11: Ada Apa dengan Naya?

58 5 0
                                        

"Ibu maunya kalian berdua yang jadi perwakilan sekolah tahun ini."

Naya mengangguk setuju. Menuruti permintaan kepala sekolah yang meminta dirinya untuk ikut lomba nasional mewakili sekolah bersama Ibas.

Sedang Ibas terdiam beberapa saat. Di dalam pikirannya sekarang adalah Lana. Ia tidak enak hati jika harus terus bersama Naya nantinya. Apalagi saat H-2 yang akan pergi bersama ke luar kota.

"Bagaimana kalian berminat kan?" tanya kepala sekolah sekali lagi. Harapannya saat ini hanya Naya dan Ibas. Keduanya sama-sama menduduki juara pararel.

"Tidak ada alasan untuk menolak, Ibu," jawab Naya penuh semangat. Bukannya apa, ia akan kembali mendapatkan pengalaman baru bersama orang yang baru lagi.

Mendengar itu sang kepala sekolah Merah Putih tersenyum senang, lalu mengalihkan tatapannya pada Ibas. "Kalau kamu bagaimana Basupati? Kamu bersedia kan? Saya harap kamu mau, sih, terima tawaran ini."

"Ah, iya, saya hampir lupa. Kalau kalian jadi pemenang, ada kesempatan buat dapat beasiswa kuliah di Jepang."

Naya terkejut mendengarnya. Senyumnya semakin mengembang kala mendengar hadiah yang begitu menggiurkan.

"Tunggu apalagi, Bas? Hadiahnya berguna banget buat masa depan kita," bujuk Naya yang tanpa sadar memegang telapak tangan Ibas. "Ayo, ikut aja. Lagian sama gue juga, kok, gue yakin Lana gak bakalan ngelarang," sambungnya yang mengerti akan isi pikiran Ibas sekarang.

Meskipun Lana adalah perempuan yang liar, tetapi jika menyangkut Ibas ia akan sangat possesive. Tidak suka jika Ibas bersama perempuan lain, tetapi jika dengan sahabatnya sendiri, Naya rasa Lana tidak akan cemburu.

"Ibu sih yakin kalau kalian jadi satu tim, ada kemungkinan besar untuk menang. Kamu tidak tergiur dengan hadiahnya, Basupati?"

Ibas berdeham, membenarkan sedikit posisi duduknya. Namun, ia baru tersadar akan sesuatu. Kepalanya menunduk melihat tangan Naya yang berada di atas tangannya. Spontan Ibas menghempaskan tangan Naya begitu saja. Baginya, itu sangatlah tidak sopan.

"Nanti saya kabarin lagi, Bu. Saya masih mau mikir dulu," jawab Ibas menunduk sopan. "Kalau gak ada yang dibicarakan lagi. Saya pamit keluar."

"Silakan."

^•^

Naya terus berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah lebar Ibas. Jujur ia sedikit kesulitan karena Ibas yang melangkah begitu cepat seperti dikejar waktu.

"Bas! Ibas!" Naya menahan pergelangan tangan Ibas dengan kesal. Menatapnya dengan wajah merengut. "Lo kenapa gak mau terima, sih? Itu kesempatan yang bagus, Bas. Kalau menang lo bisa kuliah di luar negeri," sambungnya berusaha membujuk Ibas agar mau satu tim dengannya.

Sebelum ikut keluar dari ruang kepala sekolah, Naya mendengar bahwa jika Ibas tidak mau ikut, harus ada pengganti. Pengganti yang dipilih pun adalah Rawi—si ketua OSIS yang sangat pendiam. Walaupun mereka adalah pasangan ketua dan wakil, sangat jarang sekali Naya berkomunikasi dengannya. Jika itu bukan hal yang penting dan tidak menyangkut OSIS, mereka seperti orang asing.

"Gue gak mau kuliah di luar negeri, Nay," jelas Ibas menatap sahabat dari kekasihnya dengan jengah. "Gue mau minta izin dulu sama Lana. Bagaimana pun juga, dia orang terpenting di hidup gue."

"Gue yakin Lana pasti bakal setuju, gak mungkin dia ngelarang lo untuk berprestasi, Ibas." Sepertinya Naya terlalu bersemangat kali ini. Bahkan ia mempunyai stok sabar yang banyak dalam membujuk Ibas dengan tutur kata yang lembut.

"Lebih tepatnya, gue menghargai dia sebagai pacar gue," ralat Ibas dengan suara yang tegas. "Lo kenapa maksa banget, sih, Nay? Walaupun nanti Lana setuju-setuju aja, gue juga masih mau mikir dulu. Gue orangnya gak gila prestasi."

Seketika Naya terdiam. Namun senyum di wajahnya tidak pernah luntur sedikit pun. "Iya udah kalau gitu, lo ngomong aja dulu sama Lana. Gue yakin dia pasti bakal setuju."

"Nanti kabarin gue secepatnya, ya, Bas."

Ibas tidak merespon. Ia melangkah meninggalkan Naya seorang diri. Sekarang tujuannya adalah menemui Lana—gadisnya.

"Ternyata masih ada cowok yang terlalu buta akan cinta."

^•^

"Hadiahnya lumayan banget, Na," ucap Naya paling bersemangat menceritakan semuanya kepada Lana dan Ayi. "Tapi Ibas masih bimbang karena mau izin dulu sama lo. Takut lo gak izinin katanya, padahal kan sama gue, sahabat lo sendiri, Na."

Lana menggigit sedotan minumannya. Menatap Naya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Iya, dia udah ngomong sama gue tadi. Gue kasih izin, kok, Nay, selebihnya terserah Ibas mau gimana."

"Beneran lo kasih izin?" Naya kembali bertanya untuk memastikan, takut jika salah dengar dan berharap lebih.

"Kok, lo senang banget, Nay?" Ayi mencela lebih dulu sebelum Lana kembali bersuara. Ia melayangkan tatapan penuh curiga. "Gak biasanya lo sesenang ini kalau jadi perwakilan sekolah buat ikut lomba."

Ya, Naya sudah puluhan kali menjadi perwakilan sekolah, tetapi entah mengapa di mata Ayi, ini kali pertama Naya bersemangat. Bahkan, tepatnya lagi, terlalu semangat.

"Yah, gue semangat karena hadiahnya gak main-main, Ay. Siapa coba yang gak semangat kalau hadiahnya semenggiurkan itu?"

Ayi menggeleng dengan tangan yang diangkat. "Enggak, waktu itu aja, dapat uang puluhan juta lo gak seheboh ini, sih," bantahnya sangat penasaran dengan Naya. Apa yang menjadi alasan Naya untuk bersemangat kali ini?

"Jadi, lo mikir buruk tentang gue, Ay?" Naya menampakkan wajah sedihnya. Kecewa dengan pikiran Ayi yang tidak masuk akal tentang dirinya.

"Memangnya, lo mikir apa tentang gue kali ini?"

"Lo terlalu semangat karena pasangan lomba lo sekarang adalah Ibas, kan?"

Bukan Naya saja yang terkejut, tetapi Lana juga. Keduanya menatap Ayi bingung sekaligus tak habis pikir.

"Ay, kok, pikiran lo bisa sejauh itu, sih?" Naya bertanya dengan nada tak terima. Jelas, mendengar itu membuatnya bisa saja dikira yang tidak-tidak oleh Lana. "Gue aja gak sampai ke situ, lagian Ibas pacar sahabat gue sendiri, ngapain gue kayak gitu, Ay?"

"Please, jangan mikir yang bukan-bukan tentang gue, Na," pinta Naya sambil memegang lengan Lana. Menatapnya dengan wajah memohon. "Bukannya gue pernah bilang, salah satu impian gue nanti adalah kuliah di luar negeri? Ini kesempatan besar buat gue, Na, Ay. Bukan berarti gue semangat karena pasangan kali ini adalah Ibas."

"Berarti kalau Ibas gak mau ikut dan diganti sama orang lain, lo bakal tetap ikut dan bersemangat kayak gini kan, Nay?" Ayi kembali bersuara. Bukan hanya dirinya yang penasaran akan jawaban Naya, tetapi Lana juga.

"Ibas gak mau ikut?" tanya balik Naya menampilkan wajah terkejut. "Beneran, Na?"

"Kok, langsung lesu, Nay?"

Telak. Naya mengatupkan kedua bibirnya rapat. Kedua netranya menatap Ayi dan Lana secara bergantian.

"Y-ya gak papa, gue cuma nanya aja, kok. Maksud gue, kalau Ibas gak mau ikut, nanti bakal dicari pengganti," bantah Naya cepat tidak ingin membuat Lana salah paham.

Lana yang sejak tadi diam pun ikut menyahut, "tenang, Ibas pasti mau ikut, gue udah bujuk tadi."

"Wah, serius? Makasih, Na!" seru Naya sampai memeluk Lana tanpa sadar.

Ayi yang duduk di hadapan keduanya pun tak melepaskan pandangannya dari Naya. Ada yang janggal di sini. Entah Lana ikut merasakannya atau tidak, tetapi Ayi jelas melihat itu semua.

tapi Naya gak mungkin khianati Lana, kan?

^•^

Surakarta, 11 Desember 2023

Love Me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang