"Hai, masuk..."
Ody bergeser selangkah, memberi ruang bagi Noah untuk masuk. Rambutnya diikat asal, wajahnya tampak pucat namun masih berusaha tersenyum seolah ingin meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal kepalanya masih berdenyut, sisa serangan migrain yang membuatnya membatalkan dinner malam ini.
Noah melangkah pelan ke dalam apartemen tipe loft itu. Ruangannya rapi dan hangat — dominan putih dengan sentuhan pastel di beberapa sudut, seperti cerminan kepribadian Ody: tenang, sederhana, tapi berkarakter. Pandangan Noah sempat tertahan pada Ody yang berjalan ke arah pantry. Gerakannya pelan, tampak berusaha menutupi rasa pusing yang masih tersisa.
"Silakan duduk. Maaf ya, agak berantakan...saya belum sempat berbenah." Suaranya lembut, sedikit serak. Noah menoleh padanya, lalu tersenyum kecil.
"Ini sangat rapi dan nyaman, Ody."
Nada suaranya terdengar tulus, membuat Ody refleks menunduk malu sambil merapikan poni di pelipisnya.
"Kamu mau minum apa? Kopi, teh, atau..."
Noah mengangkat tangannya pelan, menghentikan.
"Air putih saja. Kamu kelihatan belum sepenuhnya pulih, Dy. Duduk dulu, biar saya yang ambil."
Nada suaranya lembut, tapi cukup dalam untuk membuat Ody berhenti bergerak. Tatapan Noah begitu tenang — campuran antara perhatian dan ketegasan yang sulit ditolak. Sekilas Ody ingin menolak dengan sopan, tapi tubuhnya sudah lebih dulu menyerah. Ia akhirnya mengangguk pelan dan menuruti, melangkah ke sofa dengan langkah ringan tapi lelah.
Dari tempatnya duduk, Ody memperhatikan Noah berjalan ke arah kitchen bar. Gerakannya tenang, penuh kehati-hatian seolah ia sudah terbiasa berada di sana. Noah mengambil mug berwarna tosca yang tergantung manis di kitchen bar, lalu membuka lemari es dan menuang air ke dalamnya dengan perlahan. Semua gerak itu tampak sederhana, tapi bagi Ody — terasa begitu akrab dan menenangkan, seperti ada kedamaian kecil yang ikut mengalir di setiap gerakan Noah.
"Saya buatkan teh, ya?"
Ucap Noah lembut dari arah dapur, menatap Ody yang duduk bersandar di sofa. Wajahnya tampak pucat, tapi tetap berusaha tersenyum.
Ody mengangguk pelan.
"Thanks before."
Beberapa menit kemudian, aroma teh chamomile hangat memenuhi ruangan. Noah kembali dengan langkah tenang, membawa mug berwarna pink dengan gambar daun kecil di sisi kanan.
"Ini, hati-hati panas." katanya sambil menyerahkan teh itu.
Ujung jari mereka bersentuhan — ringan, sekejap, tapi cukup untuk membuat Ody menahan napas tanpa sadar.
"Terima kasih," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Noah tidak langsung kembali ke sofa seberang. Ia justru duduk di sisi Ody, menyisakan sedikit jarak di antara mereka — cukup untuk tetap sopan, tapi cukup dekat untuk membuat udara terasa berbeda.
"Apa kepala kamu masih migrain?" tanyanya lembut, sedikit mencondongkan tubuh agar bisa melihat wajah Ody lebih jelas.
"Masih... tapi lebih baik." jawab Ody, menatap permukaan teh yang beruap di tangannya.
Noah mengangguk pelan, jemarinya menggenggam lutut sendiri.
"Kamu harus istirahat, Dy. Dunia akan baik-baik saja meski kamu berhenti sebentar."
Nada suaranya terdengar pelan tapi dalam, seolah menyentuh sesuatu di dalam diri Ody yang selama ini ia tutupi dengan sibuk.
Ody menoleh perlahan. Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata, hanya keheningan yang sarat — hangat, jujur, dan entah kenapa membuat dada terasa sesak sekaligus nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluh Untuk Pulih
RomanceOdy tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan Noah, senior yang diam-diam dikaguminya sejak SMA. Ody merasa bahagia, seolah mimpinya saat remaja menjadi nyata. Namun, kebahagiaan itu ternyata semu-Noah masih menunggu Nalla, mantan tunangannya yan...
