Hari ini Revan sudah kembali bekerja.sedangkan Nadilla di ajak oleh Bunda untuk arisan di rumah temannya.
"Dill udah siap belum?,"tanya Bunda yang sudah siap dengan dress berwarna hijau yang sangat elegan.
"Bentar bun aku pakai jilbab dulu,"sahut Nadilla dari dalam kamarnya.
"Yaudah Bunda tunggu kamu di bawah yah."Bunda pun turun ke bawah saat mendengar balasan Nadilla.
Menantunya itu pun memakai hijab dengan cepat,karena Bundanya ini sudah menunggu satu jam lebih karena ia baru mandi jam 8 pagi,sedangkan sekarang sudah jam 9 lewat dan arisannya mulai beberapa menit lagi.
"Ayo bun jalan!"seru Nadilla sambil berlari turun dengan cepat.
"Jangan lari-lari Dill! biasa aja jalannya,"tegur Bunda,takut kenapa-napa dengan menantunya itu.
Nadilla pun mendengar teguran Bunda langsung berjalan pelan saja.
Setelah sampai di depan Bunda,Bunda langsung menggandeng tangan Nadilla dan mereka keluar karena sudah tunggu oleh supir pribadi Bunda.
"Ayo jalan pak mamat,"Ujar Bunda.
"Iya Nyonya."Pak Mamat dengan sigap membuka pintu mobil untuk kedua majikannya itu.
"Terima kasih Pak Mamat."Nadilla tersenyum ramah.
Mobil pun berjalan keluar halaman rumah.
Selama perjalanan juga dua perempuan itu saling bercerita,tidak ada habis topik setiap mereka bertemu,selalu saja ada bahan untuk di ceritakan.
Mereka memang satu frekuensi sekali.
"Bulan depan kita mau liburan bareng teman-teman Bunda,kamu sama suami mu mau ikut nggak?."
"Nanti aku tanya Mas Revan dulu Bun."
"Yaudah.kalo kalian pengen ikut langsung kabarin Bunda,biar Bunda langsung pesan tiketnya,anak-anak teman Bunda juga pada ikut kok bukan cuman orang tua-tua aja."
Nadilla terkekeh geli saat ucapan bunda yang terkahir,karena wajah Bunda sangat lucu sekali saat mengucapkan kata-kata itu.
"Wahh aku jadi kepengen ikut deh,nanti aku paksa Mas Revan kalo gitu."
"Hahaha harus kamu paksa suami mu itu,soalnya kalo urusan kayak gini dia malas banget ikut,sekalian kalian honyemoon juga."Bunda menatap Nadilla dengan kerlingan mata.
Nadilla hanya bisa tersenyum salah tingkah saja karena langsung mengingat kejadian hari itu.
"Bunda udah kepengen punya cucu yah?,"Tanya Nadilla pelan.
Bunda tersenyum teduh dan menggenggam kedua tangan menantunya itu.
"Siapa sih yang nggak mau punya cucu,apalagi di umur Bunda dan Ayah yang udah nggak muda lagi.tapi kami kan juga tau kalo suami mu itu baru sembuh dari sakitnya,jadi kami bisa memaklumi dan tidak mendesak kalian untuk memiliki anak dengan cepat.yang terpenting kalian berdua tetap bersama,bahagia,dan sehat terus,itu aja udah cukup buat kami."
Nadilla memeluk Bunda dengan erat,karena merasa terharu memiliki mertua yang sangat baik dan pengertian sekali.
"Makasih Bunda,Aku sayang...banget sama bunda."Ucapnya lirih.
"Bunda juga sayang...banget sama putri Bunda ini,"Balas Bunda tak kalah tulus.
Pak Mamat yang melihat dua majikannya pelukan juga ikut tersenyum,karena senang sekali melihat mereka bahagia.
Mobil yang mereka naiki pun sudah sampai di depan halaman rumah teman Bunda,dan sepertinya sudah banyak yang datang terlihat dari banyaknya mobil yang sudah terparkir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Kedua
Fiksi UmumJangan lupa vote banyak-banyak yah guys,semoga suka dengan cerita ini ☆☆☆ nadilla di paksa menikah oleh suami orang untuk merawat suaminya yang mengalami kelumpuhan di seluruh badannya dan stroke selama 5 tahun ia di paksa menikah untuk membayar uta...
