Mba nara pulang

27K 873 6
                                        

"Bunda sama ayah mana?"tanya nara yang baru pulang.

"Nyonya dan tuan masih kerja"jawab mbo siti dengan memunduk sopan.

"Mereka belum balik ke rumah mereka?"tanya nara lagi dengan wajah herannya.

"Belum,sepertinya nyonya dan tuan besar akan menginap lebih lama lagi"

"Ck nyusahin saya aja,lalu gimana sama nadilla?,nggak ketahuan kan dia"

"Nggak nyonya,bu nadilla sangat pintar dalam menyembunyikan hubungannya dengan tuan"

Nara pun hanya mengagguk saja dengan malas,ia pun langsung naik ke atas dimana tepatnya kamar suaminya yang cacat itu.

Saat ia masuk ia tidak melihat keberadaan nadilla,yang ada cuman revan yang terbaring kaku di atas ranjang itu yang menatapnya dengan kaget dan sedikit takut.sepertinya revan ini trauma dengan nara karena selama ia sakit dia selalu saja di marahi oleh nara,bahkan di tampar oleh perempuan itu tanpa rasa kasihan sedikit pun.

"Cih gitu aja kaget,emang dasar laki-laki cacat kamu van.gara-gara kamu yang kayak gini buat aku nggak bisa terlalu bebas di luar karena orang tua kamu itu selalu aja ke rumah dan mau nggak mau aku harus pulang lagi ke rumah untuk pura-pura jadi istri baik kamu"marah nara dengan wajah galaknya sambil memberi cubitan begitu keras di lengan revan itu walau lelaki itu tidak bisa merasanya.

"Syukur saja ada perempuan kampung itu,yang mau urus kamu tanpa aku keluarin uang buat bayarin dia.emamg kalian berdua itu cocok sama-sama manusia yang menyedihkan"hina nara yang sudah menyudahi cubitannya dari tangan revan.

Perempuan itu pun keluar dari kamar itu sambil mengibaskan kedua tangannya seolah-olah ia baru memagang sebuah kotoran yang begitu menjijikan.

"Eh nyonya"kaget nadilla saat melihat mara keluar dari kamar mas revan.

Nara pun hanya jalan lurus saja tanpa melihat nadilla yang kaget karena kedatangannya.

"Ya Allah sombong amat jadi orang,jauhkan lah hamba dari sifat sombong itu ya Allah aamiin"nadilla pun masuk ke dalam dan tak lupa ia juga menutup pintu kamarnya.

Nadilla kaget saat mendekat ke ranjang ia melihat air mata yang keluar dari kedua mata mas revan.

"Ya Allah mas revan,kamu kenapa mas,kok nangis sih.mba nara buat kamu apa sampai nangis gini mas"kaget nadilla sambil melap air mata mas revan dan mengangkat tubuh mas revan ke posisi duduk dan memeluk tubuh ringkih itu dengan lembut.

Ia menaruh kepala mas revan di bahunya dan mengelus bahu itu dengan lembut,air mata mas revan juga masih terus keluar.sungguh nadilla tidak tega melihat lelaki itu yang menangis dengan begitu pilu walau tanpa suara,ia bahkan ikut mengeluarkan air mata karena tidak tega dengan keadaannya.

"Udah yah jangan nangis lagi,kan sekarang sudah aku di samping kamu"bujuk nadilla sambil melap air mata mas revan lagi.

Seperti yang nadilla bilang mas revan langsung tidak mengeluarkan air matanya lagi,karena gemas dengan kepatuhan lelaki itu membuat madilla mengacak rambut itu dengan pelan.

"Patuh banget sih kamu mas,jadi makin tambah sayang  kan hehe.eh Astagfirulah tangan kamu ko biru sih mas"kaget nadilla saat melihat tangan kiri revan yang sudah biru akibat bekas cubitan nara.

"Pasti mba nara yang buat yah,emang perempuan itu udah sombong,jahat lagi.ya Allah bentar yah mas aku ambilin obat dulu biar tangan kamu nggak kenapa-napa"nadilla langsung menyandarkan revan di kepala ranjang.

Ia pun beranjak dan mencari obat untuk tangan mas revan,setelah dapat ia langsung mengoleskan obat itu di tangan lelaki itu dengan pelan karena takut sakit padahal mas revan tidak bisa merasakan apapun itu.

Sudah selesai mengobati mas revan,nadilla langsung kembali menidurkan lelaki itu dengan mengelus rambutnya sambil membacakan cerita di buku yang ia beli jauh hari saat pergi ke malu bersama mbo siti.

Saking merdunya suara nadilla membuat mas revan langsung tertidur juga,apalagi saat usapan lembut itu menyentuh rambutnya dengan sayang membuatnya makin tidak bisa menahan untuk menutup matanya di bawah alam sadar.

Karena mas revan sudah tidur,nadilla pun langsung menyimpan buku itu lagi di meja Rias dan beranjak keluar dari kamar itu,ia takut saat ia tidur siang bersama mas revan nanti akan ketahuan oleh bunda dan itu akan menambah masalahnya saja.

Saat ia turun ia mendapati nara yang fokus mengetik sesuatu di laptop mahalnya itu sambil menyeduh coklat panas yang mbo siti suguhin,sungguh perempuan itu tidak ada rada bersalah sekali pun sudah membuat mas revan terluka bahkan menangis,memang perempuan keji nara itu.

Karena lagi malas marah-marah nadilla langsung masuk ke dapur,untuk membantu mbo siti dan mba narti untuk bersih-bersih.


###

Malam pun sudah tiba,nadilla juga baru selesai memandikan mas revan.setelah selesai memandikan mas revan ia membawa lelaki itu turun ke bawah untuk bersantai-santai bersama keluarga lelaki itu.

"Biar saya aja yang bawa dia turun ke bawah"sahut nara yang baru keluar dari kamar samping.

"Ah iya nyonya"nadilla langsung memberikan alih kursi roda mas revan kepada nara.

Dia sebenarnya takut ada yang terjadi sama mas revan kalo di didekatkan ke nara,tapi sepertinya tidak akan karena di bawah sana ada kedua orang tua lelaki itu.

Mereka ber tiga pun turun ke bawah,dan ternyata ayah dan bunda sedang duduk di ruang keluarga.

"Eh anak bunda udah turun yah"ucap bunda saat melihat keberadaan revan.

"Iya bun,maaf yah lama soalnya aku baru mandiin mas revan tadi"ujar nara dengan senyum tak enak hatinya.

"Kamu yang mandiin revan,gantengnya anak bunda ini"kaget bunda karena mendengar nara yang memandikan anaknya.

Mereka pun bercerita santai-santai,nara masih saja memakai topeng kebaikannya itu agar tidak merusak citranya di depan kedua mertuanya.

Nadilla yang berdiri di dapur,sambil menatap mereka dengan sedih.karena dia ingin sekali memeluk lelaki itu yang pastinya sedang takut karena berdekatan dengan nara istri kejamnya,karena mas revan masih trauma dengan nara.

Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sekarang dia masih bersandiwara bukan siapa-siapanya mas revan hanya perawat saja tidak selebihnya.

Karena tidak terlalu lama bersedih,nadilla pun ke belakang lagi untuk membantu dua perempuan beda umur itu menyiapkan makan malam untuk para tuan rumah ini.

Sesekali juga mereka saling bercerita hal-hal yang menurut mereka lucu dan enak untuk saling berbagi.























Wah aku harap sip makin kesini makin betul yah,takut banget kalo makin kesini makin gaje hehe namanya juga nggak terlalu pandai amat kok.

Sekali lagi aku mau ucapin terima kasih banyak sama kalian karena udah mau baca cerita aku dan ngasih vote untuk ini walau cuman satu orang saja sih yg ngasih vote hehe.

Tapi tetap makasih yah yang udah ngasih vote ke aku,karena kamu aku jadi makin tambah semangat buat nulis bab baru lagi hehe.

LOPE YOU SEMUA YANG UDAH BACA CERITA AKU SAMPAI DI BAB INI ❤️

Istri KeduaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang