09: Luka Itu Membekas

56 5 4
                                        

Bagi Lana, hari-harinya selalu ditimpa oleh kesialan. Seperti pagi ini, mobilnya tiba-tiba saja mogok di tengah jalan. Jarak ke sekolah pun masih sangat jauh.

"Mobil sialan," maki Lana menendang ban mobilnya yang kempes. "Telpon Ibas aja," idenya tersenyum sumringah.

Namun, sepertinya semesta kembali tidak berpihak. Lana membawa ponsel yang sudah kehabisan baterai. Jika sudah begini, apa yang ia harapkan selain pertolongan orang lain?

"Ah, anjing!" Lana mencepol rambutnya asal. Menatap jalanan yang masih tampak sepi. Lagi, Lana kembali berangkat pagi seperti waktu itu.

Lana memilih untuk duduk di pinggir trotoar. Menunggu pengendara lain yang melintas. Siapa tahu ada orang yang berbaik hati untuk menolongnya. Sebab tidaklah mungkin untuk Lana berjalan kaki ke sekolah.

Hingga selang beberapa menit, Lana mendengar suara deru motor yang sangat kencang. Ia berseru senang. Dalam hati terus berdoa semoga saja orang itu adalah orang yang baik. Ia segera berdiri dan sedikit ke arah tengah.

"Stop!" Gila, Lana berdiri tepat di tengah jalan dengan tangan yang direntangkan. Ia bahkan tak merasa takut jika si pengendara menabraknya kalau-kalau tidak sempat menekan rem.

"Lakuna?"

Untunglah, Lana mengucapkan syukur dalam hatinya. Sosok di depannya sekarang adalah laki-laki yang ia kenal. Rawi.

"Ngapain berdiri di tengah jalan?" tanyanya tak santai karena merasa terkejut dengan aksi gila yang baru saja dilakukan Lana. "Kalau mau mati, jangan jadikan orang lain pembunuh," sambungnya menyindir dengan sarkas.

Mau mati? Lana tertawa mendengarnya. "Heh! Gue mau minta tolong, bukan mau bunuh diri."

"Minta tolong?" Rawi mengerutkan dahinya. Ia beralih ke mobil merah milik Lana yang terparkir di pinggir jalan. Tak sengaja matanya menangkap ban mobil yang pecah.

"Naik!"

Wah, impresif! Lana tak perlu mengucapkan kata sepanjang lebar, juga kalimat bujukan yang menjijikkan. Rawi sangat peka sebagai seorang laki-laki.

"Serius, nih?" Bukannya langsung naik, Lana justru mengundur waktu dengan basa-basi yang terlalu hambar.

Terdengar suara decakan dari mulut Rawi. "Gak jadi? Gue tinggal, gue banyak kerjaan dan gak bisa tel—

Belum usai menyelesaikan ucapannya, Lana sudah duduk di jok belakang motornya. "Pegangan kalau mau selamat, gue ngebut soalnya," titahnya yang tidak dipedulikan oleh Lana.

Terserah, Rawi melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Membuat Lana yang tak terbiasa naik motor pun terkejut. Spontan ia memeluk tubuh ketua OSIS itu dengan erat. Kedua matanya pun terpejam rapat. Sungguh, ini lebih bahaya dari tatapan Ibas yang mengerikan kala marah.

Tunggu, Ibas!

Lana sampai lupa jika Ibas bisa saja marah besar saat melihat dirinya berangkat bersama Rawi. Ah, tidak mungkin. Ibas selalu datang lima menit sebelum bel berbunyi. Pasti kekasihnya itu belum tiba di sekolah.

"Pelan-pelan bisa gak, sih? Lo gak ikhlas ya nolongin gue?!" tuduh Lana berteriak kencang agar Rawi mendengar suaranya.

Rawi mendengarnya, tetapi ia enggan menjawab. Kepalanya sedikit tertunduk melihat tangan putih Lana yang melingkar di pinggangnya. Rasanya ada kupu-kupu yang terbang di area perutnya.

Sial!

"RAWI!"

Mendengar rengekan itu seketika kedua sudut bibir Rawi terangkat. Ia tersenyum kecil untuk hal yang sangat sepele.

Love Me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang