Chapter 9

232 19 0
                                        

Sudah satu bulan Ody menjabat sebagai General Manager. Tidak mudah, tentu saja. Posisi itu datang dengan tanggung jawab yang lebih besar, keputusan yang lebih cepat, dan sorotan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Banyak pasang mata memperhatikannya—menilai apakah ia benar-benar pantas berada di kursi itu.

Tapi seperti yang Noah katakan,

Ia akan baik-baik saja.

Setidaknya, ia memastikan dirinya terlihat baik-baik saja.

Ia belajar cepat. Membaca laporan sampai larut malam. Datang lebih pagi dari jadwal. Pulang lebih akhir dari kebanyakan orang. Ia menekan rasa lelahnya, mengesampingkan rasa ragu yang sesekali muncul, dan bekerja lebih keras dari biasanya. Ia tahu, di posisi ini, tidak ada ruang untuk terlihat goyah.

Dan ada satu hal yang selalu ia pastikan setiap hari : ia tidak boleh tertinggal dari Barry.

Ritme kerja pria itu cepat. Presisi. Tegas. Tidak memberi ruang untuk kesalahan, apalagi alasan. Setiap instruksi singkat, setiap tatapan tajamnya, setiap revisi tanpa basa-basi—semuanya menuntut standar tinggi yang tidak semua orang mampu ikuti.

Namun sejauh ini, Ody berhasil.

Ia mungkin belum sepenuhnya nyaman, belum sepenuhnya tenang, tetapi ia mampu berdiri sejajar. Mengimbangi langkah Barry tanpa terlihat terseret. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

"Siang ini kamu bisa ikut saya ke branch office?" tanya Barry sambil menutup laptopnya setelah meeting bersama para chief selesai.

Ody hanya mengangguk pelan.

Rahang Barry mengeras tipis.

"Apa?" tanyanya datar.

"Kenapa?" Ody balik bertanya, alisnya terangkat sedikit.

"Saya minta jawaban. Bukan anggukan."

Ody menghela napas pelan, lalu menatap Barry lurus.

"Oh saya mengangguk berarti saya setuju."

Barry menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Ody dengan tatapan dingin yang menusuk.

"Saya gak minta persetujuan kamu."

Nada suaranya rendah, tenang—tapi sinisnya terasa jelas.

Tanpa menunggu balasan, Barry berdiri, merapikan jasnya, lalu melangkah keluar ruangan sambil membawa tablet pc nya.

Ody mendengus kesal.

Please. Ini baru jam sebelas siang dan mood-ku sudah dirusak gara-gara manusia ini, ujar Ody dalam hati.

Ia segera menutup laptopnya dengan sedikit lebih keras dari seharusnya, keluar meeting room dan berjalan menuju lift. Langkahnya terhenti ketika melihat Barry berdiri tak jauh dari sana, sedang berbincang akrab dengan seseorang.

Barry... tertawa.

Bukan senyum tipis sinisnya.

Tapi benar-benar tertawa lepas.

Ody memperhatikan tanpa sadar.

Dengan mata tajam, alis tebal yang tegas, dan warna kulit khas pria Indonesia, Barry sebenarnya terlihat... manis. Terlalu manis untuk sikapnya yang sedingin es.

Semakin mendekat, semakin jelas wajah pria yang berdiri di hadapan Barry.

Noah.

Jantung Ody seketika berdetak lebih cepat. Refleks, ia merapikan rambutnya, menarik napas, lalu berjalan mendekat sambil memeluk laptopnya sedikit lebih erat dari biasanya.

Peluh Untuk PulihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang