45: Hukuman dari Sang Pencipta

74 3 0
                                        

Ternyata, manusia itu memang makhluk dinamis. Lana tidak tahu lagi harus percaya dengan siapa. Sebab semuanya penuh teka-teki. Begitu juga dengan Rawi yang mengkhianatinya.

Usai memberikan surat pengunduran diri, Lana segera berjalan cepat menuju area parkir. Ia tidak tahu ingin pergi ke mana. Terpenting harus menjauh dari semua orang yang menyakitinya.

"Tuhan kayaknya benci banget sama gue," gumam Lana tersenyum kecut. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya. Melaju cepat meninggalkan pekarangan sekolah.

"ARGH!" Lana memukul setir mobil sekuat tenaga. Air matanya mengalir deras. Bukan satu atau dua kali ia dikhianati, tetapi berkali-kali. Bayangkan bagaimana rasa sakitnya.

"Lo bodoh banget, Na," maki Lana pada dirinya sendiri. Tak sadar jika mobil yang ia kendari melebihi batas maksimal.

"Cuma Ayi yang gak pernah khianatin gue."

Hingga sampai di lampu merah, Lana hendak menekan rem. Akan tetapi, entah mengapa rem mobilnya tidak berfungsi sama sekali. Seketika Lana panik bukan main.

"Kenapa remnya gak berfungsi, sih?" tanya Lana merutuki mobil kesayangannya.

Tiba-tiba saja dari arah kiri ada truk yang melaju cepat. Lana tidak sadar karena terlalu panik hingga suara hantaman keras itu terdengar.

Sedang Lana yang berada di dalam mobil pun hanya bisa melindungi perutnya. Ia menjerit tertahan karena kepalanya menghantam kuat ke setir juga jendela.

Ay, lo mau jemput gue, ya?

"Ayo, bantu-bantu."

"Korbannya satu orang."

"Masih ada denyut nadinya, cepat telpon ambulance."

Sayup-sayup Lana mendengar suara para warga yang menolongnya. Ia tersenyum di detik-detik terakhir kesadaran. Sungguh, perutnya sekarang sangat sakit. Seolah ada ribuan pisau yang menusuk.

Uhuk.

Lana memuntahkan darah dari mulutnya. Seragam putih yang ia kenakan sekarang pun sudah berubah menjadi warna merah.

Bertahan, Nak.

^•^

Berita kecelakaan Lana beredar ke mana-mana. Menjadi topik hangat di berita siang hari ini. Sopir truk yang menjadi lawan tabrakannya pun meninggal di tempat. Sedang Lana masih ditangani dokter sejak tiga jam yang lalu.

Suasana di lorong rumah sakit pun sangat menyedihkan dengan suara tangis Jihan. Saat jam kuliah berlangsung, ia dikejutkan dengan berita sang adik yang mengalami kecelakaan parah.

"Jihan," panggil seseorang yang baru saja tiba. Bima datang dengan penampilan berantakan. Ia rela meninggalkan rapat penting yang sedang berlangsung demi sang bungsu. "Bagaimana keadaan adik kamu?" tanyanya merasa cemas bukan main.

"Dokternya belum keluar, Pa," balas Jihan lalu memeluk tubuh sang ayah dengan erat. "Aku gak mau Lana pergi, Pa. Tadi dia kesakitan, tubuhnya penuh darah. Aku takut, Pa," sambungnya mengadukan semua ketakutannya.

Bima memijit pangkal hidungnya dengan pelan. Membalas pelukan sang anak lebih erat. Air matanya mengenang dipelupuk. Ia belum sepenuhnya meminta maaf kepada Lana. Masih banyak kenangan buruk yang ia berikan, belum ada kebahagiaan.

"Kita berdo'a, ya. Kan, adik kamu itu perempuan yang kuat," balas Bima dengan nada bergetar menahan tangis. Ya, anaknya itu adalah anak yang paling kuat. Dulu, saat ia sering melakukan kekerasan. Separah apapun luka yang ditanggung, Lana masih bisa tersenyum ceria.

Love Me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang