Pagi itu, Serra terbangun sendiri tanpa Surti disampingnya. Biasanya setiap pagi, Surti akan membukakan jendela, memanggil namanya, dan mengajaknya sarapan di ruang makan keluarga. Tetapi, pagi ini Serra tidak dapat menemukannya. Bahkan di sudut ruangan pun, perepuan itu tidak ada. Piyama tidur yang masih berantakan, Sera tidak pedulikan. Langkahnya saat ini membawanya ke ruang makan dan ia tidak menemukan suaminya disana. Apalagi tamu-tamu penting kerajaan tadi malam.
Serra terheran, ini masih pagi dan kemana semua orang. Serra juga harus mencari Surti. Ia mencari perempuan itu sampai ke dapur kotor istana—Pawon. Memasuki pelataran Pawon yang mencekam, Serra tidak sadar dengan pandangan para pelayan disana. Sampai dia dikejutkan dengan seorang kepala pelayan disana.
"Apa yang membawu kemari, Raden Ayu?" tanya tidak suka, tetapi tetap sopan.
"Aku mencari Surti, apa dia ada disini?"
Ketua pelayan itu menunduk dalam. "Maaf, Raden Ayu. Surti tidak ada disini."
Serra terheran dan terus mencari. Sampai seorang pelayan membisikan sesuatu kepada kepala pelayan dan ia menyampaikannya kepada Serra. "Maaf, Raden Ayu. Surti saat ini berada di Panggung Pukul."
"Panggung Pukul?" Serra segera berlari.
Panggung Pukul adalah tempat dimana seseorang akan diadili. Entah itu dicambuk, dipenggal, atau dibinasakan. Intinya tempat itu adalah tempat pendisiplinan paling kejam yang Serra sempat baca di bukunya. "Surti!" serunya. Mata wanita itu membuka besar ketika melihat Surti yang terikat mengenaskan tengah dicambuk oleh Gusti Ruumini.
"Surti!" Serra menepis tangan Gusti Ruumini yang siap melayangkan cambukannya untuk kesekian kalinya.
Gusti Ruumini tidak dapat dihentikan ia juga mencambuk Serra untuk pendisiplinan. Para pelayan setia disana hanya dapat meringis dan menunduk dalam menyaksikan hukuman itu. Gusti Ruumini mengumpulkan mereka agar mereka tahu akibat dari melakukan kesalahan di istana. Bahkan Armaya yang masih bersembunyi di balik tubuh ibunya, tidak berani menatap ke arah Surti. Sementara Ariya dan Matteo terlihat menikmati pertunjukan di depan mereka. Tidjil Maharaka tak terlihat disana.
"Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa? Bisa-bisanya menghentikan Gusti Ruumini?!"
"Akh." Serra meringis ketika cambukan ketiga menghantam tubuhnya yang masih dilapisi piyama satinnya.
Serra sangat marah, matanya nyalang ke arah Gusti Ruumini. Wanita tua itu tidak suka di lawan. Layangan cambukan siap dilayangkan, Serra menutup matanya, siap menerimanya lagi demi Surti. Ketika layangan cambuk itu akan di layangkan, seseorang menahan tangan Gusti Ruumini.
"Sudah cukup. Bukankah Anda sudah kelewatan Gusti Ruum?"
Sekar Mirah, menahan amukan Gusti Ruumini dengan tatapan tegasnya. "Pelayan ini adalah tanggung jawab saya, dan anak ini? Anda telah melakukan kesalahan besar Gusti Ruum. Anda menghukum calon Ratu Ajuda."
Semua yang ada disana terkejut mendengar ucapan Sedah Mirah. Diikuti dengan Prabawa yang sigap membuka ikatan tali pada kedua lengan Surti dan membawa Surti serta Serra mundur.
"Apa katamu? Apa katamu Sekar Mirah?! Calon Ratu? Anak ini adalah seorang calon ratu?" Gusti Ruumini mendecih. "Ah, tentu saja dia calon ratu. Dia menginginkan tahta itu sampai membunuh kakaknya."
Serra benar-benar marah, napasnya menderu. Kakaknya sampai dibawa disaat seperti ini. Air mata Serra dengan kuat ia tahan. Bibirnya bergetar, jika ia berbicara maka ia akan terlihat lemah. Prabawa menggenggam tangan Serra dengan kuat, berusaha menguatkan iparnya dan juga berjaga-jaga agar iparnya tidak melakukan hal diluar nalar.
Gusti Ruumini meludah sembarangan, ia juga mencampakkan cambukan itu. "Kamu berani kepadaku karena merasa sudah melekat dengan kerajaan ini kan? Sampai kamu lupa, aku juga penguasa yang kapan saja bisa melenyapkan mu," bisik Gusti Ruumini kepada Sekar Mirah yang tidak gentar sedikitpun.

KAMU SEDANG MEMBACA
SERCHIE
RomanceSERCHIE | © 2023, Ani Joy. All rights reserved. Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama, karakter, insiden, dan Dialog adalah produk dari imajinasi penulis dan tidak akan dibangun sebagai nyata. Kemiripan apapun untuk peristiwa nyata atau orang-orang, h...