"Apa kamu akan pergi ke dokter hari ini?"
Ody menghampiri Noah yang sedang berdiri menikmati udara pagi dari balkon. Ya, udaranya begitu segar dengan matahari yang bersinar cerah dan awan putih yang berarak di langit biru muda. Noah menengokkan kepalanya ke arah Ody sambil tersenyum.
"Untuk apa?"
"Ya, untuk memeriksa keadaan kamu karena wajah kamu masih terlihat pucat."
"Oh ya? Tapi ini lebih baik daripada mata kamu yang masih sembab." Noah terkekeh sambil menilik Ody, seketika Ody menyentuh kelopak matanya sambil tersenyum malu.
"Okay..."
"Saya sudah sehat berkat dokter Cloudyra."
"Hmmmm whatever, tapi lebih baik kamu menemui dokter karena sepertinya sesak nafas kamu semalam..."
"Oh that's okay...saya sering mengalami itu."
"Really? Sejak kapan?"
"Sudah lama, bahkan sebelum mengenal kamu. Itu bisa terjadi secara tiba-tiba, jika saya sedang stress atau tubuh saya kurang fit."
"Oh....saya gak tahu tentang ini."
"Ya...saya lupa menceritakan ini karena sepertinya sesak nafas saya jarang kambuh saat bersama kamu."
"Hmmm...bagaimana bisa?"
"Bisa...karena setiap kali bersama kamu segala macam stress dalam diri saya seketika hilang."
"Even semalam saya benar-benar membuat kamu stress bahkan frustrasi?"
"Maka dari itu, sesak nafas saya tiba-tiba kambuh." Noah melirik Ody sambil mengulum senyumnya, sementara Ody langsung memberengut.
"Jadi kamu menyalahkan saya?"
"Saya gak berkata seperti itu, Dy."
"Whatever." Ody membuang wajahnya sementara Noah langsung mengusap kepala Ody sambil tersenyum.
"Kamu yang membuat kambuh tapi kamu juga yang mengobati saya, thank you." Noah menggoda Ody sambil menaik turunkan alisnya. Ody diam dan hanya menjawab dengan sebuah lirikan seraya Noah tersenyum padanya.
Ody memejamkan mata sambil menikmati angin segar pukul 9 pagi, sementara Noah memandanginya sambil tak henti tersenyum. Noah mulai berpikir untuk berkata jujur bahwa dirinya sudah mengetahui pemasalahan Ody dengan Maminya.
"Dy...saya minta maaf karena sebenarnya... kemarin Mami menghubungi saya, menceritakan semuanya dan meminta saya untuk mencari kamu." Noah berkata pelan, berharap Ody tidak marah ataupun kesal padanya. Ody tersenyum sambil menengadahkan kepalanya, menatap Noah lekat-lekat.
"It's okay...saya sudah menduga itu sebelumnya."
"Really? Saya memang gak jago berakting."
"Don't give up your day job." Ody berkata datar sambil terkekeh, Noah yang merasa tersinggung langsung menarik Ody kedalam dekapannya dengan gemas. Ody tertawa seraya meronta minta di lepaskan.
"Oh stop it !" Ody masih meronta hingga akhirnya Noah menyerah dan membebaskan Ody. Noah tertawa seraya mengusap kepala Ody dengan penuh kasih sayang.
"Besok kamu kembali ke Sydney?"
"Hmmm, besok sore, kapan kamu kembali ke New York?"
"Bulan depan, saya sengaja ingin menghabiskan waktu saya disini."
"Hmmmmm..." Ody mengangguk mengerti sambil tersenyum kecil pada Noah. Selanjutnya, Ody sibuk mengedarkan pandangannya ke setiap sudut yang bisa ditangkap matanya. Ody lalu kembali memejamkan mata merasakan hembusan angin yang sedikit lebih kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluh Untuk Pulih
RomanceOdy tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan Noah, senior yang diam-diam dikaguminya sejak SMA. Ody merasa bahagia, seolah mimpinya saat remaja menjadi nyata. Namun, kebahagiaan itu ternyata semu-Noah masih menunggu Nalla, mantan tunangannya yan...
