nikolai justru masuk sambil terus mengomel, tak bisa membaca situasi.

"Luar biasa." Pria itu berjalan melewatinya sambil menggeleng tidak percaya. "Aku yang bercinta denganmu semalaman, lalu pagi harinya aku malah dikunci seperti anjing penjaga."

"Itu bukan bercinta." Kalimat Eleanore langsung membuat langkah Nikolai terhenti. Perempuan itu masih berdiri membelakanginya sekarang. "Kita hanya having sex. Don't make it sound more meaningful than it was."

Perlahan Nikolai menoleh, menatapnya seolah tidak percaya bahwa Eleanore baru saja merevisi kata-katanya—meremehkan malam mereka secara terang-terangan. "Huh?"

"Pulanglah, Nik," usir Eleanore.

"No."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Nikolai mendekat lagi, jelas tidak berniat pergi begitu saja. Namun, detik berikutnya Eleanore justru melepas kalung dengan bandul ruby merah di lehernya—Permata Rusia yang dipinjamkan Nikolai. Sebelum Nikolai sempat mencerna apa yang perempuan itu lakukan, Eleanore sudah melemparkan benda itu ke arahnya.

Refleks, Nikolai langsung menangkapnya. "Kau gila?!" bentaknya spontan sambil menggenggam ruby itu erat. "Do you even know how expensive this is?"

"Aku tidak mau memakainya lagi."

Tatapan Nikolai langsung jatuh pada Eleanore. Dan, untuk pertama kalinya sejak tadi, pria itu menyadari bahwa perempuan itu benar-benar kacau sekarang.

Hening beberapa detik memenuhi apartemen sebelum akhirnya Nikolai berdecak kecil kesal. "Unbelievable."

Pria itu akhirnya berjalan masuk ke kamar untuk mengambil jas dan barang-barangnya. Tepat sebelum keluar apartemen, Nikolai sempat menoleh lagi pada Eleanore yang masih berdiri diam dengan kemeja putih menggantung longgar di tubuhnya.

Tatapannya turun sekilas pada kemeja tersebut. "Pastikan kau mencucinya lalu mengembalikannya, harganya mungkin lebih mahal dari sofa jelek di apartemenmu ini."

Eleanore bahkan tidak menanggapi ketika pria itu akhirnya berjalan keluar apartemen sambil menggerutu kecil tidak jelas.
"Unbelievable ...," gumamnya kesal sendiri. "She locks me outside, throws my family jewel at me, and treats me like some expensive prostitute after sleeping with me."

***

Begitu pintu lift terbuka di lobby apartemen, Nikolai langsung melangkah keluar sambil mengeluarkan ponsel. Jujur saja, suasana hatinya juga hancur. Dan semua itu karena perempuan menyebalkan bernama Eleanore Lyubov.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang