Jam di samping ranjang belum menunjukkan pukul tiga pagi ketika bel apartemennya berbunyi beberapa kali. Eleanore langsung terbangun dengan wajah kusut, siap memarahi siapa pun yang datang.
"Siapa sih ...," gumamnya sambil berjalan keluar kamar dengan cardigan tipis menyelimuti tubuh. Eleanore mengintip di layar interkom di samping pintu. Dahinya langsung mengernyit.
Seketika kantuknya hilang melihat siapa yang datang ke apartemennya.
Nikolai.
Eleanore tidak melihat dengan jelas. Tetapi, begitu memastikan bahwa Nikolai-lah yang berada di depan sana, ia langsung membuka pintu.
Tepat ketika pintu terbuka, Eleanore langsung disambut oleh tubuh Nikolai yang ambruk. Buru-buru ia menahannya, nyaris kehilangan keseimbangan.
"Nik!" pekik Eleanore, berusaha menahan tubuh pria itu dengan panik. "Astaga! Berat sekali ...."
Nikolai hanya tertawa kecil di dalam pelukan perempuan itu, tanpa sedikit pun merasa bersalah. "Kenapa belum tidur?" gumamnya.
"I was sleeping, actually. But then a crazy man kept ringing my apartment bell and ruined it," omelnya sambil setengah menopang, setengah menyeret tubuh Nikolai masuk sedikit ke dalam apartemen dan menutup pintu. "Do you even know what time it is? Sudah gila, ya?"
Tidak ada jawaban. Eleanore menunduk, bersiap memaki sang pria tepat di depan muka. Saat itulah ia benar-benar menyadari bahwa Nikolai tengah mabuk—tidak, pria itu sangat mabuk. Bahkan Eleanore bisa mencium aroma alkohol yang begitu kuat dari tubuhnya. Entah berapa gelas yang Nikolai teguk. Penampilannya juga tak kalah kacau dengan mata memerah, rambut berantakan, wajah pucat dan lelah.
"Ya Tuhan ... berapa banyak yang kau minum?"
Nikolai malah tertawa, sembari menunjuk ke arah pintu apartemen. "Kenapa kau langsung membukakan pintu?"
Eleanore mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana kalau aku orang jahat? Atau pria berbahaya?"
Eleanore berdecak. "Aku tadi sempat melihat interkom," jawabnya sambil mencoba melepas mantel Nikolai yang penuh salju tipis. "Dan ternyata yang datang itu kau."
"Jadi ... maksudmu, kau tidak merasa aku berbahaya?"
"What are you even talking about?" Eleanore mengernyit samar, merasa Nikolai mulai mengigau tidak jelas sekarang. Dengan susah payah perempuan itu menyeret Nikolai menuju sofa sebelum akhirnya menjatuhkan tubuh pria itu ke sana dengan kesal. "God, you're heavy."
Saat Eleanore hendak menjauh, Nikolai tiba-tiba menarik pergelangan tangannya hingga ia terjatuh di atas tubuhnya.
"Jangan tinggalkan aku ...."
"Apa yang terjadi?" gumam Eleanore dalam pelukan Nikolai. Mata perempuan itu membulat tak percaya meladeni pria mabuk di hadapannya. "Kenapa kau mabuk seperti ini?"
"Aku tidak tahu harus pulang ke mana." Nikolai hanya diam beberapa detik, sebelum terkekeh kecil. "Aku terus berputar di jalan dari tadi, tetapi rasanya tidak ada tempat yang bisa disebut rumah lagi."
Eleanore tidak langsung membalas. Karena, untuk pertama kalinya, ia merasa pria di depannya benar-benar kesepian.
Perlahan Nikolai mengangkat kepala. Tatapan keduanya bertemu, kali ini dalam jarak yang begitu dekat. Lalu, tanpa banyak bicara, pria itu mengecup bibir Eleanore.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
