Hari sudah larut, tetapi Lana belum beranjak dari meja belajarnya. Ia terus mencatat apa saja yang sudah dikumpulkan dan apa yang belum.
"Meja udah, gelas juga udah, mesin kasir udah," gumam Lana menandai barang-barang yang sudah ia beli kemarin. "Ah, gue lupa beli afron," ucapnya spontan menepuk dahinya pelan. Kebisaan, batinnya. Selalu saja ada yang lupa.
Tin tin tin.
Lana tersentak mendengar suara klakson mobil yang begitu keras. Ia segera berdiri dari duduknya. Siapa yang bertamu di waktu yang sudah sangat malam seperti ini?
Untung saja kamar Lana menghadap langsung ke arah depan rumah. Memudahkan dirinya untuk bisa melihat siapa pelaku tersebut. Segera ia buka tirai penutup jendela dan pintu balkon.
"Nada?" Lana membulatkan kedua bola matanya. Ke mana Nada ingin pergi di jam seperti ini? Apa anak kecil itu sudah meminta izin sebelumnya?
Takut terjadi sesuatu yang buruk, Lana spontan melangkah lebar mengambil kunci mobilnya. Entah mengapa, naluri sebagai kakak yang melindungi sang adik keluar dalam dirinya. Mengingat teman-teman Nada yang tidak benar kemarin membuatnya sedikit was-was. Khawatir jika Nada salah pergaulan.
"Shit! Kenapa gue sepeduli ini?"
^•^
Harusnya Lana tidak perlu mengikuti Naya. Ia sedikit menyesal karena tempat yang dituju adik tirinya itu adalah bar. Kenapa dia bisa sebebas itu untuk masuk ke dalam?
"Gila, tuh anak udah salah pergaulan banget. Masih SMP udah berani masuk tempat laknat ini," ucap Lana yang masih berada di dalam mobil. Sekarang ia sedikit bimbang. Haruskah ia ikut masuk dan menarik paksa Nada untuk pulang? Ah, kenapa ia bisa sampai di sini?
"Anjing banget si Nada," umpat Lana membuat keputusan untuk turun dari mobil. Bagaimana pun juga, seburuk apapun sikap Nada selama ini kepadanya, tetap saja ia sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Apalagi, sikap Darma yang selama ini sangat baik dengannya.
"Maaf banget, Bas, ini demi Nada." Bahkan di saat seperti ini pun Lana masih mengingat Ibas. Ia sudah berjanji untuk tidak mendatangi tempat ini lagi, tetapi ini semua karena Nada. Salahkan saja adiknya yang nakal.
"Awas lo Nada, gue aduin ke ayah." Lana tersenyum penuh kemenangan. Ia bisa mengancam Nada sepuasnya.
Suara musik berdentum keras kala Lana berhasil masuk ke dalam. Untung saja ini adalah tempat yang sering ia datangi dulu. Membuatnya begitu mudah untuk masuk ke dalam.
Kedua netra Lana terus mengedar mencari keberadaan sang adik. Hingga sampai di satu titik, ia melihat jelas bagaimana Nada melakukan aksi gila hingga membuatnya jijik. Umur Nada masih dibawah umur, tetapi ia melakukan hal yang orang dewasa lakukan.
"Bangsat! Gue capek-capek ikutin sampai sini, dia malah enak ciuman sama om-om!" gerutu Lana berjalan cepat mendekati meja bar itu. Kedua tangannya mengepal kuat. Pantas saja Nada begitu mudah masuk ke dalam saat umurnya belum cukup, ia masuk bersama pria dewasa ternyata. Seperti inikah sifat asli anak kesayangan mamanya?
"Brengsek!"
Prang.
Lana berhasil mencuri perhatian semua pengunjung bar. Sampai musik yang berdentum keras pun terhenti. Nada yang melihat kehadiran sang kakak pun terkejut setengah mati. Ia menatap kakak tirinya cemas hingga menjauh dari pria yang sebelumnya bercumbu mesra bersamanya.
"Anjing, ini kelakuan sebenarnya dari anak kesayangan mama gue?!" Lana tertawa keras akan ucapannya sendiri. Jika ia menjadi orang jahat, harusnya tadi ia rekam saja kelakuan busuk Nada di luar rumah. "Bahkan, gue masih lebih baik dari lo, Nada!" makinya lagi karena belum puas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Novela JuvenilSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)