13: Fakta Keluarga Ibas

41 5 0
                                        

Sejak tadi Lana tidak pernah melunturkan senyumnya sedikit pun. Berbeda dari hari biasa, Lana rela berpenampilan feminin untuk hari ini. Untuk pertama kalinya Ibas mengajaknya untuk bertemu dengan sang ayah.

Selama menjalin hubungan satu tahun lamanya, Lana tidak pernah berani bertanya di mana orang tua Ibas. Ia hanya bisa menyimpan pertanyaan itu di dalam kepala. Hingga sampailah ke momen hari ini. Ibas mengajaknya untuk bertemu dengan calon mertua. Tunggu, calon mertua? Lana senyum-senyum sendiri memikirkannya.

"Kita mampir beli buah dulu, ya?" tanya Ibas yang langsung disetujui oleh Lana. "Kamu tunggu di sini, biar aku aja yang ke sana."

"Beneran?" Lana tak enak hati jika Ibas pergi membeli buah seorang diri. Sedang ia enak-enak menunggu di dalam mobil.

Ibas tersenyum. "Lagi terik banget mataharinya. Kasihan, kamu udah dandan cantik gini buat ketemu papa aku," pujinya membuat kedua pipi Lana bersemu merah.

"Iya, pergi sana," usir Lana mengibaskan tangannya, tak ingin jika Ibas melihat wajahnya yang memerah.

"Tunggu bentar, ya, cantik," pesan Ibas lalu turun dari mobil.

Kedua sudut bibir Lana berkedut. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ah, Ibas selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga.

Drrrt drrrt drrrt.

Mendengar suara getaran membuat Lana spontan mencari asal suara. Kedua netra hitamnya melirik ponsel Ibas yang tertinggal. Dahinya berkerut dalam kala melihat notifikasi pesan dari seseorang.

"Naya?"

Tanpa izin, Lana membuka ponsel Ibas yang terkunci, lalu membaca isi pesannya.

"Kalau hari ini dia ada janji sama Naya buat belajar bareng, terus kenapa ngajak gue pergi?" tanya Lana pada dirinya sendiri. Dengan cepat Lana mematikan kembali ponsel kekasihnya, takut jika Ibas marah karena sikapnya yang lancang.

Belum sampai lima menit, Ibas kembali dengan parsel buah di tangannya. Ia meletakkan ke kursi belakang, lalu kembali masuk ke kursi pengemudi.

"Nunggu lama, ya?"

"Kamu ada janji sama Naya?" Lana tak tahan untuk tidak bertanya. Sebab ia juga tidak enak hati dengan sahabatnya yang sudah lebih dulu memiliki janji.

Ibas menepuk dahinya pelan. Ia sedikit meringis. "Ah, aku lupa, hari ini harusnya kami belajar bareng buat persiapan lomba nanti."

"Terus gimana, dong?" Lana ingin melihat reaksi Ibas. Siapa yang akan ia pilih dalam keadaan genting seperti ini?

Belum menjawab, Ibas mengelus rambut panjang Lana dengan lembut dan menyelipkannya ke daun telinga. "Karena aku udah sama kamu dan hari ini kamu udah rela dandan cantik. Jadi, belajarnya ditunda aja," jawabnya santai tanpa beban. Tak peduli jika Naya sudah menunggu sejak lama.

Tidak munafik, Lana tersenyum puas mendengarnya. Entah mengapa, ada rasa bahagia karena Ibas lebih memilih untuk bersamanya dibanding belajar bersama Naya. Salahkah jika dirinya bersikap egois? Lagipula, Ibas adalah miliknya. Bukan salah Lana jika Ibas lebih memilihnya.

"Ayo, kita berangkat."

"Let's go!" seru Lana mengepalkan tangannya ke depan.

Maaf, Nay.

^•^

Lana mengerutkan dahinya bingung. Apakah Ibas salah tempat? Rasanya tidak mungkin, tetapi ia sangat tidak percaya dengan lokasi yang didatangi saat ini.

Rumah Sakit Jiwa.

"Ayo, turun," ajak Ibas yang sudah melepas sabuk pengamannya. Menatap ke arah kekasihnya yang masih bingung di tempat. "Kenapa? Kaget aku bawa ke sini?" tebaknya yang tepat sasaran.

Love Me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang