Selama lima tahun ini

43.5K 1.1K 5
                                        

Selama lima tahun ini revan di rawat oleh perawat laki-laki yang bunda pekerjakan untuk merawat putranya,dan selama revan di pulangkan di rumah nara pindah kamar di sebelah ia tidak mau tidur di samping sang suami,itu juga tanpa sepengetahuan mertuanya.

Kalo pun bunda tau nara akan di suruh cerai dengan putranya hal itu tidak akan nara biarkan karena dia juga masih menginkan harta suaminya karena nara dari awal pacaran ia tidak mencintai revan ia hanya menyukai ke kayaan revan saja.

Yah selama ini nara hanya berpura-pura menyukai revan saja,nara juga sekarang sudah mulai memarahi revan karena ketidak bergunaan laki-laki itu.revan kaget saat pertama kali ia di bentak oleh nara bahkan ia di hina cacat oleh istri tercintanya itu ia kaget karena baru melihat sifat asli istrinya itu.

Ingin marah tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa jadi ia hanya bisa pasrah saja dengan keadaannya yang sekarang.

Kenapa para pembantu tidak ada yang melapor karena semuanya sudah nara suruh tutup mulut atau mereka akan di pecat bahkan nara akan membuat mereka kena sanksi.

"Nyonya."panggil perawat revan kepada nara yang baru ingin pergi keluar.

"Ada apa lagi sama laki-laki cacat itu?."kesal nara karena ia tau pasti suami tidak bergunanya itu buat masalah lagi.

"Tuan tidak mau makan,dan ini sudah dua hari tuan menolak makan nyonya."lapor perawat itu

"Hah,menyusahkan saja lelaki itu,kenapa tidak kamu paksa saja makannya."

"Sudah nyonya tapi tuan masih tetap menolaknya."mendengar itu nara langsung ke ruang makan tempat dimana lelaki tak berguna itu duduk di atas kursi rodanya dengan membatu.

"KENAPA NGGAK MAKAN SIH KAMU,UDAH TAU KAMU ITU CACAT MASIH AJA NYUSAHIN ORANG BANGET,MASIH SYUKUR ADA YANG MAU URUSIN KAMU YANG NGGAK BERGUNA INI DAN MASIH AJA BELAGU."bentak nara membuat revan kaget hingga nafasnya mulai naik turun.

Melihat itu tidak membuat nara menjadi kasihan yang ada ia semakin marah kepada suaminya itu,nara pun meramas bahu revan dengan kuat dan menyuapi lelaki itu dengan buburnya dan ia memaksa laki-laki itu membuka mulut tetapo revan tidak menelan makanan itu yang ada makanan itu keluar dan mengotori tangan nara.

Nara membuang sendok itu sembarang arah dengan marah.

Plak

Plak

Nara menampar kedua pipi revan dengan kuat hingga telapak tangan itu terpampang jelas di kedua pipi tirus putihnya itu.

"Dasar cacat,emang nggak berguna banget yah kamu mas.JANGAN KASIH DIA MAKAN SAMPAI SAYA IZINKAN BERANI ADA YANG MELAWAN PERINTAH INI SAYA AKAN BERI KALIAN PELAJARAN."ancam nara dan ia pun berlalu untuk pergi ke salon sambil menyenggol kursi roda revan hingga jatuh.

"TUAN."kaget perawat itu dan langsung membantu revam bangun dari jatuhnya.

Sungguh revan sangat menyesal menikah dengan nara ia merasa bersalah karena tidak pernah mendengarkam ucapan bundanya yang melarangnya untuk menikah dengan nara.

Sungguh ia sangat sedih karena di perlakukan seperti ini oleh perempuan yang selama ini begitu dia cintai tapi perempuan itu hanya menyukai kekayaannya saja bukan dirinya.

"Mari tuan,kita ke kamar yah."

###

1 bulan kemudian perawat revan undur diri karena dia mau pulang kampung untuk menikah,mau tidak mau nara harus mencari perawat lagi untuk merawat lelaki itu tapi sudah 2 pekan ini belum ada lagi yang mau mendaftar.

Akhirnya nara pun pergi ke suatu rumah dimana disitu adalah tempat tinggal seorang perempuan dewasa sendiri karena bulan kemarin orang tua perempuan itu baru saja berpulang ke pangkuan yang maha kuasa.

"Iya cari siapa mba?."tanya perempuan berhijab hitam sambil membuka pintunya.

"Apa benar ini rumah pak tomo?."tanya nara walau ia sudah tau jawabannya.

"Iya ini rumah alm bapak saya,mba ada perlu apa dengan alm bapak saya yah?."tanya perempuan itu lagi.

"Saya nara,lebih baik lagi kita bicara di dalam saja yah."ujar nara dengan datar.

"Astagfirulah maaf mba,mari masuk mba."ucap nadila dan mempersilahkan nara untuk masuk ke rumahnya dan duduk di kursi plastik.

Rumah nadila ini sangat sederhana saja,ukurannya kecil tapi sangat nyaman walau dengan warna cat yang sudah mulai pudar tapi masih tetap lengkap dengan cukup.

"Bentar yah mba saya buatan minum dulu."kata nadila sambil beranjak menuju dapur untuk mengambil air putih.

Karena di rumah nadila tidak ada sirup atau minuman lain hanya air putih saja.

"Ini mba minumnya,maaf yah cuman air putih aja saya suguhin."ujar nadila meminta maaf dan hanya di jawab anggukan nara.

"Saya nggak mau basa basi lagi jadi saya langsung ke intinya aja yah,saya datang ke sini ingin menagih utang orang tua kamu."terang nara atas kedatangannya ke rumah nadila.

Nadila yang mendengar itu kaget,karena selama ini ia tidak pernah mendengar kalo kedua orang tuanya punya utang di orang lain.

"Utang?,bapak dan mama saya punya utang sama mba,utang apa kalo saya boleh tau yah mba?."

"Wajar sih kalo kamu emang nggak tau karena mereka utang juga tanpa sepengetahuan kamu,tiga tahun kemarin mereka utang ke saya sebanyak 60 juta untuk membiayai operasi kamu."jelas nara sambil menatap nadila yang terkejut sekali.

"Ya Allah kenapa bapak lakuin hal kayak gitu,saya nggak tau sama sekali ya Allah saya nggak nyangka ya Allah hiks hiks hiks." tangis nadilla kaget mendengar kabar itu.

"Dan utang itu orang tua kamu sama sekali belum bayar sepeserpun,sekarang saya datang ke sini untuk menagih ke kamu."

"Ta-pi saya nggak punya uang untuk bayar mba,mba bisa kan kasih saya waktu selama 1 tahun saya akan kumpul uang dan akan bayar ke mba."

"Kamu nyuruh saya nunggu satu tahun lagi yang benar aja,saya mau dalam 1 bulan ini kamu sudah harus bayar selesai tanpa ada kurang sedikit pun."kata nara dengan tegas.

"Sa-tu bulan,mba ini kecepatan banget mba saya nggak bisa dapat uang sebanyak itu dengan waktu secepat itu mba."ragu nadila karena memang mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu bulan itu sangat mustahil dengan keadaannya sekarang.

"Kalo begitu saya punya satu tawaran lagi,bayar dalam satu bulan ini atau menikah dengan suami saya bagaimana."

"Apa,menikah dengan suami mba."kaget nadila karena menurutnya ini tawaran yang sangat aneh karena ada yang mau suaminya menikah lagi.

"Iya menikah dengan suami saya,tapi hanya sampai suami saya sembuh setelah itu kamu bisa cerai dengannya."ucap nara.

"Ta-pi mba,apa tidak pa-pa saya menikah dengan suami mba.apa mba nggak merasa cemburu begitu kalo saya dengan suami mba menikah?."

"Ngapain saya cemburu dengan kamu yang mengurus suami saya udah cacat itu."hina nara.

"Apa!,cacat."kaget nadila.

"Kenapa,kamu nggak mau dengan tawaran ini."

"Ti-dak saya mau kok mba,yang terpenting bisa membayar utang kedua orang tua saya pasti akan melakukan apa saja kecuali bayar dalam satu bulan ini."jawab nadilla sedikit terpaksa.

"Baik kalo begitu,yasudah saya pergi dulu karena urusan saya dengan kamu sudah selesai.urusan pernikahan kalian biar saya yang urus,intinya lusa besok kamu sudah harus siap karena lusa kamu dan suami saya sudah menikah."

"Baik mba."




Maaf kalo banyak typo yah guysss.

Istri KeduaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang