Bab 10

31.1K 1.6K 29
                                        

Eleanore tak mampu menyembunyikan keterkejutannya, ketika mendapati sosok yang berdiri di hadapannya—di ambang pintu apartemennya untuk lebih jelas.

"Rohlstein ...." Nama itu keluar begitu saja.

"Nikolai. Just call me Nikolai or Nik," ralat pria itu sebelum menerobos masuk. "Berapa kali aku harus memberitahumu?"

"Dari mana kau tahu alamatku?" Eleanore berbalik dan segera menutup pintu apartemennya. Ia tak punya pilihan lain selain menerima kehadiran pria itu.

"Dari ayahmu," jawab pria itu singkat. Ia bahkan tak sungkan untuk duduk di sofa milik Eleanore seakan apartemen itu adalah kediaman pribadinya.

"What are you doing here?"

Pria itu melempar sebuah dokumen begitu saja ke atas meja. "Kesepakatanku dan ayahmu," ucap Nikolai santai. "Aku sudah menandatanganinya. I've decided to accept it—your offer."

"Kemarin kau bilang penawaranku tidak menarik, because I made it too easy. Tapi sekarang kau berubah pikiran?"

Nikolai tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Eleanore beberapa detik, lalu menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada sofa. "Maybe I just got curious. Let's see how far you're willing to go." Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Strip off your clothes."

Sejujurnya, Nikolai tak benar-benar berharap bahwa Eleanore akan menurut dan membuka seluruh pakaiannya, mengingat seberapa keras kepala perempuan itu. Ia hanya ingin bersenang-senang dan mengujinya.

Tetapi, yang terjadi berikutnya justru di luar dugaan Nikolai. Tidak ada penolakan dan keraguan ketika perempuan itu membuka seluruh pakaiannya, menyisakan pakaian dalam, seakan tubuh perempuan itu tidaklah berharga, hanya sebuah kesepakatan yang tengah ia jalankan.

Nikolai terdiam, ia bahkan tak bergerak sepersekian detik. Bukan karena tidak menginginkan, tetapi terkejut. Ke mana perginya Eleanore yang keras kepala dengan harga diri setinggi langit itu?

Sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Eleanore sudah lebih dulu mendekat. Tanpa diduga, perempuan itu mendudukkan dirinya di pangkuan Nikolai. Jemarinya langsung bergerak ke kerah kemeja Nikolai, menariknya sedikit, sementara bibirnya sudah lebih dulu memutus jarak di antara keduanya.

Tanpa sedikit pun keraguan, Eleanore menciumnya, persis seperti semalam. Nikolai sempat membalas—refleks, tangannya naik ke pinggang Eleanore, menariknya lebih dekat.

Namun, ketika Eleanore berhasil melepas seluruh kancing kemeja Nikolai, pria itu justru mendorongnya menjauh, melepas pagutannya.

"What game are you playing, Eleanore?"

Eleanore tertawa pelan, seolah situasi mereka berbalik. "Kenapa? Kau ragu?" Ia mengalungkan tangannya pada leher Nikolai, geraknya begitu menggoda. "Bukankah ini yang kau inginkan?"

Nikolai tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Eleanore, mencoba membaca sesuatu atau maksud dari perempuan itu, namun nihil.

"Tidak takut kekasihmu akan melihat kita?" tanya Nikolai.
Eleanore tidak tampak terkejut, juga tidak terganggu, sebaliknya ia justru menyandarkan kepala pada dada pria itu.

"Hubungan kami sudah berakhir. Romeo bukan kekasihku lagi. Jadi kau berhak menyentuhku."

Seharusnya saat itu Nikolai mendorong sang perempuan dari atas pangkuannya. Karena tujuannya mendekati Eleanore hanyalah Romeo Romanoff. Ia ingin mencubit harga diri pria itu dengan memiliki perempuannya.

Tetapi, tangan Nikolai justru mengerat—menarik tubuh Eleanore dalam dekapannya.

"Siapa yang mengakhirinya lebih dulu?"

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang