Setelah memikirkannya berulang kali, juga dengan penuh keberanian. Lana akhirnya nekat membeli tes*p*c* di apotek. Tangannya pun bergetar menandakan kecemasan yang berlebihan.
"Bismillah aja, gue mohon jangan," gumam Lana berbicara seorang diri. Ia segera membuka pintu kamar mandi. Untung saja kamar mandinya berada di dalam kamar. Tidak mengundang kecurigaan dari keluarganya.
Selang beberapa menit, Lana akhirnya ke luar dari kamar mandi. Hasil dari pemeriksaannya belum ia lihat. Bahkan, saking takut salah, ia sampai menggunakan lima tes*p*c* sekaligus.
Lana terduduk lemas di samping tempat tidurnya. Ia melirik genggaman tangannya. Mencoba untuk terus meyakinkan diri jika semuanya akan baik-baik saja. Perlahan, Lana membuka genggaman tangannya. Memperlihatkan kelima tes*p*c*.
Deg.
Detik itulah Lana terpaku di tempatnya. Ia menggeleng kuat. Pasti salah, batinnya. Spontan ia melempar benda sialan itu hingga tergeletak di dekat pintu. Jantungnya pun berdegup kencang menandakan ketakutannya. Bagaimana mungkin takdirnya sekejam ini?
Hasilnya positif! Lana hamil.
"Gak! Ini gak mungkin," racau Lana menyembunyikan kepalanya dalam lipatan tangan. Ia gugup setengah mati sekarang. Bagaimana jika Tari dan Darma tahu? Mereka pasti sangat kecewa dengan dirinya.
Tubuhnya perlahan gemetar, Lana dihinggap oleh rasa ketakutan yang berlebih sekarang. Tatapannya tidak pernah beralih dari benda yang ia lempar tadi. Jika terjadi kesalahan, kenapa semua hasilnya sama?
"Tuhan, kenapa berat banget?" Lana menangis tanpa suara. Ia menggigit bibirnya sendiri, takut jika yang lain mendengar tangisnya. "La-lana gak kuat," sambungnya sambil memukul perutnya secara brutal.
Jika yang diposisi Lana sekarang adalah perempuan yang sudah menikah, pasti akan merasa bahagia tak terkira. Namun, yang terjadi justru menimpa Lana. Seorang gadis yang masih sekolah dan sangat muda.
"Ibas, dia harus tanggung jawab," tegas Lana lalu berdiri dari duduknya. Ia meraih semua tes*p*c* dan membuang sebanyak tiga, sedang sisanya akan ia tunjukkan kepada Ibas. Laki-laki itu harus bertanggung jawab. Persetan dengan hubungan mereka yang sebenarnya adalah saudara tiri.
Lana harus menuntut keadilan untuk dirinya. Ah, tidak, untuk anaknya.
^•^
Diam-diam Lana nekat pergi dari rumah. Padahal hari sudah larut dan ternyata di luar sedang hujan deras. Apakah semesta tahu jika dirinya sedang bersedih sekarang?
Setelah sampai di pekarangan rumah Ibas, Lana memarkirkan mobilnya secara asal. Kemudian berjalan mendekati pintu utama. Menekan bel secara brutal dan berulang kali. Ia tidak akan pergi sebelum mendapatkan hasil yang diinginkan. Setidaknya Ibas harus tahu bagaimana keadaannya sekarang setelah aksi bejatnya.
Sungguh, hidup Lana kembali hancur untuk kesekian kalinya.
Bahkan Lana tidak peduli dengan bajunya yang basah kuyup.
Ceklek.
"Kak Lana?" Siren terkejut melihat kehadiran kekasih abangnya. Terlebih dalam keadaan basah kuyup dan datang malam-malam. "Kakak ada perlu apa? Kenapa datangnya malam banget?"
"Di mana abang l—
"Ngapain lo di sini?" Belum sempat Lana menyelesaikan ucapannya. Sosok yang ingin ia temui sudah di depan mata.
Spontan Lana melemparkan tes*p*c* yang dibawanya tepat ke wajah Ibas. Hal itu tidak pernah lepas dari pandangan Siren. Adik dari Ibas itu menatap keduanya bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Teen FictionSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)