Selamat membaca
*
*
Hidup di tengah kepopuleran membuat aku tidak bisa bergerak bebas. Topi sebagai penutup kepala, serta jaket besar menutupi badanku yang gagah. Kendati demikian, tidak menjamin bahwa tidak ada yang mengenaliku. Terlebih lagi, jika ada sebuah tragedi yang pernah terjadi, hingga bisa membuat seseorang saling mengenali.
Aku berusaha berjalan dengan santai di tepi jalan, bahkan ketika aku bertemu dengan seseorang yang aku kenal.
"Pak Andra?"
Tapi tidak semua niatku, bisa dimengerti semua orang. Seorang pria berseragam, sang pekerja yang berada di tepi jalan.
"Shut!" bungkamku.
"Kenapa diam-diam kaya gini?" tanya pak Karyo, sang petugas Dinas Perhubungan.
"Karena aku mau jalan-jalan santai," ucapku, lalu membuka penutup kepala.
"Tapi gak sesantai yang aku kira." pak Karyo pun tampak heran.
"Karena itu, sulit sekali bagiku buat hidup sederhana. Padahal aku cuma mau jalan-jalan santai," gerutuku sangat kesal.
Aku lantas duduk di tepi jalan, tempat di mana pak Karyo bekerja. Image aku sebagai Monster Keadilan, memang terdengar tegas dan kejam. Hingga membuat orang yang bahkan aku kenal, merasa canggung tatkala bersamaku. Mungkin itulah kenapa, aku tidak memiliki banyak teman.
"Jangan hirauin aku, aku cuma mau duduk sebentar di sini." kataku, tidak ingin pak Karyo merasa canggung.
"Engga pak, siapa juga yang canggung. Aku malah seneng, bapak ada di sini." pak Karyo tidak membenarkan.
Ucapannya memang tidak membenarkan, tapi gerakannya sangat membuktikan. Pak Karyo tampak gugup dan merasa tidak nyaman. Sejak aku datang, hingga hampir satu jam telah berlalu. Sudah tidak terhitung berapa jumlah kendaraan yang lewat, hingga aku menyadari ada yang janggal di sini.
Karena tidak mau mengganggu pekerjaan pak Karyo, aku lantas hendak pergi, namun aku butuh sesuatu dari pak Karyo.
"Udah mau pergi pak?" dari raut wajahnya, pak Karyo tampak senang.
"Ya, aku rasa udah cukup bersantainya." kataku.
Karena tujuanku jalan-jalan santai, tapi karena aku tidak nyaman ketika berjalan-jalan, sehingga aku memilih santainya, dengan duduk di tepi jalan.
"Tapi pak, boleh aku pinjem kendaraan bapak sebentar," tanyaku sopan.
"Ini?" tunjuk pak Karyo.
Motor bebek pak Karyo, yang terlihat sudah sangat tua.
"Mau pakai ini?" ragu pak Karyo.
"Gak papa pak, kebetulan aku seneng dengan motor antik. Bolehkan?" aku berusaha merayu.
"Boleh, pake aja." pak Karyo lantas mempersilahkan.
"Terimakasi pak," aku pun merasa senang.
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung mengendari motor pak Karyo. Walau aku sempat kesulitan ketika menghidupkan kendaraan antik ini, hingga pak Karyo hampir merelakan pekerjaannya demi membantuku. Namun aku melarangnya, karena aku pikir bisa melakukannya sendiri. Setelah berusaha keras, motor milik pak Karyo akhirnya berhasil menyala.
Lalu aku pun langsung menancap gas, ke tempat tujuan yang sangat aku nantikan. Hari yang semakin siang, tentu aku harus mencari makan. Menu yang akan aku pilih, sesuai dengan arah mobil yang sedang aku ikuti. Hingga mobil itu berhenti, tepat di depan sebuah restoran yang cukup terkenal.
KAMU SEDANG MEMBACA
BlindFold
ActionPeringatan : kisah ini mengandung unsur kekerasan, juga perkataan yang buruk. Harap bijak dalam membaca. *Blindfold* Aku menutup mata untuk melihat Andra Aileen, seseorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang adil dan jujur. Dengan...
