Chapter 2

516 37 1
                                        

"Terimakasih."

Ody menerima debit card nya dari petugas drive thru restoran siap saji setelah membeli salah satu menu sarapan pagi. Ody dengan cepat langsung melajukan mobil menuju kantornya. Setelah menembus 30 menit kemacetan yang setiap hari membuatnya hampir gila, Ody akhirnya sampai dikantor tepat 5 menit sebelum jam masuk.

"Morning Bu Ody, sudah sarapan?"
Baru saja keluar dari lift, Ardit menyapanya dengan sangat ramah sambil matanya tak terlepas dari Ody. Ody menghentikan langkahnya saat Ardit mendekat sambil membawa secangkir capuccino yang aroma nya menusuk hidung Ody.

"Morning Ardit, saya sudah sarapan. Thanks sudah bertanya bahkan mendahului Jany."

Ody menjawab pelan sambil tersenyum kecil seraya mendorong pintu kaca ruangannya. Mata Ardit masih tak terlepas dari Ody, bos yang menurutnya sangat cantik, lembut, baik, cerdas dan selalu membuatnya kagum. Ardit selalu menilai Ody adalah menantu idaman orangtuanya meski Ardit merasa Ody tak mungkin jadi miliknya.

Ardit bergegas membawa dokumen dari mejanya lalu masuk tanpa permisi ke ruangan Ody. Ody yang sudah terbiasa dengan tingkah annoying asisten manager nya ini hanya mampu mendengus kesal. Ardit menghampiri meja Ody lalu duduk di hadapannya.

"Bu Ody, bagaimana jika weekend ini kita nonton? Berdua !" Ardit berkata sambil meletakkan dokumen itu di hadapan Ody. Ody segera meraih dokumen itu, membacanya sebentar lalu segera menandatanganinya.

"Sorry Ardit, saya gak bisa." Ody menjawab pelan sambil memberikan senyum paksanya pada Ardit. Meski Ardit menyebalkan, namun Ody menilai kinerja Ardit sangatlah baik.

"Saya yang traktir..."

"No, Ardit, thanks before, ya?"

"Next time?"

"Ya, mungkin next time.."

"Kalau begitu saya permisi Bu Ody."

"Ya...."

Ardit pergi dengan kecewa dari ruangan Ody setelah mendapat penolakan. Ody menghela nafasnya LELAH ! ini hampir ke 765399 kalinya Adit mengajak Ody nonton dan sepertinya dia belum menyerah !!!

Ody mulai membuka laptop dan mencari list pekerjaannya hari ini. Ody mulai memeriksa dan membalas email satu persatu. Tak lama terdengar suara ponselnya berdering. "My Mom" tertulis di layar ponselnya.

"Morning Mam, hai !"

Ody dengan ceria mengangkat telepon dari Maminya yang memang sudah lama tidak bertemu. Ody terlalu sibuk bahkan jika weekend pun Ody hampir tidak sempat menemui Maminya.

"Hai, what are you doing? Sepertinya anak Mami gak terlalu sibuk, baru 2 kali deringan sudah di jawab."

"Aku baru sampai kantor, ini baru jam 8.30"

"Really? So, by the way apa kamu bisa menemani Mami ke acara anniversary teman Mami?"

"Kapan?"

"Minggu depan."

"Biasanya Mami pergi dengan Papi."

"Ya, tapi Papi gak bisa menemani Mami karena ada jadwal operasi. Mami ingin di temani kamu dan Raff, lagipula kamu belum kenal dengan tante Tania kan? Mami juga sudah siapkan dress cantik untuk kamu."

"Yaa, will see Mam, semoga bos ku gak mengadakan meeting dadakan."

"Apa bos kamu ganteng?"

"Dia sudah tua."

"Oh my God, bagaimana bisa kamu mendapatkan jodoh? Usia kamu sudah hampir 30 tahun Ody..."

"Mi, terlalu pagi untuk membahas itu."

Peluh Untuk PulihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang