- Gerald's Affair - 0 chance to be with Allura?

159 4 0
                                        

Gerald berjalan menjauhi kediaman Allura dan kedua putri kecilnya. Kata-kata menohok Allura terus terngiang-ngiang di telinganya, "anak kita telah lama mati, wanita yang sangat kau cintai yang telah membunuhnya, kau tahu kenyataan pahit itu sejak lama tapi kau malah membelanya karena pada saat itu ia sedang hamil anak yang sangat kau damba-dambakan. Kau membuangku, kau mencampakkanku".

Ia berhenti dan kembali menoleh ke arah rumah sederhana itu,

Rumah biasa yang bersahaja di tengah temaram malam, jauh dari kemewahan istana yang ia miliki. Tempat di mana Allura membangun kehidupan baru bersama Abby dan Jill—dua bocah menggemaskan yang barusan membuatnya tertawa, sekaligus membuat hatinya tercabik-cabik oleh keraguan mendalam. Dada Gerald terasa begitu sesak. Pengakuan Allura bagaikan sembilu yang menguliti kesombongan dan benteng pertahanannya selama bertahun-tahun.
Ingatan kelam yang berusaha ia kubur rapat-rapat mendadak mencuat kembali tanpa ampun.

Gerald ingat betul hari penuh darah beberapa tahun lalu itu. Saat Celine—istrinya yang selalu membenci Allura karena perselingkuhannya dengan Gerald—melampiaskan amarah dengan menganiaya Allura yang tengah mengandung anak kembarnya. Siksaan jahat itu memaksa salah satu dari bayi kembar di dalam rahim Allura gugur. Gerald masih ingat bagaimana Allura menangis histeris, meratapi satu nyawanya yang melayang.

Namun, demi melindungi Celine yang saat itu juga sedang mengandung calon ahli waris yang sangat ia damba-dambakan, Gerald membutakan mata. Ia menulikan telinga dari jeritan keadilan Allura, membelanya, dan justru membuang wanita itu di titik terendahnya. Ia membiarkan Allura sendirian berjuang mempertahankan satu janin lain yang berhasil selamat dari tragedi berdarah tersebut.

Gerald mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, meremas kuat amplop berisi foto pernikahan yang barusan diberikan Allura.
Apakah foto ini benar-benar asli? Apakah pria asing di sebelah Allura ini adalah suami barunya?
Akal sehat Gerald menolak percaya. Hatinya yang hancur berkeping-keping berontak. Tatapan mata biru laut Allura ketika menyodorkan foto itu memancarkan kilatan emosi yang terlalu hebat—sebuah benteng pertahanan yang sengaja didirikan untuk mengusirnya.

"Tidak..." bisik Gerald parau, suaranya tersangkut di tenggorokan dan hilang diterpa angin malam.

"Anak itu... Jill atau Abby... salah satu dari mereka pasti anakku yang selamat."
Gerald memejamkan mata erat-erat. Wajah ceria Abby yang tadi menawarkan diri membuatkan 'anak baru dari adonan terigu', serta wajah judes Jill yang begitu protektif mempertahankan kamar ibunya, terbayang jelas di benaknya. Tatapan mata dan gestur mereka... Gerald merasa ada benang merah yang tak terputus di sana.

"Kalau kau pikir foto ini bisa membuatku menyerah dan pergi begitu saja, kau salah besar, Allura," gumam Gerald dengan napas memburu.

Penyesalan yang menggerogoti jiwanya kini berbaur dengan tekad liar yang membakar dada.
Gerald membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya menuju mobil yang terparkir jauh di ujung jalan. Ia tahu ia telah menorehkan luka yang tak termaafkan pada wanita yang pernah merebut hatinya itu. Namun, jika Allura berbohong demi melindunginya dari kenyataan, Gerald bersumpah akan membongkar kebohongan itu—apa pun taruhannya.

Pria itu merogoh ponsel di saku jasnya, menekan satu nomor kepercayaan dengan jemari yang menegang. "Cari tahu semua hal tentang pria di foto ini," perintah Gerald dingin begitu panggilan terhubung, suaranya penuh penekanan yang tak bantah. "Dan dapatkan sampel DNA kedua anak Allura. Sekarang."

Layar ponsel Gerald meredup seiring panggilan teleponnya terputus. Ia menyandarkan punggung pada kursi kemudi, menatap kosong ke arah kegelapan jalanan yang sepi. Angin malam bertiup makin kencang, menggoyangkan dedaunan di sekitar rumah sederhana Allura yang samar-samar terlihat dari kejauhan.

Di dalam rumah itu, Allura berdiri terpaku di balik pintu kayu yang baru saja ia banting. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang hampir saja membobol pertahanannya di depan Gerald. Jemarinya yang menempel di pintu terasa dingin dan bergetar hebat.

"Mom?" Suara lembut Jill memecah keheningan rumah. Allura buru-buru mengusap sudut matanya yang basah sebelum membalikkan badan, memaksakan sebuah senyuman tipis untuk putri kecilnya yang berdiri tak jauh dari sana dengan raut wajah cemas.

"Jill... kenapa belum tidur, Sayang?" tanya Allura pelan, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil.

"Uncle tampan pangeran berkuda sudah pergi, Mom?" timpal Abby yang tiba-tiba muncul dari balik kamar, sambil mengucek matanya yang terkulai mengantuk namun masih diliputi rasa penasaran. "Kenapa dia tidak pamitan dulu pada Abby?" Allura berlutut, merengkuh kedua putri kecilnya ke dalam pelukan hangat. Bau harum khas anak-anak itu perlahan menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.

"Uncle Gerald sudah pulang, Nak. Dia... pasti sibuk dengan urusan penting," bisik Allura, mencium puncak kepala mereka satu per satu. Urusan yang tidak boleh lagi menyentuh kehidupan kita, tambahnya dalam hati.

Abby menatap ibunya dengan tatapan penuh selidik yang terlalu dewasa untuk bocah seusianya. "Mom menangis ya? Karena Uncle jahat itu?"

"Tidak, Sayang. Mom tidak apa-apa, cuma sedikit lelah," bohong Allura. Ia tidak ingin menyebarkan kebencian pada buah hatinya, meskipun kenyataan pahit bahwa Abby—putri yang selamat dari tragedi penganiayaan Celine—berdiri tepat di depannya tanpa tahu siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.

Saat itu, Allura harus merasakan pedihnya kehilangan salah satu bayinya dan hanya satu yang berhasil diselamatkan dengan keajaiban tuhan. Sedangkan Jill adalah anak piatu dari sahabat Allura yang diperlakukan sebagai putri kandungnya sendiri, Jill tumbuh bersama abby hingga tak terpisahkan bagai saudara kembar.

Bagi Allura, kedua putri ini adalah alasannya untuk tetap bernapas. Dan ia tak akan pernah membiarkan Gerald atau kekuasaannya merenggut kebahagiaan mereka lagi.

Sementara itu, di dalam mobil mewahnya yang terparkir di bawah naungan pohon rindang tak jauh dari rumah Allura, Gerald tak kunjung menjalankan mesin. Pria itu menatap tajam amplop di tangannya. Ia mengeluarkan kembali lembaran foto pernikahan yang disodorkan Allura. Dalam pendar cahaya yang remang-remang, Gerald mengamati setiap inci foto tersebut. Wajah Allura yang tersenyum cantik berbalut gaun pengantin sederhana bersanding dengan seorang pria berparas tampan namun asing.
"Foto ini terlalu sempurna, Al," gumam Gerald dengan nada penuh keraguan.
Jemarinya meraba permukaan kertas foto itu. Sebagai pria yang terbiasa bertransaksi di dunia bisnis tingkat tinggi dan mengenal berbagai intrik, instingnya mengatakan ada sesuatu yang ganjil. Senyum Allura di foto itu memang tampak nyata, tetapi pandangan matanya kosong—sama seperti tatapan yang ia berikan saat menyerahkan amplop tersebut.

Apakah ini benar-benar foto asli, atau hanya sandiwara untuk mengusirku?
Dada Gerald terasa nyeri berdenyut. Pikiran bahwa Allura mungkin benar-benar telah disentuh dan dimiliki oleh pria lain membuatnya hampir gila oleh rasa cemburu dan penyesalan. Namun, bayangan wajah Abby dan Jill yang memiliki kilat mata dan garis wajah yang familier kembali membakar keyakinannya.

Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan nama asisten kepercayaannya di layar.
"Tuan Gerald," suara di ujung telepon terdengar tegas. "Saya sudah menerima salinan foto yang Anda kirimkan. Tim kami sedang memverifikasi keaslian digitalnya dan melacak identitas pria dalam foto tersebut."

"Berapa lama?" tanya Gerald dingin.

"Maksimal besok pagi kita akan mendapatkan data lengkapnya, Tuan. Mengenai sampel DNA untuk kedua anak itu..." asistennya ragu sejenak, "...area tempat tinggal Nona Allura cukup tertutup. Kita harus bertindak sangat hati-hati agar Nona Allura tidak curiga."

Gerald mengepalkan tangannya di atas lingkar kemudi. "Lakukan dengan cara apa pun, tapi jangan sampai menyakiti atau mengejutkan mereka. Jika sampai ada satu helai rambut mereka yang terluka, kau tahu konsekuensinya."

"Baik, Tuan. Laporan lengkap akan segera dikirimkan."
Panggilan berakhir. Gerald melempar ponselnya ke kursi penumpang dan menyandarkan kepalanya, menatap ke arah jendela rumah Allura yang kini lampunya mulai dipadamkan satu per satu.

"Kau bisa membenciku seumur hidupmu, Allura," bisik Gerald lirih pada kegelapan malam. "Tapi kalau anak-anak itu adalah darah dagingku yang tersisa... aku tidak akan membiarkanmu menyembunyikan mereka dariku lagi."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gerald's Affair [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang