Tidak ada lagi Lana yang ceria, yang ada hanya sosok pendiam. Menghindar dari keramaian dan sering bolos kelas. Buktinya, sekarang. Lana berada di tempat yang bisa menenangkan pikirannya meski hanya sesaat.
Lana seakan menghukum dirinya terus menerus. Tidak peduli jika setelah ini ia akan mendapat hukuman dari Sang Pencipta. Ia bahkan telah menghabiskan satu kotak rokok dalam waktu tiga puluh menit.
Di saat seperti ini, Lana sangat membutuhkan Ibas, padahal yang menyakitinya adalah laki-laki itu. Sampai detik ini, Ibas masih berstatus sebagai kekasihnya. Bukannya menenangkan, Ibas justru terus mengancam akan menyebar video dan fotonya. Bagaimana Lana tidak setres?
"Sialan," umpat Lana saat melihat postingan story instagram milik akun Naya. Di foto itu juga ada Ibas. Keduanya sedang berada di Malang. Mengikuti lomba yang katanya mewakili sekolah waktu itu. Jika seperti ini, Lana sangat menyesal telah membujuk Ibas untuk ikut serta dalam lomba.
Semakin hari Naya terus mendekati Ibas, membuat Lana harus memendam rasa cemburunya. Benarkah ia hanya sebatas peran kedua di dalam cerita mereka?
"Cewek kayak lo gak pernah ada rasa takutnya, ya?"
Secepat kilat Lana menoleh, sial. Lagi-lagi yang memergokinya adalah Rawi. Apakah tidak ada orang lain selain laki-laki itu di sekolah ini?
"Udah habis berapa?" Rawi berjalan mendekat. Kedua matanya membola saat melihat satu kotak rokok yang sudah tandas tak tersisa.
"Lana, lo?"
"Kenapa?" Bukannya takut, Lana justru bertanya menantang. "Mau nilai gue buruk, silakan. Gue lagi butuh ketenangan."
"Ketenangan?" Rawi menyugar rambutnya ke belakang. "Di sekolah, lo bukan lagi bos gue, Na. Gue gak akan biarin ini secara terus menerus. Gue akan lapor lo ke BK."
"Wi," lirih Lana menatap lurus ke arah langit. "Lo boleh lapor gue ke BK, mau bolos, jahilin guru, gak pernah buat tugas, datang telat, terserah. Gue cuma mohon, jangan lapor gue karena kasus merokok."
"Keadilan harus tetap ada, Na," tegas Rawi menolak permintaan Lana. "Gue gak bisa kasih keringanan ke lo secara terus menerus. Udah berapa kali lo kepergok ngerokok di depan gue? Ada gue langsung lapor? Nggak, kan?"
"Karena gue mau kasih lo kesem—
"Mama gue udah mulai berubah, Wi," ucap Lana memotong perkataan Rawi. Kedua tatapannya memancarkan luka yang mendalam. "Yang dulunya gak peduli, sekarang udah mulai mau nanya gue udah makan apa belum. Yang dulunya selalu marah kalau gue pulang telat, sekarang gak mau tidur duluan sebelum gue pulang. Karena apa? Karena gue gak mau kehilangan itu lagi, Wi. Itu kesempatan emas yang gak boleh gue sia-si—
"Kalau gitu berubah!" Rawi mengangkat kotak rokok itu tinggi-tinggi. "Lo gak mau Mama lo gak peduli lagi, kan? Kalau gitu stop melakukan hal ini, Lakuna."
Dengan kasar Lana merebut kotak rokok miliknya. Menatap Rawi dengan tajam. "Lo gak tahu seberantakan apa hidup gue! Cuma ini." Lana menunjukkan kotak rokoknya ke hadapan Rawi. "Cuma nikotin dan kafein yang bisa buat pikiran gue tenang, walaupun cuma sesaat. Lo pikir gue mau serusak ini padahal gue adalah seorang perempuan?!"
Rawi hanya diam. Membiarkan Lana melampiaskan seluruh emosinya. Mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya.
Tanpa sadar setetes air mata mulai membasahi pipi Lana. Meski sudah menghabisi satu kotak rokok, pikirannya tidak pernah tenang. Seolah ada berbagai ribuan suara yang menghiasi isi kepalanya. Belum lagi dengan memori malam itu yang masih terekam dengan jelas. Jika terus begini, Lana bisa gila.
"Gue mau berhenti dari ini semua!" Lana mengacak rambutnya frustasi. Terduduk lemas di lantai. "Gue capek, Wi! Lo gak tahu seberisik apa isi kepala gue sekarang!"
Tidak ada respon apapun. Rawi justru memeluk Lana tanpa permisi. Memberikan ketenangan lewat dekapan hangatnya, serta mengelus punggung Lana dengan pelan. Perlakuan ini sering ia dapatkan dari sang kakak.
"Dengan nikotin gue bisa bertahan hidup sampai sekarang."
Lebih dari pada itu, Lana bahkan berulang kali menepis pikirannya yang ingin melakukan aksi bu*uh d*r*. Akan tetapi, ia berhasil melawannya dengan cara melampiaskan melalui minum kafein, juga dengan mengisap nikotin.
"Ada gue, Lana. Lo gak sendiri." Rawi terus berusaha menenangkan Lana yang menangis. Suara tangisannya pun terdengar pilu. Ia tidak tahu seberat apa beban yang dipikul Lana, tetapi satu hal yang diyakininya, bahwa Lana pasti bisa melalui semuanya.
"Kenapa lo baik sama gue?" Lana melepas pelukannya. Menatap Rawi dengan air mata yang masih mengucur deras. "Kenapa lo sepeduli ini yang pada nyatanya kita aja gak dekat?"
"Dulu," ralat Rawi dengan tegas. "Dulu kita emang gak dekat, tapi bukan berarti gue gak peduli sama lo, Na. Sekarang kita udah sedekat ini, salah kalau gue mau peduli?"
Lana membuang pandangannya ke arah lain saat melihat tatapan Rawi yang begitu dalam. "Jangan suka sama gue, Wi. Gue bukan cewek baik-baik."
Bohong jika Lana tidak mengerti dengan arti tatapan itu. Ia sudah lama menyelam di dunia. Sangat terlihat bagaimana tatapan seorang laki-laki jika menyukai lawan jenisnya.
"Suka itu adalah hak semua orang, Na, dan ini adalah hak gue untuk suka sama lo."
Pengakuan itu terjadi begitu saja. Rawi tidak tahan lagi untuk memendam semuanya terlalu lama. "Dan, untuk menerima atau menolak, itu adalah hak lo," sambungnya tersenyum tipis.
"Gue sadar diri, gue gak sesempurna Ibas untuk jadi milik lo, Na."
Lo salah, Wi. Justru gue yang gak pantas untuk lo.
^•^
Sedang di tempat lain, Naya justru sedang bersenang-senang bersama Ibas. Ia sibuk memainkan ponsel laki-laki itu. Berfoto ria seolah ponselnya sendiri. Tidak peduli dengan perasaan Lana di sana, yang penting ia menghabiskan waktu bersama Ibas.
"Bas, gue izin buka galeri, ya?" Naya bertanya lebih dulu pada Ibas yang sedang mengeringkan rambutnya. "Mau kirim foto gue soalnya."
"Buka aja, anggap kayak ponsel lo sendiri, Nay," balas Ibas tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung di pipinya.
Mendengar itu, Naya membalas senyuman Ibas. Tangannya pun bergerak membuka galeri. Hingga sampai di salah satu album khusus bernama 'Lakuna' membuat hatinya memanas. Penasaran dengan isi foto-fotonya, ia pun membuka album itu. Bukankah kata Ibas anggap seperti ponselnya sendiri? Artinya, ia punya kebebasan untuk melakukan apapun.
Tak sengaja Naya menekan salah satu video yang awalnya berlayar gelap. Sampai memunculkan video yang membuat Naya terkejut bukan main.
"In-ini Lana?"
Prang.
Saking terkejutnya, Naya sampai tidak sengaja menjatuhkan ponsel Ibas. Untung saja laki-laki itu pergi ke kamar mandi.
"Lana sama Ibas?"
^•^
Surakarta, 04 Januari 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me [END]
Novela JuvenilSiapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Baik Lana, Ibas, Naya, Rawi, juga dengan Ayi. Mereka sangat ingin dicintai hingga keegoisan menguasai segalanya. Lana mengira jika dirinya adalah peran utama dalam cerita ini, tetapi gilanya ia adalah p...
![Love Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/357309593-64-k384124.jpg)