"Ulang tahun sekolah dibuat acara camping?"
Ayi bertanya memastikan pada Naya sebagai wakil ketua OSIS. Semua murid SMA Merah Putih berseru senang karena festival ulang tahun sekolah tahun ini berbeda dari sebelumnya.
"Iya, acaranya berlangsung selama tiga hari," jelas Naya yang selalu tersenyum di situasi apapun. "Kalian pasti ikut, kan?"
"Kalau gue pasti ikut. Kan, gak ada yang larang juga." Ayi tertawa hambar karena perkataannya sendiri. Sejak SMP kelas dua, ia sudah belajar mandiri dengan tinggal di apartemen pemberian sang ayah. Namun, itu juga menjadi alasan dirinya yang diasingkan dari keluarganya.
"Jangan gitu, dong. Ada kita, kok," ujar Naya yang mengerti dengan maksud perkataan Ayi. "Kalau lo gimana, Na? Pasti ikut kan?"
Lana menggeleng acuh, tetapi sedetik kemudian tersenyum misterius. "Kalau pun gak dikasih izin sama mama, gue tinggal minta izin aja sama ayah."
"Iya, yang orang tuanya ada empat," ejek Naya tanpa sadar keceplosan. Bukannya merasa tak enak hati, ia justru tertawa kencang setelahnya. Seolah ucapannya barusan adalah lelucon.
Jangan salahkan Naya juga, karena Lana ikut tertawa mendengarnya. "Benar, lo gak salah. Jadi, gue banyak dapat pemasukan, deh."
"Nay, lain kali ucapan lo dijaga," tegur Ayi menampilkan wajah serius. Di antara mereka bertiga, hanya dirinya yang tidak ikut menertawai ucapan Naya. Baginya, itu bukanlah kalimat yang bisa dijadikan lelucon.
Seketika Naya menghentikan tawanya, lalu berdeham. "Maaf, Na. Gue gak maksud singgung keluarga lo," sesalnya yang berubah menjadi sedih.
"Santai kalau sama gue." Lana tersenyum masam. Meski begitu, ada terselip sedikit rasa sakit saat mendengar ucapan Naya. Namun, ia yakin jika sahabatnya tak bermaksud apa-apa.
"Jadi, kapan kita mau beli barang buat camping nanti?"
^•^
Tidak ada yang lebih indah dari hidup seorang Lana selain waktunya bersama Ibas. Genggaman tangan mereka tidak pernah dilepas sejak Ibas menjemputnya di kelas tadi.
Baru saja Ibas ingin membuka pintu mobil untuk Lana. Tiba-tiba saja ada suara yang tak asing memanggilnya keras.
"IBAS!"
Keduanya menoleh ke belakang. Menatap Naya yang berlari mendekat. Ada apa? Batin keduanya saling bertatap.
"Ibas, hari ini kita harus belajar bareng," ucap Naya dengan nafas yang tersengal. Ia sedikit kelelahan karena mengejar langkah mereka yang begitu cepat. "Kemarin kan gak jadi, gue udah tunggu lo tiga jam," sambungnya menatap Ibas kesal.
"Ah, sorry, Nay. Waktu itu gue sama Ibas ada janjian ke suatu tempa—
"Dia pergi sama lo?!" Naya membulatkan kedua bola matanya. "Kok, lo gak bilang, sih, Na? Gue berjam-jam nungguin Ibas karena mikir bisa aja dia datangnya telat, tapi kalian malah asik pergi jalan-jalan?"
Wah, Naya jelas tidak terima dengan kenyataan yang baru saja ia dengar itu. Waktunya seperti terbuang sia-sia saat mengetahui itu semua.
"Yah, maaf, gue udah bila—
"Kenapa lo gak hubungin gue?"
Tunggu. Kenapa Lana terlihat seperti tersangka kejahatan di sini? Padahal, Ibas adalah kekasihnya. Wajar saja jika mereka pergi bersama dan melupakan janji dengan seorang teman. Tidak ada salahnya kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Teen FictionSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)