Satu bulan telah berlalu sejak malam pernikahan Thalita, tapi Noah masih belum menampakkan batang hidungnya. Ia tak menghubungi Ody, tak mengirim pesan, bahkan sekedar meminta maaf. Baginya, Noah telah meninggalkannya begitu saja, meninggalkan ruang hampa yang sulit diisi. Setiap kali Ody mengingat malam itu—kepergian Noah tanpa penjelasan—dadanya terasa panas, perih, dan sedikit sakit.
Selama sebulan ini, ia belum pernah melihat mobil Noah di basement. Apakah Noah sedang sibuk? Atau sengaja menghindar? Pikiran itu menggelayuti kepala Ody, tapi ia memilih menahan diri untuk tidak mencari tahu—meski rasa penasaran selalu muncul di setiap sudut pikirannya.
"By the way... apa kabar orang yang sudah meninggalkan kamu?" Thalita menepuk ringan bahu Ody sambil tersenyum jahil. Ia membantu Ody berkemas, karena besok Ody akan resmi pindah ke ruang General Manager, sementara Ardit promosi menggantikan posisinya. Ody tersenyum kecut, setengah kesal setengah lega mendengar candaan Thalita.
"I don't know... tapi aku berharap dia baik-baik saja," jawab Ody, suara datar tapi hatinya tetap bergetar.
Thalita mencondongkan tubuh, menatap serius.
"Aku nggak menyangka Pak Noah bisa meninggalkan kamu begitu saja, Dy. Sepertinya dia bukan tipe pria sejahat itu. Pasti ada sesuatu yang mendesak—sesuatu yang membuat dia harus pergi tanpa memberi alasan. Tapi kalau penasaran...ya, cuma dia yang bisa beri jawaban."
Ody menatap meja kerjanya, jari-jarinya menepuk perlahan permukaan kayu.
"Apa dia belum menemui kamu? Sekedar minta maaf atau..."
"No. No. Dia belum melakukan itu. Bahkan sekedar menghubungi aku untuk minta maaf karena meninggalkan aku begitu saja pun, nggak," jawabnya pelan dengan nada getir.
Hening menyelimuti.
Ody menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa sakit itu tetap tersisa—seperti luka yang tak terlihat tapi terasa di setiap detik.
"Mungkin dia sibuk..." Thalita menatap Ody dari balik meja kerja yang mulai kosong. Tangannya menyelipkan beberapa map ke dalam kotak, tapi matanya tetap tertuju pada sahabatnya itu.
"Ya, maybe," jawab Ody pelan sambil menepuk-nepuk sisi kardus berisi berkasnya.
"Tapi aku gak mau terlalu memikirkan itu. Kalau dia memang serius, dia akan datang... dan meminta maaf. Lagipula ruangan kami cuma beda beberapa lantai."
Thalita mendengus kecil, lalu menyilangkan tangan di dada.
"Ya sure, tapi mata kamu gak bisa bohong, Dy. Kamu benar-benar mengharapkan dia datang."
"Thalita... please..." Ody mendesah, menunduk sambil menata alat tulisnya satu per satu. Jemarinya sedikit gemetar, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Thalita mendekat, menatapnya lembut tapi tajam.
"I know you love him, Dy. I can see it in your eyes. Semuanya berbeda malam itu—malam pernikahanku. Kamu datang bersama Pak Noah, kamu bahkan terlihat jauh lebih bahagia dari biasanya. Kamu gak perlu menyangkal apa pun lagi, okay?"
Ody berhenti bergerak.
Ia menatap Thalita sekilas, bibirnya membentuk senyum samar yang sulit diartikan. Aku mencintai Noah? gumamnya lirih dalam hati, ia sendiri tidak tahu. Mungkin benar, mungkin juga hanya kebingungan yang perlahan tumbuh jadi rasa. Sudah lama sekali ia tidak merasakan debar seperti itu, tapi apakah perasaanku begitu jelas sampai-sampai Thalita bisa membaca hanya dari sorot mata?
Suara notifikasi ponsel memecah keheningan kecil di antara mereka. Thalita melirik jam tangannya.
"Dovi udah jemput aku di lobby, Bye, honey. See you. Honestly, aku sedih kamu harus pindah ruangan. Tapi besok aku akan mampir ke ruang GM, janji !"
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluh Untuk Pulih
RomanceOdy tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan Noah, senior yang diam-diam dikaguminya sejak SMA. Ody merasa bahagia, seolah mimpinya saat remaja menjadi nyata. Namun, kebahagiaan itu ternyata semu-Noah masih menunggu Nalla, mantan tunangannya yan...
