26: Semuanya Mengecewakan

53 3 5
                                        

Sejak pertama kali buka hingga sekarang, Lan Cafe tidak pernah sepi pengunjung. Mungkin karena Lana yang punya banyak teman, juga karena Rawi yang menjadi barista. Fakta jika coffee shop ini milik Lana membuat mereka berbondong-bondong untuk mencicipi rasanya.

Cafe mulai dibuka sesuai dengan jadwal pulang sekolah mereka. Hal itu dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan belajar.

"Hari ini rame banget, ya," ucap Lana yang baru saja selesai mengantar pesanan. Ia duduk di belakang Rawi yang sedang membersihkan gelas. Beruntung laki-laki itu mau diajak kerja sama, jika tidak, ia pasti sudah kewalahan melayani semua pengunjung. "Pasti karena tampang lo yang buat mereka tertarik buat datang ke sini," sambungnya memuji Rawi.

"Bukan, ini justru karena racikan dari lo yang buat mereka mau datang ke sini," bantah Rawi menoleh ke belakang. Spontan ia mengambil beberapa lembar tisu lalu menyodorkannya kepada Lana.

Peka dengan segala situasi, Lana melebarkan senyumnya. "Makasih. Gue belum sempat tanya, kenapa lo mau jadi karyawan gue?"

"Karena gue suka kopi," celetuk Rawi yang tidak asal-asalan.

Ting.

Suara lonceng berbunyi nyaring, menandakan ada pengunjung yang datang. Lana dengan senang hati langsung berdiri, tetapi senyumnya langsung luntur seketika.

"Saya mau americano satu, take aw—

"Lala?" Lana terpaku. Kenapa ia kembali dipertemukan dengan sosok yang tidak ingin lagi ia jumpai?

"Kamu kerja di sini?" Bima menatap putrinya terkejut. Ia mendengar kabar dari rekan kerjanya jika ada coffee shop yang baru buka dan katanya sangat enak.

Lana tidak menjawab, ia justru menarik tangan Bima untuk ke luar dari cafe. Tak ingin jika Rawi maupun pengunjung lain mendengar percakapan mereka.

"Lala, jelasin dulu sama Papa," pinta Bima menatap anaknya memohon. "Kamu kerja di sini? Kenapa? Uang kamu gak cukup?"

"Cafe ini punya aku," jujur Lana tanpa menutupi. "Aku gak kerja di sini, tapi cafe ini punya aku sendiri."

"Aku mau belajar mandiri," jelas Lana agar Bima tidak memanjangi pertanyaan yang sama dari orang-orang sebelumnya. "Mama sama ayah setuju-setuju aja asal gak ganggu waktu sekolah."

Mendengar pengakuan itu, Bima tersenyum hangat. Menatap sang putri bungsu dengan haru sekaligus bangga. "Kamu sudah besar, ternyata. Sudah banyak momen yang Papa lewatin selama ini," sesalnya mengingat masa lalu keluarga mereka yang kelam.

"Kalau Papa cuma mau bahas keluarga kita yang dulu, aku mau masuk ke dalam, ada banyak kerjaan soalnya," tolak Lana mentah, tak ingin kembali mengingat masa buruk itu.

"Kamu gak berniat untuk tinggal sama Papa?" Bima bertanya hati-hati. Takut jika Lana marah. "Soalnya, Cia suka kesepian di rumah, dia senang banget kemarin kalau tahu dia punya kakak selain Jihan."

Jihan. Mendengar nama itu seketika Lana teringat dengan sesuatu. "Kak Jihan tinggal di mana?"

"Setahu Papa, dia pamitnya tinggal di apartemen," jawab Bima jujur. Pria berjas hitam itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari Lana. Putrinya benar-benar sudah tumbuh dewasa, tetapi baginya, Lana tetaplah si bungsu kecil.

"Papa masih melakukan kekerasan sama kak Jihan?" Bima mengerutkan dahinya, tampak seperti orang kebingungan. "Waktu itu aku gak sengaja ketemu kak Ji di mall. Aku lihat luka lebam di lengan dia."

"Siapa lagi di keluarga kita yang main tangan selain Papa?" tanya Lana penuh sarkas.

Bima menggelengkan kepalanya cepat. "Lala, demi Tuhan Papa udah berubah. Papa gak lagi main tangan, sayang. Papa udah berobat."

Berobat? "Maksud Papa?" Lana tidak tahu apa-apa tentang Bima. Sebab yang ia tahu, pria itu adalah sosok yang kasar dan tempramental.

"Papa punya gangguan kejiwaan terkait emosi yang sulit dikontrol, tapi Papa berani bersumpah, Papa gak ngelakuin itu lagi, La."

Jika memang benar begitu, lantas siapa yang melakukan kekerasan kepada kakaknya?

"Di mana alamat kak Jihan?"

^•^

Berulang kali Lana menekan bel apartemen yang bernomor dua puluh tiga itu. Selama itu pula ia menunggu, pintu berwarna cokelat ini tidak terbuka sama sekali.

"Ke mana, sih?" Lana tak bisa bersabar lagi. Ia menekan bel itu seperti orang kerasukan.

Ceklek.

"Lana?" Jihan membuka pintu dengan baju yang menurut Lana sangat berantakan. Namun, di umurnya yang sudah cukup besar membuatnya mengerti jika ada sesuatu.

Tak sengaja kedua netra Lana melihat sepatu laki-laki yang berada di balik pintu. Jihan menatapnya terkejut. Kakaknya itu menutupi bagian atas tubuhnya yang sedikit terbuka.

"Kamu tahu dari mana kalau Kakak di sini?" tanya Jihan tanpa mempersilakan Lana untuk masuk.

Bukannya menjawab, Lana menendang pintu masuk dengan kasar.

Brak.

"Minggir!" bentak Lana menatap sang kakak dengan garang. Matanya pun semakin menajam saat melihat ada bercak merah di bagian leher Jihan. "Lo sama siapa di sini?!"

Jihan tampak gugup setengah mati. "A-ak-aku sendirian, kok."

"Lo kira gue bocah?!" Lana berjalan masuk ke dalam tanpa permisi. Melangkah cepat menuju kamar Jihan yang pintunya sedikit terbuka.

Kosong. Tidak ada siapa pun di sini. Jihan pun mengikutinya dari belakang. Akan tetapi, Lana tidak semudah itu untuk dibodohi. Kasur yang berantakan membuat opininya semakin yakin jika sebelum kedatangannya, Jihan bersama orang lain.

Seolah mencari barang bukti, Lana berjalan mendekati jendela kamar yang terhubung ke balkon. Ternyata sudah dibuka lebih dulu. Siapa yang mau ke balkon di tengah teriknya matahari?

Saat Lana melihat ke arah bawah, ia dapat menangkap sosok yang berlari cepat menuju basement. Dari posturnya sudah terlihat jelas jika itu laki-laki.

"Lana, kamu ngapain, sih?" Jihan berjalan mendekati adiknya. "Gak ada apa-apa, kan?"

"Jawab gue, siapa cowok itu?" tanya Lana menuntut sang kakak untuk berjawab jujur. "Ini alasan lo yang gak mau lagi tinggal serumah sama papa?!"

"Lo mau bebas ngelakuin apapun, kan? Termasuk membuang mahkota lo ke sembarang orang?!"

Plak.

Jihan tidak terima dengan perkataan Lana yang menurutnya sangat kasar. Kedua matanya menyalang.

"Jaga bicara kamu!" bentak Jihan mendorong Lana hingga menabrak pembatas balkon. "Aku pindah karena gak mau serumah sama papa! Papa itu monster, Lakuna!"

"Tapi gak untuk melakukan hal di luar batas, anjing!" maki Lana tanpa memandang bulu. Ia tak peduli jika disebut sebagai adik durhaka. Sebab Jihan menurutnya telah melewati batas yang telah ditetapkan. "Lo pikir gue bodoh untuk gak bisa mengartikan pakaian lo saat ini? Untuk bekas jejak ciuman yang ada di leher lo? Untuk kasur yang berantakan itu? Sepatu yang ada di balik pintu? Bangsat lo, Jihan! Lo bukan lagi Kakak kebanggaan gue!"

Tak ada yang bisa dikatakan. Jihan mengatup kedua bibirnya rapat. Apa yang dikatakan oleh Lana benar adanya.

"Gue kecewa sebagai adik lo."

Usai mengatakan itu, Lana pergi meninggalkan apartemen milik kakaknya dengan perasaan yang campur aduk. Niat datang untuk melepas rindu, justru yang ia dapatkan adalah kejutan di luar nalar.

Jihan jatuh terduduk di lantai. Menatap kepergian sang adik dengan nanar. Ia memeluk tubuhnya erat, lalu tak lama kemudian memukul kepalanya sekuat tenaga. Andai Lana tahu bagaimana cerita aslinya, apakah adik kesayangannya itu akan tetap marah?

"Kalau bukan terpaksa, gue juga gak mau hidup kayak gini!"

Nasi sudah menjadi bubur. Jihan hidup dengan terus dihantui oleh bayang-bayang dirinya sendiri. Kesalahan di hari itu membuatnya harus menanggung dosa setiap saat.

"Lana, maafin Kak Ji."

^•^

Surakarta, 26 Desember 2023

Love Me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang