Chapter 8

229 20 1
                                        

Pagi itu, langkah Ody terdengar lembut di sepanjang lorong menuju ruangan Pak Baron. Ia memeluk tablet PC di dadanya, menata napas, sambil memastikan senyum profesional tetap terpasang di wajahnya. Hatinya berbunga-bunga, bersemangat, apalagi setelah membaca pesan dari Noah pagi itu :

> Morning, Dy 😊 Hope your first day back is going smoothly. Remember to take it easy...
I know you'll do amazing, so don't stress too much... but don't forget, I'm expecting stories later...
Keep some energy for me later, okay? I'm thinking...vanilla latte kind of celebration.

Pesan itu benar-benar membuatnya tersenyum tipis. Rasanya tak ada yang lebih memompa semangatnya selain pria itu.

Dari balik kaca, terlihat sekretaris Pak Baron yang segera berdiri menyambutnya.

"Selamat pagi, Bu Cloudyra. Pak Baron sudah menunggu," ucap sang sekretaris sopan, mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya perlahan, mempersilakan Ody masuk.

"Terima kasih," jawab Ody sambil mengangguk ringan.

"Selamat pagi, Pak," sapa Ody dengan senyum sopan.

"Pagi, Dy," balas Pak Baron dengan nada ramah dan penuh wibawa. Ia memberi isyarat agar Ody duduk di kursi di hadapannya.

Di sisi kanan kursi, sudah ada seorang pria yang duduk tegap dengan tablet pc dihadapannya. Ia mengenakan kemeja putih, jas abu-abu terang membingkai bahunya yang lebar, dan celana kain hitamnya jatuh rapi di atas sepatu kulit.

Barryndra Arkana—sang General Manager

Tatapannya tajam di balik kacamata tipis berbingkai gelap. Ia hanya mengangguk singkat begitu Ody melangkah masuk, tanpa senyum, tanpa kata sambutan. Gerak-geriknya tenang, tapi ada ketegasan dingin yang memancar dari cara ia menutup tablet pc dan melipat tangannya di atas meja.

Ody sempat terdiam sepersekian detik, lalu membalas dengan anggukan sopan. Dalam hati, ia menarik napas panjang — berusaha menyingkirkan rasa tegang yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Meski sudah beberapa kali melihat Barry, tapi baru kali ini Ody melihatnya dari dekat. Dan Ody merasa aura pria ini seperti dinding—begitu datar dan dingin.

"Okay, Barry ini Ody, Ody ini Barry." ujar Pak Baron, memecah keheningan.

"Mulai hari ini, Ody officially menggantikan Bu Maya dan jadi partner kamu untuk beberapa project pengembangan internal."

Barry mengangkat wajahnya sedikit, menatap Ody datar.

"Barry," ucapnya singkat sambil mengulurkan tangan. Suaranya rendah, tenang, tapi terasa berjarak. Tidak ada senyum, bahkan tidak ada usaha kecil untuk mencairkan suasana.
Tatapan matanya tajam tapi datar, seolah tengah menilai tanpa benar-benar peduli.

"Ody." Ody membalas uluran itu dengan senyum sopan. Tapi senyum itu tak dibalas—Barry hanya mengangguk tipis sebelum menarik kembali tangannya. Sekilas, Ody bisa merasakan bahwa ini bukan tipe orang yang mudah diajak berbasa-basi.

Selama ini, Ody memang hanya mendengar sosok Barryndra Arkana dari rekan-rekan kerjanya — GM yang tegas, perfeksionis, dan nyaris tidak pernah terlihat santai.

Ia lebih sering mengurus Operasional dan Finansial di luar kantor, jarang sekali terlihat di lantai tim kreatif tempat Ody biasa bekerja.
Dan sekarang, pria itu akan menjadi partner-nya setiap hari.

"Kamu bisa mulai koordinasi dengan Barry ya, Dy," ujar Pak Baron ramah, seperti tahu Ody sedang menelan gugupnya sendiri.

Ody mengangguk pelan, masih menahan senyum.

"Baik, Pak."

"Barry ini lebih sering mobile, memantau tim operasional dan site di lapangan," lanjut Pak Baron.

Peluh Untuk PulihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang