Chapter 5

351 24 0
                                        

"Dy, kamu ikut saya meeting dengan Pak Baron ya."

Pagi itu, Pak Fariz tiba-tiba saja mengunjungi ruangan Ody. Ody langsung mengernyitkan dahinya heran, untuk apa aku meeting dengan Pak Baron?

"Kenapa saya harus ikut?"

"Karena kamu dipanggil Pak Baron."

"Kenapa Pak Baron memanggil saya?"

"Sudah jangan banyak bertanya, ayo ikut !" Pak Fariz bicara dengan nada memerintah dan itu membuat Ody sedikit geram padanya. Tanpa meminta pendapat Ody, Pak Fariz langsung melengos meninggalkannya. Ody bergegas mengikuti Pak Fariz dari belakang sambil memeluk tablet pc nya. Hatinya masih terasa dongkol pada bos nya ini.

"By the way, Pak Noah itu masih single." Pak Fariz bicara dengan volume yang rendah saat mereka berada di lift. Entah kenapa dia tiba-tiba saja membahas Noah.

"So?"

"So, kamu harus bisa menggoda dia. Daripada kamu ndak punya pasangan hingga waktu yang masih belum ditentukan?"

"Terimakasih atas sarannya Pak, tapi saya bukan wanita penggoda." Ody membela dirinya sendiri, sementara Pak Fariz mengerlingkan matanya pada Ody.

"Maka dari itu, kamu jangan terlalu nerd, terlalu innocent, kamu harus bisa menggoda supaya dapat pasangan. Jangan sampai perempuan secantik kamu jadi perawan tua." Pak Fariz langsung melengos saat pintu lift terbuka. Ody memberengut, merasa semakin dongkol pada tingkah Pak Fariz. Rasanya ingin memukulkan tablet pc ke kepalanya !!

Dalam segi pekerjaan, Pak Fariz memang baik, namun dia senang mencampuri personal staffnya dan itu sangat menyebalkan.

Tiba diruang meeting, Pak Baron tampak sudah berada disana. Ody dan Pak Fariz mengangguk sopan lalu duduk di hadapannya. Pak Baron, President Director VG tampak berbincang dengan Pak Devon yang juga hadir. Tak lama, Noah masuk ke ruangan meeting dan duduk tepat di hadapan Ody. Ody mengangguk sopan lalu kembali memakukan pandangan pada tablet pc nya.

Sebenarnya, Ody gemetaran melihat Noah yang tampak begitu HOT pagi itu. Pak Devon membuka meeting yang membahas tentang laporan divisinya, begitu pula dengan Pak Baron, dan Chief lainnya. Jujur saja, Ody merasa kikuk dan canggung karena ini adalah meeting para top level management. Pak Fariz memang gila mengajak Ody yang masih berada di middle level management untuk mengikuti meeting eksekutif.

"Kamu paparkan saja program kerja divisi kita, saya kan baru pulang dari Amerika.”

“Ha? You never told me that before! I wasn’t prepared for this !”

"I wasn't prepared for this too, kamu sampaikan saja Ody, kenapa kamu senewen? Ehm?"

"Apa yang mau saya sampaikan Pak?? Apa?"

"Apa saja, up to you..." Pak Fariz cepat-cepat memalingkan pandangannya dari Ody. Ody rasanya ingin membenturkan kepala Pak Fariz ke dinding lalu menjatuhkan diri dari jendela lantai 15. Oh my God ! Apa maksud dia mengajakku kemari? Dia mau mempermalukan aku? Geram Ody dalam hatinya.

"Itupun jika ditanya, jika ndak ya bagus kamu diam saja." Pak Fariz dengan logat jawanya menambah kekesalan Ody pagi itu. Ody meremas jemarinya sendiri mereduksi kekesalannya.
180 menit berlalu, Ody akhirnya bisa bernapas sedikit lega. Rapat berjalan intens, tapi setidaknya ia tak diminta memaparkan program kerja divisinya hari ini. Begitu Pak Devon menutup sesi meeting, suasana ruang rapat perlahan mencair — beberapa chief mulai membereskan dokumen, beberapa lainnya berdiri, berbincang ringan.

Namun, suara Pak Devon memecah suasana.

“Pak Fariz dan Cloudyra, saya dan Pak Baron mau bicara sebentar.”

Peluh Untuk PulihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang