"Totalnya lima puluh dua, Kak," ujar sang kasir setelah memasukkan semua jajanan ke dalam plastik. "Uangnya seratus, ya, Kak."
Lana mengambil plastik belanjaannya. "Kembaliannya sedekah aja," jelasnya lalu melangkah ke luar sambil menyalakan rokok.
Baru saja ingin membuka pintu mobil, Lana seperti mendengar suara seseorang yang meminta tolong. Suaranya seperti berada di gang kecil tepat di samping tokonya berbelanja tadi.
"Tolong!" jerit seseorang yang entah mengapa tidak begitu asing di telinga Lana.
Penasaran apa yang terjadi, Lana memasukkan belanjaannya lebih dulu ke dalam mobil. Melangkah cepat sambil menghisap benda nikotin favoritnya. Suara sepatunya terdengar begitu keras kala memasuki gang sempit yang tidak ada cahaya sedikit pun.
"Tol-to-long!"
Lana membulatkan matanya saat sosok perempuan itu adalah Siren—adik Ibas. Siren sedang dikepung oleh dua pria dewasa yang tidak ia kenal. Keduanya sibuk menahan tubuh Siren—berniat untuk melakukan hal di luar batas.
"Woi!" Lana berteriak marah. Ia menginjak rokoknya sebelum melangkah mendekat. "Gak punya uang lo sampai mau lecehin anak kecil? Sewa cewek ke hotel sana," makinya berkacak pinggang. Melirik Siren yang sudah kacau dengan rambut yang berantakan. Kedua netranya pun juga menangkap bagian baju atas Siren yang sudah robek.
"Kak Lana," lirih Siren mengucap syukur dalam hatinya. Beruntunglah ada Lana yang menolongnya. Jika tidak, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Lana menoleh dengan senyuman yang seolah meyakinkan jika semuanya baik-baik saja.
"Siren, sini sama Kakak," ajak Lana mengulurkan tangannya, tapi sayang Siren sudah lebih dulu ditarik oleh salah satu dari mereka.
"Kurang ajar! Lepasin dia!" Lana mulai memukul wajah teman satunya lagi. Menendang area selangkangannya sekuat tenaga. Untung saja ia sedikit menguasai ilmu bela diri.
Bugh.
"Kak Lana!" Siren berteriak histeris melihat Lana yang terjatuh di lantai. Tidak hanya sampai di situ, pria berjaket hitam itu menginjak perut kaki Lana dengan sepatu besarnya.
"Argh!" pekik Lana menggigit bibirnya kuat. Ia tidak memikirkan rasa sakit yang dialaminya, yang ada di otaknya sekarang adalah menyelamatkan Siren. Sekuat tenaga Lana membalikkan badannya dan berguling jauh.
Tatapannya menangkap balok yang berada tak jauh dari tempatnya. Segera tangannya meraih benda tersebut dan memukul kaki pria itu hingga terjatuh. Keadaan menjadi terbalik seketika.
"Hah!" Lana menghembuskan napasnya kasar. Tak hanya satu kali. Ia memukul balok itu ke punggungnya secara berulang tanpa rasa kasihan. Bukankah pelaku pelecehan pantas mendapa hukuman yang lebih?
"Yah, pingsan," ejek Lana tersenyum penuh kemenangan melihat lawannya yang sudah memejamkan mata.
Tersisa satu lagi. Lana berjalan mendekat, tetapi langkahnya terhenti kala pria yang memakai topeng itu mengeluarkan pisau lipat.
"Jangan mendekat kalau tidak mau dia jadi korban pembunuhan malam ini," ancamnya membawa Siren menjauh. Mengarahkan pisau lipat itu tepat di area lehernya. "Saya sudah ditugaskan untuk melakukan sesuka hati kepada gadis ini. Jadi, kamu tidak perlu ikut campur!"
"Shit!" umpat Lana merasa bimbang ingin melakukan apa. Seketika ia mendapat ide cemerlang.
Bugh.
"Sialan!"
Lana segera menarik tangan Siren untuk berdiri di belakangnya. "Buruan lari ke depan. Masuk ke mobil merah yang ada di sana," perintah Lana yang tidak dihiraukan oleh Siren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Fiksi RemajaSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)