Eleanore masih tidak percaya dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Mengapa? Bayangan akan sorot kekecewaan pada wajah Romeo masih membekas jelas dalam benaknya.
Tanpa disadari, Eleanore sudah mempermalukan Romeo di depan umum, terlebih ketika ia meninggalkan pria itu begitu saja sembari merangkul Nikolai.
"Kau tidak berharap aku akan menghapus air matamu, bukan?" tanya Nikolai membuyarkan lamunan Eleanore.
"Apa aku terlihat akan menangis?"
Tidak.
Tidak sedikit pun.
Perempuan itu justru menatap Nikolai dengan tajam, tidak ada air mata atau kesedihan pada matanya. Akan tetapi, Nikolai tahu bahwa perempuan itu tengah mempertanyakan keputusannya tadi.
Namun, itu bukan salah Nikolai. Ia memang memulai pertunjukannya tetapi Eleanore bisa memilih, dan perempuan itu memilihnya, bukan?
"Turun," ujar Nikolai menghentikan mobilnya tepat di dekat tebing yang cukup curam.
"Kau ingin membunuhku di sini?" tanya Eleanore baru menyadari ke mana pria itu membawanya. Akan tetapi, bukannya takut, Eleanore justru menyusul turun.
"Tempat seindah ini akan jadi berhantu, jika aku membunuhmu di sini."
Indah katanya? Ya, Nikolai tidak salah.
Meski tempatnya berada di tebing yang curam, namun hamparan bintang yang tersebar di atas sana membuat tempat itu menjadi sangat cantik. Tidak ada gedung pencakar langit atau hiruk pikuk kota, seolah tempat ini terisolasi dari dunia yang selama ini Eleanore lihat. Dari kejauhan, terdengar suara deburan ombak yang mengejar satu sama lain, menjadi lantunan musik yang melengkapi suasana.
Tempat ini memang sangat indah dan menenangkan, meski awalnya tampak menyeramkan.
"Dari mana kau menemukan tempat ini?"
"Duduklah," perintahnya tanpa menjawab pertanyaan Eleanore. Tak disangka pria itu justru melepas jas dan menjadikannya alas duduk untuk Eleanore.
Melihat itu Eleanore tampak bingung. Ia hanya mematung. Sebagian dirinya yang merindukan perlakuan manis seorang pria, diam-diam merasa tersentuh dengan gestur tersebut. Akan tetapi, sebagian dirinya yang lain, yang menyadari bahwa seorang Nikolai Rohlstein jauh dari kata 'bermartabat', menyerukan peringatan untuk tidak terlena. Terakhir kali ia jatuh cinta pada perlakuan manis berujung pada perpisahan menyakitkan.
Cinta? Eleanore nyaris mendengus membayangkan nama Nikolai bersisian dengan kata sesuci dan seindah 'cinta'.
Sangat menggelikan.
"Kau mau duduk di sini, atau di atas pangkuanku?" tanya Nikolai, menepuk jasnya yang telah ia korbankan untuk menjadi alas duduk. Walau perkataannya menyiratkan rasa tidak sabar, tapi senyum miring tersungging di wajahnya. Entah pria itu memang ingin menggoda atau berhasil menebak isi pikiran Eleanore.
Pada akhirnya sang puan menurut dan duduk. Ia sadar bahwa tidak ada gunanya melawan pria gila seperti Nikolai. Mendebat pria itu hanya akan membuat energinya terbuang sia-sia.
Untuk beberapa saat, keduanya tidak mengatakan apa pun. Baik Eleanore maupun Nikolai melayangkan pandangan pada langit berbintang. Udara malam yang membawa sejumput rasa asin berembus lembut, menerbangkan rambut Eleanore.
"Menurutmu ...." Eleanore memberanikan diri untuk membuka suara. Ia sadar bahwa Nikolai mungkin bukanlah lawan bicara yang terbaik untuk membahas isi pikirannya. Tetapi, ia tidak punya siapa pun lagi kecuali pria itu saat ini. "Apakah Romeo akan membenciku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
