"Lana, ponsel lo bunyi terus, nih," panggil salah satu teman kerja Lana yang jengah mendengar suara dari benda berwarna hitam itu.
Lana yang baru saja mengantarkan pesanan pun berjalan ke arah belakang. Dahinya berkerut kala melihat nama 'Naya' tertera di sana. Tumben sekali sahabatnya itu menelpon di saat jam kerja.
"Halo, Nay?"
"Lana, jemput gue."
Saat itu juga jantung Lana berdegup kencang. Mendengar suara tangis Naya membuatnya panik bukan main. Apa yang terjadi dengan sahabatnya?
"Lo di mana?" tanya Lana sambil melepas afron yang sejak tadi ia gunakan. Tak peduli jika ia kehilangan pekerjaan setelah ini, Naya jauh lebih penting.
"Gue ada di club Ma—
"Bangsat, lo ngapain ke sana, anjing!" maki Lana menghentikan langkahnya. Tangannya pun menggenggam ponsel dengan erat. "Lo bukan cewek nakal yang main ke sembarang tempat, Nayanika!"
"Lana ... gue takut."
"Tunggu gue!"
^•^
Selama Lana hidup, baru kali ini ia menyetir mobil secara ugal-ugalan. Pikirannya tidak henti memikirkan Naya. Jika terjadi sesuatu yang buruk, Lana tidak akan memaafkan dirinya sendiri yang datang terlambat.
"Anjing lo Naya," umpat Lana setelah tiba di area parkir dan turun dari mobil.
Suara dentuman yang sangat keras itu menyambut indra pendengaran Lana. Kedua mata hitamnya menelusuri sekitar. Ia harus membawa Naya ke luar dalam keadaan baik-baik saja.
"Lakuna!"
Samar mendengar namanya dipanggil, Lana mencari dari mana suara itu berasal.
"Naya."
Sungguh, kedua lutut Lana sangat lemas sekarang. Namun ia berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Naya sudah mabuk berat di salah satu meja.
"Naya, lo kenapa?" Lana memegang kedua pergelangan tangan Naya. Bukannya merasa takut, sahabatnya itu justru menangis. Lana semakin kalang kabut dibuatnya.
"Jawab gue, anjing!" bentaknya tak sabaran.
Bukannya segera menjawab, Naya memeluk tubuh Lana sangat erat. "Tadi gue lihat Ibas sama cewek masuk ke salah satu kamar yang ada di sini," ungkapnya membuat Lana terdiam mematung.
Haruskah Lana terkejut?
"Lo udah mabuk berat kayaknya. Ayo, gue antar pulang," ajak Lana menarik tangan sahabatnya. Jujur, ia terkejut mendengar penuturan Naya, tetapi Ibas tidak sejahat itu kan?
Bukankah selama ini Ibas selalu mengungkapkan betapa laki-laki itu mencintai seorang Lakuna? Sangatlah mustahil jika Ibas mengkhianatinya.
"Lana, lo gak percaya sama gue, ya?" Naya menghentikan pergerakan Lana. Menatap sahabatnya dalam. Ia tahu bagaimana Lana sangat mencintai Ibas. Pasti sahabatnya itu tidak mudah percaya. Seolah perkataannya tadi hanya bualan belaka.
Lana tidak menjawab. Ia hanya diam sembari terus berusaha untuk membawa Naya ke luar. Tidak ada Ibas sekarang, Naya harus pergi jauh dari tempat kotor ini.
Cukup Lana saja, Naya jangan.
Cukup Lana yang hancur, Naya tidak boleh.
Juga Ayi.
"IBAS SELINGKUH, LANA!"
Mungkin, Lana adalah perempuan terbodoh dalam mencintai seseorang. Ya, tapi itu berkat Ibas yang berhasil membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Teen FictionSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)