Semenjak kejadian menjijikkan itu, Ibas tidak pernah lagi menghubungi Lana. Bahkan saat di sekolah pun Lana tidak pernah melihat kehadirannya. Ah, bukan tidak melihat, tetapi mungkin Ibas yang menghindar darinya.
Semua keadaan mulai berubah secara perlahan. Lana seolah kembali hidup seorang diri—tanpa Ibas. Sengaja Lana berjalan ke arah kelas Ibas. Mencoba untuk bertemu langsung dan membicarakan semuanya.
"Ada Ibas?" Lana bertanya sambil berjinjit guna melihat isi kelas. Melihat gelengan kepala dari lawan bicaranya membuat Lana membuang napas kasar.
"Oke, thanks." Sampai kapan Ibas mau menghindarinya? Lana tidak bisa untuk berpura-pura jika hari ulang tahunnya kemarin tidak pernah terjadi. Nyatanya, setiap malam ia selalu memimpikan kejadian buruk itu.
Tak sengaja melewati taman, kedua netra Lana melihat sosok yang selama ini ia cari. Saat berjalan lebih dekat, ia mengepalkan kedua tangannya. Sialnya, kala Lana berusaha mati-matian untuk melupakan kejadian itu, Ibas justru asik bersama perempuan lain yang nyatanya adalah sahabatnya sendiri, Naya.
"Jadi, lo sembunyi di sini selama ini?" Lana datang dengan kedua tangan yang dilipat depan dada. Menatap sinis ke arah Naya. "Bangun, gue mau ngomong," titahnya pada Ibas.
Ibas tidak merespon, ia justru asik menyuapi Naya. Bekal yang dibawa oleh perempuan itu sangatlah enak. Nasi goreng seafood—kesukaannya.
"Basupati," panggil Lana mencoba menahan sabar. Menarik lengan kekasihnya sedikit kasar. "Udah baik gue gak lapor perbuatan buruk lo kemarin ke siapa-siapa, tapi lo malah asik sama perempuan lain?!"
"Apalagi, sih?!" bentak Ibas menghempaskan tangan Lana lebih kasar. Sebelumnya, ia melirik Naya yang menatap mereka bingung. Ia sedikit menggeram. Kesal melihat kehadiran Lana yang mengganggu acara makan siang mereka.
Beberapa detik kemudian, Ibas memilih untuk menarik Lana ke sudut kiri taman. Mengurung kekasihnya, lalu mencengkeram dagunya. Terdengar ringisan dari bibir mungil Lana.
"Lo udah rusak, gue gak butuh lagi!" maki Ibas tertawa sinis mengingat malam itu. "Balas dendam gue akhirnya terbayar lunas. Gue berhasil menjalankan peran yang baik sebagai pacar dari anak selingkuhan nyokap gue."
Deg.
Lana terdiam di tempatnya. Menatap Ibas dengan dahi yang berkerut dalam. Balas dendam? Anak selingkuhan nyokap? Sungguh, demi apapun Lana tidak mengerti apa arti dari ucapan Ibas.
"Maksud lo apa?" tanya Lana mencoba untuk memahami segalanya meski sulit. Jadi, jangan bilang jika selama ini?
Terdengar suara kekehan dari Ibas. "Lo itu cewek terbodoh, Na. Seburuk-buruknya gue, gue masih mau punya cewek yang baik, bukan liar kayak lo. Lo pikir cinta gue nyata? Nggak!"
Cengkeraman itu semakin kuat. Lana sampai meneteskan air matanya saking tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Perlahan, tangan kanan Ibas menjalar ke arah kepala. Menarik rambut Lana hingga kepalanya mendongak.
"Bas, gue masih gak ngerti sama semua ucapan lo. Lo lagi mabuk, ya?"
Bodohnya, Lana masih mengira jika semua perkataan Ibas tidaklah benar. Kekasihnya itu pasti melantur.
"Lo mau tahu siapa yang jadi selingkuhan nyokap gue? Siapa yang buat bokap gue depresi sampai harus dirawat di rumah sakit jiwa?"
Terlihat Ibas yang mengeraskan rahangnya. Menatap Lana penuh kebencian, tidak ada lagi tatapan cinta, apalagi memuja seperti yang Lana lihat dulu.
"PAPA LO SIALAN!"
Mendengar teriakan itu Lana terkesiap. Jantungnya berdegup kencang seiring fakta yang baru saja diungkapkan Ibas.
"Gara-gara bokap lo, keluarga gue hancur. Gak ada lagi tawa bahagia di keluarga gue, Na!"
"Bas," lirih Lana tak tahu ingin mengucapkan apa, sebab kenyataan baru ini berhasil menjatuhkannya ke jurang yang begitu dalam. Lagi, kenapa semesta mengujinya dengan takdir yang begitu kejam?
"APA?!" Ibas berteriak di hadapan Lana. "Gue udah puas, Na. Rencana gue berjalan lancar dan berhasil sampai finish. Bukannya kebaikan dibalas kebaikan? Begitu juga dengan kehancuran, akan gue balas dengan adil. Kalau bisa, gue mau lo sampai masuk rumah sakit jiwa juga seperti bokap gue."
Lana menggeleng kuat. Tidak peduli dengan air mata yang sudah mengalir deras. Ia menatap Ibas dengan sendu. Jadi, selama ini semuanya hanya sebatas sandiwara? Senyuman Ibas, kasih sayangnya, perhatiannya, bahkan kata cinta yang sering diucapkan itu hanya sebatas kebohongan?
"TAPI KENAPA HARUS GUE ANJING?!" Lana memukul dada bidang Ibas guna melampiaskan emosinya. Kenapa harus dirinya? Kenapa harus Lana yang menderita akibat perbuatan sang ayah? Kenapa juga Ibas sampai berbuat sejauh ini?
"Gak ada alasan yang lebih logis, karena lo adalah anak dia. Simpel, kan?"
Simpel? Lana tersenyum kecut mendengarnya. "Kehormatan gue udah lo ambil, anjing! Dan lo masih sempat bilang kalau itu semua sebatas simpel? Gue hancur karena lo, Ibas!"
"Itu bukan salah gue, salah lo aja yang kegatelan," bantah Ibas membuang pandangannya ke arah lain. Tak ada rasa kasihan, apalagi menyesal atas perbuatan bejatnya. Ibas benar-benar buta dengan dendam yang ia ciptakan sendiri.
"Brengsek!" Lana memaki Ibas. Menatapnya dengan tajam. "Gue akan lapor kejadian itu ke pihak kepolisi—
"Gue punya videonya."
Telak.
Jiwa Lana seakan ditarik paksa saat itu juga. Ia menatap Ibas dengan tatapan tak percaya. Ibas sebenci itu dengannya?
"Gue juga ada foto-foto seksi lo yang makin memperkuat kalau lo yang ada di video itu."
"ANJING!"
Bolehkah Lana memaki Ibas dengan semua kata kasar yang ada? Ia ingin mati sekarang juga!
"Lo belum puas setelah renggut mahkota gue?" Lana menangis dengan suara tertahan. Kepalanya pening memikirkan cara untuk menghapus semua video dan foto itu. "Kenapa lo bisa setega ini, sih, Bas? Yang ngelakuin bokap gue, bukan gue, kenapa lo balasnya sama gue, sih?!"
"Udahlah, lo juga bersenang-senang malam itu, gak usah jadi cewek yang sok suci!" hina Ibas semakin membuat Lana frustasi. "Ahh, kemarin gue keluarnya di dalam, ya? Sorry, gue kelepasan. Habisnya, yang gue bayangin malam itu adalah Naya, bukan lo."
Tuhan, bolehkah Lana pulang sendiri tanpa dijemput? Ia ingin menghilang dari semua rasa sakit yang membunuhnya. Semua perkataan dan fakta yang dilontarkan Ibas hari ini berhasil membunuhnya secara perlahan.
"Kalau gue hamil, lo mau tanggung jawab, kan, Bas?" tanya Lana penuh harap. "Gue bisa maafin lo atas kejadian kemarin, gue gak bakal lapor ke siapa-siapa, kok, tapi kalau gue hamil, lo bersedia buat tangg—
"Jangan harap!" Ibas lebih dulu mencela. Menatap Lana dengan remeh. "Gue sukanya sama Naya, bukan lo. Gak usah berharap jadi peran utama di cerita ini, Na. Nyatanya, lo cuma orang kedua yang kebetulan hadir karena masa lalu gue."
Usai mengatakan itu, Ibas segera beranjak pergi meninggalkan area taman. Semua dendamnya telah terbayar tuntas. Ibas puas akan semua rencananya.
"Ibas," panggil Lana yang tidak dipedulikan. Ia terduduk lesu di taman. Memukul kepalanya berulang kali, berusaha menghilangkan semua memori yang terjadi di malam ulang tahunnya.
"Na."
Lana mendongak, menatap Naya yang berdiri tidak jauh dari posisinya. Ia membuang pandangannya ke arah lain. Jujur, Lana tidak menyalahkan Naya sebab semuanya terjadi karena kebodohan Lana dan keiblisan Ibas dalam membalas dendamnya.
"Kalian kenapa? Ribut?"
Untungnya, Naya tidak mendengar semua percakapan mereka.
^•^
Surakarta, 02 Januari 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Novela JuvenilSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)