"Bar, I need to talk to you."
Suara Ody pelan, tapi cukup tegas untuk terdengar di tengah ruangan meeting yang tinggal menyisakan mereka berdua.
Barry masih menatap layar laptopnya, jemarinya bergerak cepat, seolah tidak mendengar.
"Bar."
Kali ini lebih jelas.
Barry berhenti. Tapi hanya sepersekian detik.
"What about?" tanyanya datar, tanpa menoleh.
"Noah..."
Gerakan tangan Barry terhenti.
Hening.
"Saya sibuk."
Ia menutup laptopnya dengan tenang, lalu berdiri.
Ody ikut berdiri, satu langkah maju, menahan dirinya agar tidak kehilangan momentum.
"Apa yang kamu bilang waktu itu..." suaranya sedikit lebih rendah,
"...bikin saya kepikiran."
Barry berhenti tepat di depan pintu.
Beberapa detik.
Lalu ia berbalik.
Menatap Ody.
Tatapan yang tidak lagi sepenuhnya dingin—lebih ke arah menilai.
Ia kembali melangkah, mendudukkan dirinya di kursi di hadapan Ody.
"Sorry kalau bikin kamu gak nyaman," ucapnya singkat.
Ody menatapnya lurus.
"Lalu?"
Barry menarik napas pelan, menautkan kedua tangannya di atas meja.
"Saya sudah lama kenal Noah," katanya tenang.
"Dan saya tahu seperti apa dia... termasuk masa lalunya."
Ody tidak memotong.
Hanya menunggu.
"Tapi saya gak bisa menceritakan itu."
"Okay..." jawab Ody pelan, meski jelas itu bukan jawaban yang ia butuhkan.
Barry menatapnya beberapa detik lebih lama.
"Saya hanya ingin mengingatkan kamu," lanjutnya, nada suaranya tetap datar tapi lebih dalam.
"Kamu harus siap... kalau suatu saat kamu kecewa dengan perasaan kamu sendiri."
Ruangan terasa semakin hening.
"What's wrong with him?"
Pertanyaan itu keluar tanpa jeda.
Barry mengalihkan pandangannya sejenak, lalu menggeleng pelan.
Ia berdiri.
Seolah percakapan selesai.
Ody langsung bergerak cepat, meraih lengan Barry—tidak keras, tapi cukup untuk menghentikannya.
"Bar..." suaranya lebih pelan sekarang, hampir seperti menahan sesuatu.
"Kamu harus kasih saya konteks. Saya gak bisa terus seperti ini."
Barry menoleh.
Tatapannya turun sekilas ke tangan Ody yang masih memegang lengannya.
Lalu kembali ke wajah Ody.
"Why?" tanyanya singkat.
Ody menarik napas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluh Untuk Pulih
RomanceOdy tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan Noah, senior yang diam-diam dikaguminya sejak SMA. Ody merasa bahagia, seolah mimpinya saat remaja menjadi nyata. Namun, kebahagiaan itu ternyata semu-Noah masih menunggu Nalla, mantan tunangannya yan...
