Satu kebiasaan Lana yang sangat sulit dihilangkan. Ia selalu lupa untuk mengisi teko airnya. Hingga tengah malam ia kehausan dan harus mengisi tekonya ke dapur.
"Ternyata, hidup gue segelap rumah ini," gumam Lana menaiki tangga sambil memperhatikan area rumahnya yang sudah gelap. Ia hanya mengandalkan cahaya dari ponsel. Tidak ingin mengganggu anggota keluarga lain yang sudah terlelap.
Prang.
"Anjing!" Pada pijakan anak tangga terakhir, suara pecahan itu terdengar begitu jelas. Saking terkejutnya, Lana tidak hanya mengumpat, air yang berada di dalam tekonya pun tumpah sebagian.
Tampaknya suara pecahan itu berasal dari kamar Nada. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi, kaki Lana melangkah begitu saja ke arah pintu yang berada tepat di samping kamarnya.
"Ngapain, sih, dia?" Entah keberuntungan dari mana, pintu kamar Nada tidak tertutup sepenuhnya. Memudahkan Lana untuk bisa sedikit melihat melalui cela yang tersisa.
Kedua netra Lana melihat Nada yang duduk di lantai dalam keadaan tubuh yang bergetar. Adik tirinya itu tampak kesulitan membuka laci nakasnya. Keningnya berkerut dalam kala Nada yang menelan beberapa pil. Selang beberapa detik, Nada memejamkan matanya seolah mendapatkan ketenangan.
"Dia minum obat?"
^•^
Baru saja ingin menuju garasi, Lana dikejutkan dengan kehadiran Ibas di depan rumahnya. Batinnya bertanya-tanya, sejak kapan laki-laki itu ada di sini?
"Pagi, sayang," sapanya seolah tak ada apa-apa. Ibas berjalan mendekat, memegang lengan Lana. "Maaf karena aku gak sempat jenguk kamu kemarin," sambungnya memasang wajah sedih.
"Kenapa?" Lana tidak ingin gengsi, sebab dirinya juga penasaran.
Terdengar suara dehaman dari Ibas. "Aku harus belajar bareng sama Naya, Na. Kamu tahu, kan, dua minggu lagi perlombaan itu dimulai?"
"Sibuk banget, ternyata. Sampai gak tersisa satu menit pun buat lihat keadaan aku?"
Mungkin, jika tidak ada sesuatu yang menimpa Lana, ia akan biasa saja. Akan tetapi, ini bukan hanya tentang jenguk atau tidak, lebih tepatnya, tentang prioritas! Lana sangat benci jika dirinya dijadikan nomor dua atau menyedihkannya lagi sebagai orang terakhir.
"Bukannya kemarin kamu yang maksa aku buat ikut? Kenapa sekarang kamu yang marah-marah, sih, Na?" Ibas tak terima jika dirinya seolah tampak brengsek di mata Lana. Sebab yang ia lakukan adalah sebagian yang diinginkan oleh kekasihnya. "Masalah gak jenguk? Aku juga punya kesibukan lain. Persiapan buat lomba itu gak main-main ternyata. Bu Andin benar-benar ketat dua hari kemarin."
Ah, begitu. Harusnya, sejak awal Lana sudah mengetahui konsekuensi ini jika mengizinkan Ibas untuk mengikuti lomba tersebut. Salah satunya, harus siap jika Ibas tidak punya waktu untuknya.
"Dari pada kita berantem terus. Mending, sekarang kita berangkat sekolah aja," usul Ibas membukakan pintu untuk gadisnya.
"Silakan masuk, Tuan Putrinya Ibas."
Biasanya, jika mendengar itu Lana akan tersenyum atau paling tidak merasa senang. Namun kali ini berbeda. Ia hanya diam dengan wajah datar. Sebab masih ada satu hal lagi yang ingin ia tanyakan. Sebuah kejanggalan yang harus diberi kejelasan.
Selama perjalanan tidak ada suara sedikit pun. Ibas bingung dengan perubahan sang kekasih yang tidak seperti biasanya. Semarah apapun Lana, gadisnya itu selalu melawan gengsi dan egonya hingga Ibas selalu menang.
"Aku ada salah, ya, Na?" Ibas bertanya hati-hati. Sengaja memelankan laju mobil agar bisa lama berbincang dengan Lana. "Kalau aku ada salah, ngomong aja."
"Kenapa kamu lebih peduli sama Naya?" Akhirnya, pertanyaan yang terus tertanam dalam kepalanya meluncur bebas. "Aku yang terluka parah, loh, Bas, tapi kenapa yang kamu tolong dia, bukan aku?"
"Ah, itu. Kamu tahu gak, sih, Na? Ternyata Naya itu sahabat aku waktu SD! Aku baru tahu waktu dia cerita sendiri."
Lana terkejut mendengar fakta baru itu. Ia menatap wajah Ibas yang tampak begitu semangat dan berseri kala menceritakan kisah masa lalunya dengan Naya. Semenyenangkan itu, ya?
"Dulu gak ada yang mau temenan sama gue, kecuali Naya, karena apa? Karena gue gak punya mama. Cuma Naya yang peduli sama gue," papar Ibas menceritakan semuanya tanpa terkecuali. "Awal kenal Naya itu karena dia selalu jadi bahan bully-an anak murid lain. Siapa yang jadi penolongnya? Ak—
"Bisa ganti topik yang lain gak?" Entah mengapa, Lana sangat tidak nyaman mendengar cerita Ibas yang satu ini. "Telinga aku panas dengarnya, Bas. Cerita kamu kali ini kurang menarik."
"Eh, maaf, aku kelepasan," sesal Ibas melirik Lana yang tampaknya semakin badmood. "Bentar lagi kamu ulang tahun, kan?"
Lana tak menjawab. Ia hanya diam dengan kepala yang sengaja disenderkan pada jendela mobil.
"Mau kado apa?" Ibas terus berusaha mencari obrolan menarik, tetapi sepertinya, usaha yang ia lakukan sangat sia-sia. Lana tidak merespon barang satu kata pun.
"Aku akan kasih kamu hadiah yang gak akan pernah kamu lupakan seumur hidup."
Sedikit tertarik, Lana menatap Ibas yang tersenyum penuh arti. "Seumur hidup?"
"Akan terkenang selamanya."
Entah perasaan Lana saja atau tidak, tetapi feeling-nya sangat tidak enak.
Semoga hadiah yang kamu kasih buat aku bahagia, Bas.
^•^
"Lana, lo marah sama gue, ya?" Naya bertanya hati-hati. Sejak jam pertama hingga bel istirahat berbunyi, sahabatnya itu tak mengeluarkan suara sedikit pun. Hingga tersisa mereka bertiga yang ada di dalam kelas.
"Lo pikir aja sendiri, Nay," sindir Ayi menyahut tanpa permisi. Ia melirik Naya sinis sebelum kembali melanjutkan, "siapa yang gak sakit hati kalau lagi di keadaan genting yang diselamatin justru orang lain?"
"Soal itu?" Naya terkekeh pelan. "Gue pingsan, loh. Gue gak minta buat Ibas tolongin gue, tapi dia sendiri yang ngelakuin. Terus, yang salah gue?"
"Sejak kapan lo kenal Ibas?" Sekarang Lana bersuara. Mengetuk jari-jarinya pada meja. "Gue udah tahu kalau ternyata kalian udah kenal lama."
"Udah kenal dari lama?" Ayi membulatkan matanya terkejut. "Ohh, pantas lo kayak lebih aware kalau tentang Ibas."
"Lo kenapa, sih, Ay?" Naya berdiri dari duduknya. Menantang Ayi dengan emosi yang menggebu-gebu. "Kenapa gue selalu disudutin sama lo? Gue terdengar kayak mau rebut Ibas dari Lana, ya—
"Emang!" gertak Ayi maju satu langkah. Ia menunjuk tepat di wajah Naya. Entahlah, emosinya akhir-akhir ini sangat tidak teratur. Ditambah lagi dengan kejadian camping lalu membuatnya naik pitam. Ia tidak terima jika Lana disakiti.
"Lo suka sama Ibas, kan?" Terdengar suara decihan dari mulut Ayi. "Gue gak bego untuk mengartikan tatapan lo ke pacarnya Lana, Naya."
Sedang yang menjadi bahan perdebatan pun hanya diam menyaksikan. Lana hanya diam dengan tangan yang ia silangkan di depan dada. Ingin melihat sejauh apa pertengkaran adu mulut mereka.
"Stop menghakimi gue!" Naya mengacak rambutnya kesal. Dadanya pun naik turun menandakan jika dirinya ikut terbawa emosi. "Lo gak usah sok tahu tentang gue, Ayi! Kalau Ibas lebih milih buat nolongin gue dibanding Lana, itu salah gue?! Atau ...."
Naya menjeda ucapannya. Menatap ke arah Lana dengan lekat.
"... bisa jadi Ibas yang tertarik sama gue."
^•^
Surakarta, 22 Desember 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Ficção AdolescenteSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)