30: Bukan Dirayakan, tetapi Dihancurkan

44 3 7
                                        

Apa yang menjadi istimewa di hari ulang tahun? Dirayakan? Kue ulang tahun? Tiup lilin? Atau kado dari orang terkasih? Kebahagiaan karena dirayakan di hari spesial adalah impian semua manusia. Tak terkecuali, Lana.

Tepat hari ini, tiga puluh Desember, menjadi hari yang paling bersejarah dalam hidup Lana. Bagaimana tidak? Di rumah ia mendapat kejutan, di kelas pun juga begitu, dan sekarang Ibas akan membawanya ke suatu tempat yang ia sendiri tidak tahu.

Senyumnya pun tidak pernah luntur sejak tadi. "Kamu mau bawa aku ke mana, sih, Bas?" Lana bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi. Pasalnya, Ibas tidak mau memberitahunya sedikit pun.

Berbanding terbalik dengan Lana yang diselimuti penasaran, Ibas justru tersenyum penuh arti. Menggenggam tangan kanan gadisnya seerat mungkin.

Cup.

"Nanti, ada hadiah istimewa buat kamu, sayang," ucap Ibas lagi—untuk kesekian kalinya. "Aku yakin, kamu akan jadi perempuan paling bahagia sedunia."

Paling bahagia? Lana tidak bisa membayangkan seindah apa hadiah yang dipersiapkan kekasihnya. Apa mungkin Ibas melamarnya? Ah, tidak-tidak Lana tidak ingin dikecewakan oleh harapannya sendiri.

"Aku janji, hadiah di hari ulang tahun kamu yang ke delapan belas, menjadi hadiah yang tidak pernah terlupakan—selamanya."

Lagi, Ibas kembali mencium punggung tangan gadisnya. Tatapan dan senyuman itu, entah perasaan Lana saja atau tidak, ia merasa ada yang berbeda. Namun, bukankah ini yang ia inginkan? Sejak awal Ibas adalah miliknya, bukan Naya. Tidak sepantasnya Naya merebut Ibas darinya. Akan ia tunjukkan siapa pemilik sesungguhnya.

Katanya, kita boleh egois, kan? Maka, izinkan Lana untuk egois dalam mencintai Ibas. Sebab Ibas adalah salah satu kebahagiaannya.

Aku tahu kamu tertarik sama Naya, tapi kalau sejak awal udah jadi milik aku, selamanya akan tetap begitu.

^•^

Sebelum turun mobil, Ibas sudah mengharuskan Lana untuk menggunakan penutup mata. Perasaan campur aduk itu mulai dirasakan oleh Lana. Ia sangat penasaran sekaligus menanti apa hadiah yang diberikan oleh kekasihnya kali ini. Sebab, ini adalah ulang tahun kedua yang ia rayakan bersama Ibas.

"Kamu gak ngasih kejutan yang aneh-aneh, kan?" tanya Lana memastikan. Ia bahkan belum sempat mengganti seragam sekolahnya, karena Ibas yang terus mendesaknya untuk cepat.

Ibas memegang pundak Lana mesra. Menuntun jalan kekasihnya penuh hati-hati. "Kamu gak percaya sama aku? Percaya, deh, kamu pasti bakal senang banget, Na."

Baiklah, jika sudah begitu. Lana sangat yakin jika Ibas tidak main-main dengan ucapannya. Lebih baik ia menuruti saja semuanya.

Lana tahu jika mereka berada di gedung apartemen. Parahnya, gedung apartemen ini sama dengan tempat yang dihuni oleh Jihan. Semoga saja kakaknya itu tidak melihat kehadirannya di sini.

Suara lift yang ditekan itu masuk ke gendang telinga Lana. Seketika jantungnya berpacu lebih cepat. "Sejak kapan kamu punya unit apartemen, Bas?" Lana terus bertanya seolah sedang mengorek informasi. Hal ini ia lakukan untuk menutupi rasa gugupnya.

"Udah dari lama, hadiah dari papa sebelum depresi," jujur Ibas terus menjawab setiap pertanyaan random dari kekasihnya. "Udah, sekarang kita udah sampai di tempatnya. Kamu siap-siap, ya."

Lana mengangguk seperti anak kecil. Saat pintu apartemen dibuka, detik itulah penutup matanya juga ikut dibuka.

"SELAMAT ULANG TAHUN LAKUNANYA IBAS!"

Spechless! Satu kata itulah terlintas dalam pikiran Lana sekarang. Kedua tangannya pun menutup mulutnya tak percaya. Kapan Ibas mempersiapkan ini semua? Ia tak mampu menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang. Jelasnya, Lana benar-benar bahagia.

Apartemen ini dipenuhi oleh balon juga bunga mawar berbentuk love yang berada tepat di depan televisi. Tidak lupa dengan tulisan ulang tahun untuknya membuat Lana semakin merasa haru.

"Tiup lilin dulu, dong," pinta Ibas membawakan kue ulang tahun dengan ukiran Doraemon—kartun kesayangan Lana hingga sekarang.

"Selamat ulang tahun, ya." Ibas menarik tubuh Lana ke dalam dekapannya. Mencium dahi serta kedua pipinya secara bergantian. "Tetap jadi Lananya Ibas sampai kapan pun, ya?"

"Makasih banyak, Ibas."

Dibalik pelukan hangat itu, Ibas tersenyum miring. "Kita makan-makan dulu, yuk. Aku udah siapin semuanya di belakang," ajaknya menuntun Lana ke arah dapur.

Lagi, Lana merasa terkesiap. Banyaknya sajian makanan di atas meja membuatnya begitu merasa dicintai oleh Ibas.

"Silakan duduk, Tuan Putri Lana."

^•^

"Kayaknya, aku udah harus pulang, deh, Bas," ujar Lana sambil memegang dahinya. Rasa pusing itu tiba-tiba menjalar membuatnya tak bisa menahan keseimbangan.

Secepat mungkin Ibas menahan tubuh kekasihnya agar tidak terjatuh ke lantai. "Na, kamu kenapa?" tanyanya menahan diri agar tidak tersenyum. Rencananya berjalan dengan sempurna sejauh ini.

"Pusing banget, Bas," adu Lana pada Ibas. "Kamu bisa anterin aku pulang sekarang gak?"

Bukannya menyetujui, Ibas justru mendorong tubuh Lana ke atas kasur. Sontak perlakuannya membuat Lana terkejut bukan main.

"Bas?" Lana berusaha untuk memundurkan tubuhnya—menjauh dari jangkauan Ibas.

Melihat itu Ibas tersenyum miring, merasa menang akan semua sandiwara yang selama ini ia perankan.

"Gimana? Kejutannya belum selesai sampai sini, lohh," ucap Ibas tertawa jahat saat melihat tatapan ketakutan dari Lana. "Aku punya kejutan lain, sayang."

"Kejutan apa?"

Tidak ada jawaban, Ibas justru membuka kancing seragamnya satu per satu. Tatapannya tidak pernah lepas dari Lana—seakan mangsa yang bisa lepas kapan saja.

"Malam ini aja, aku pengen kamu, Na," pinta Ibas yang langsung menindih tubuh Lana dengan tubuh kekarnya. "Kamu pengen aku jadi milik kamu seutuhnya, kan? Buktikan malam ini," sambungnya menahan pergerakan Lana yang terus memberontak.

Tidak. Bukan seperti ini caranya, bukan ini yang Lana inginkan. Ia menggeleng kuat saat tangan Ibas mulai membuka seragamnya penuh paksa.

Gila! Ini bukan kejutan indah seperti yang Ibas katakan. Justru ini adalah mimpi buruk, Lana ingin segera bangun.

"Malam ini kita harus bersenang-senang, sayang," bisik Ibas menggigit daun telinga Lana. Ia mencium tiap inci wajah kekasihnya. Hasratnya sudah tak tertahan lagi, Ibas akan menghancurkan Lana malam ini juga.

"Ibas, sadar lo anjing!" Lana memaki Ibas tepat di wajahnya. Perlakuan itu tentu membuat Ibas semakin naik pitam dan bersemangat untuk melakukan hal lebih.

Satu per satu, semua pakaian Lana terjatuh ke lantai. Ibas benar-benar brutal malam ini. Laki-laki itu memperlakukan kekasihnya layaknya binatang. Semua dendam yang ia pendam selama ini akan terbayang. Lana pantas mendapatkan kehancuran ini.

"Lo gak akan pernah lupa sama kejadian malam ini, Lana."

Ibas terus melakukan hal bejatnya. Ia menyakiti Lana sampai gadis itu terkapar dalam posisi tengkurap. Air matanya mengucur deras. Malam ini, Lana benar-benar hancur. Jiwanya seakan ditarik paksa. Ia tidak bisa mendeskripsikan lagi bagaimana perasaannya sekarang.

Hanya ada kata penyesalan dalam diri Lana. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada Tari, juga Darma yang sudah ia kecewakan. Mahkota yang selama ini dijaga sudah direnggut paksa oleh laki-laki yang sangat ia cintai.

"Naya," racau Ibas memeluk tubuh Lana usai berhasil menuntaskan hasratnya.

Naya? Lana ingin menjerit kencang rasanya. Bahkan, di saat melakukan hal menjijikkan ini pun, yang diucapkan laki-laki itu bukanlah dirinya. Melainkan orang lain—Naya.

Mama, mahkota Lana udah gak ada lagi.

^•^

Surakarta, 30 Desember 2023

Love Me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang