35

2.8K 265 15
                                    

Lisa Pov

Apa yang bisa ku lakukan saat ini saat mataku menangkap sosok yang paling kucintai berbagi rasa pada orang lain. Yah aku cukup sial hari ini karena berada didepannya tanpa terlihat olehnya. Aku memarkirkan mobilku tepat didepan mobil kai dan itu tidak disengaja. Aku tidak tau apa jennie melihat mobil ku atau tidak nyatanya kaca mobil kai menampilkan siluet yang membuat hatiku hancur.

Aku tidak menyangka bahwa diamnya jennie selama ini ternyata sebuah penolakan dan aku mengatakan fakta itu sudah benar sekarang. Ternyata Itu lebih sakit daripada dia mengatakan penolakan dengan bibirnya yang dinikmati orang lain saat ini.

aku mencium bibirnya beberapa kali tak lepas dari balasannya namun nyatanya itu tidak terhubung dengan perasaannya. Aku bahkan bermain lebih padanya namun aku sama sekali tidak bisa mengetahui artinya. Cumbuan Itu nafsukah atau mungkin rasa penasarannya yang tidak pernah melakukan pada orang lain. Tidak untuk sekarang!

Entah kenapa Mataku yang terus meneteskan air mata ini tidak bisa melewatkan satu detikpun untuk tidak menyaksikan bagaimana mereka saling memakan satu sama lain. Perasaan marah dalam diriku hadir saat ku tau aroma mulut jennie dirasakan orang lain. Deruh nafas jennie dirasakan oleh orang lain.

"ah air mata sialan" sebisa mungkin aku menghapus air mataku namun nyatanya itu tidak berguna.

Sekarang Aku sadar ini namanya patah hati dan aku tidak pernah menyangka bahwa hatiku tersakiti karena rasa yang tak terbalaskan. Aku pernah mengatakan pada diriku selagi bukan jennie yang menyakitiku aku rasa aku bisa mengobatinya.

Nyatanya luka paling pertama dalam hidupku, jennie adalah pemerannya.

Ingin menyalahkannya, tentu saja tidak. Cinta itu bukanlah pilihan tapi cinta itu sepenuhnya rasa. Rasa yang sama dengan yang ku rasakan saat ini. aku mencintai jennie bukan menjadi pilihanku namun aku menemukan rasaku padanya. Rasaku yang perduli padanya, rasaku yang merindukannya, rasaku yang menyayanginya, dan rasaku yang mencintainya.

Bagiku luka juga bukan pilihan namun sepenuhnya adalah keputusan. Keputusan dimana kau biarkan dirimu terluka seberapa banyak, keputusan untuk mengobati luka mu dengan cara apa. Semua ada dalam kendali kita walaupun itu pasti sulit untuk mengambil keputusannya

Namun aku dengan yakin mengambil keputusan hari dan saat ini didepan sahabatku yang menghapus jejak bibir orang lain dengan tangan mungilnya. aku berhenti mencintainya dan untuk mengobati luka ku akan pergi jauh darinya.

Aku tidak akan membawa penyesalan atas perasaan suci yang kupunya untuknya walaupun nyatanya aku menyesali jujur kepadanya. Andaikan waktu itu aku tidak mengatakannya mungkin saja semuanya tidak berubah seperti sekarang.

Dia telah menemukan seseorang yang mungkin selama ini dia cari dan itu bukan aku. tugasku hanya sebagai sahabat selama beberapa tahun kedepannya aku tidak lagi berperan.

Sebagaimana aku menjaganya, sebagaimana aku menemaninya, sebagaimana aku menyayanginya dan sebagaimana aku mencintainya tak berarti apa apa jika rasanya bukanlah pada diriku. Bukan aku orangnya.

Aku fikir aku bisa menerima fakta bahwa cintaku tidak terbalaskan selanjutnya aku berdoa semoga cintaku tidak habis diambil olehnya.

Author Pov

Sosok mata hazel yang selalu menampakkan binarannya kini dipenuhi dengan air mata. Satu fakta yang paling menyakitinya adalah dia harus merelakan orang yang dia cintai sekaligus sahabat yang menemaninya dalam waktu yang lama. Namun itu adalah keputusan yang bulat.

Air mata itu terus menetes mengiringi mobilnya yang sedang melaju tidak dalam kecepatan tinggi. Lisa menyetir dengan satu tangan satunya lagi tertekuk di kaca yang terbuka sedikit sehingga wajahnya tertimpa angin malam. Lisa menangis namun dalam ketenangan siapapun tau itu sangat menyakitkan.

BESTFRENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang