“Barry?”
Suara seorang wanita memanggilnya saat Barry berdiri tepat di depan pintu apartemen Noah. Barry mengernyit, mencoba memastikan apa yang ia dengar barusan benar.
Matanya berkedip sekali, lalu fokus.
She’s Nalla.
Mantan tunangan Noah.
“Masih ingat aku?” wanita itu bertanya lagi, kini berdiri hanya kurang dari satu meter di hadapannya.
Barry mengangguk pelan. Senyum tipis terbit di wajahnya, lebih karena refleks daripada ekspresi tulus yang penuh. Kepalanya masih bekerja keras mencocokkan memori lama dengan sosok di depannya.
“Apa kabar?” Nalla mengulurkan tangan dengan gerakan percaya diri.
Barry menjabat tangannya singkat, tegas, tanpa berlebihan.
“Baik.” Ia menjawab datar.
“Kamu… Nalla, kan?”
Nalla tertawa kecil, ringan dan tanpa beban.
“Ya, Nalla. Lama banget ya, kita gak ketemu… sekitar tujuh atau hampir delapan tahun?”
“Ya.” Barry mengangguk sekali, singkat.
Matanya tidak lepas dari wajah Nalla—menganalisis, mengamati, menyusun ulang potongan informasi yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tanpa ragu, Nalla menekan kode akses di pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dengan bunyi klik halus.
Barry langsung menatapnya.
Kali ini, jelas terkejut.
“Noah lagi ada urusan sebentar. Ayo masuk,”
ucap Nalla santai, seolah semuanya normal.
Barry tidak langsung bergerak, hanya menimbang situasi sepersekian detik sebelum akhirnya melangkah masuk dengan sikap yang tetap terjaga—tenang, tapi waspada.
Di dalam, Nalla berjalan lebih dulu tanpa canggung, langsung mengambil kendali suasana.
“Noah gak lama. Dia cuma cek mobilnya ke bengkel sebentar. Kamu buru-buru?”
Nada suaranya ringan, nyaris seperti tuan rumah yang sudah terbiasa menerima tamu.
Barry mengamati sekeliling apartemen sebelum menjawab.
"Nggak.”
Nalla mengangguk puas, lalu menyodorkan sekaleng minuman dingin ke arah Barry dan duduk dengan posisi rileks di seberangnya.
“Good.”
Senyumnya tetap terjaga—hangat, terbuka, dan percaya diri.
Barry menerima minuman itu tanpa banyak reaksi.
“Thank you.”
Nalla lalu berdiri dan mulai merapikan beberapa barang Noah yang berserakan di meja living room. Gerakannya cepat, terstruktur, dan tanpa ragu—seperti seseorang yang sudah sangat familiar dengan tempat itu.
Barry memperhatikan.
Tatapannya sedikit mengerut.
Nalla tidak hanya terlihat nyaman di sini.
Dia terlihat… terbiasa.
Barry tidak berkata apa-apa, tapi pikirannya mulai menarik kesimpulan sendiri, diam-diam menimbang hubungan antara Noah dan Nalla—dan implikasinya terhadap Ody.
“La, sorry to say—” Barry menghentikan sejenak ucapannya, memilih kata dengan hati-hati,
“tapi… kamu ke mana saja selama ini?”
Nalla tersenyum tipis menanggapi pertanyaan itu. Ia kemudian duduk kembali di hadapan
Barry dengan gerakan santai, seolah pertanyaan itu bukan hal yang berat untuk dijawab.
“Ayahku sakit parah, jadi kami sekeluarga memutuskan untuk menetap di Tokyo,” jelas
Nalla dengan nada yang sedikit melambat. Tatapannya sempat turun sesaat sebelum kembali menatap Barry.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluh Untuk Pulih
RomanceOdy tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan Noah, senior yang diam-diam dikaguminya sejak SMA. Ody merasa bahagia, seolah mimpinya saat remaja menjadi nyata. Namun, kebahagiaan itu ternyata semu-Noah masih menunggu Nalla, mantan tunangannya yan...
