Intensive Care Unit rumah sakit kerajaan sangatlah dingin. Ruangan itu ribut dengan suara alat monitor yang sedang memantau tanda-tanda vital dari Raja Akkadkamadjantara. Pria itu terbaring tak berdaya dengan selang napas bantuan di mulutnya. Dadanya ramai dengan elektroda EKG yang merekam aliran listrik jantungnya—yang kian melemah. Satu-satunya harapan yang bisa diharapkan adalah keajaiban Tuhan saat ini. Ketika dokter berkata bahwa komplikasi yang terjadi sudah sangat buruk, Sang Raja sudah tidak merespon obat-obat sejak kemarin. Bahkan gula darahnya pun tidak ada perbaikan. Dokter sudah berusaha semampu mereka, sekarang tinggal menunggu keajaiban itu tiba.
Thamira Widodo hanya dapat melihat Daom-nya dari balik kaca transparan. Ruangan itu steril dan yang boleh masuk hanyalah tenaga kesehatan, jam membesuk pun dibataskan. Almira menangis dengan kesendiriannya. Daom-nya apakah akan selamat?
Thamira mengusap air matanya ketika mendengar suara sepatu yang mengetuk lantai mendekat. Suara itu ramai, dan Thamira tahu mertuanya sudah tiba.
"Mimi, bagaimana Daom?" Roosita segera menempelkan jemarinya pada dinding kaca itu dan menatap anknya dengan iba. Air matanya mengucur dan berapa hancur hatinya. Daom-nya, anak pertamanya, anak yang dicintainya terbaring tak berdaya. "Oh Tuhan, gantikan dia dengan aku. Oh!!! Aku tidak sanggup."
Tubuh Roosita terjatuh ke lantai dan Archie dengan cepat menangkapnya. "Eyang," ucapnya menenangkan. "Eyang tidak boleh seperti ini, Gusti Tedjo akan sedih melihat Eyang menangis."
"Archie, aku Eyang tidak sanggup Chie. Eyang saja yang menggantikan Da, Chie. Biar Eyang saja!"
Archie meminta pelayan mereka untuk membawa neneknya ke ruang istirahat keluarga. Serra mengikuti mereka. Roosita lebih membutuhkan ketenangan untuk saat ini, daripada dia bisa mati mendadak karena serangan asmanya. Roosita memegang kepalanya yang sakit. Kenapa anaknya tega menyembunyikan penyakit serius ini darinya. Ia merasa telah gagal menjadi ibu. Genap sudah lima puluh tahun ia menjadi ibu, dan hal sekecil ini bisa lolos dari pengawasannya. Membuat Roosita bercermin pada masa lalu yang ia sesali.
Daomnya begitu senang dengan kue. Roosita juga senang membuatkan kue-kue untuknya. Bahkan ketika bukan hari ulang tahunnya, Roosita senang memberikan Daom kue dengan krim dan taburan cokelat. Semenjak kecil, Daomnya telah memupuk kesengsaraan yang ia ciptakan sendiri. Roosita sangat menyesal telah memperkenalkan Si Manis kepada Daomnya.
Dari masa lalunya itu, Roosita teringat akan keturunan mereka kelak. Ya, anak yang dikandung istri cucunya. Roosita segera mendekati perut buncit itu yang membuat Serra terkejut, dan berbisik, "Sehat-sehatlah cicitku. Serra, berikan dia makanan yang baik yang dapat membuatnya sehat sepanjang hidupnya. Karena anak ini akan berumur panjang, selamat dari petaka, dan pemberi harapan baru bagi keluarga kita. Berjanji kepadaku, untuk tidak memasukkan makanan yang bisa membuat ususnya kotor. Sayang cicitku, jika harus menanggung keserakahan orang tuanya."
Serra tersenyum, dan mengelus perutnya. Ia mengambil tangan Roosita dan menempelkannya di atas perut buncitnya itu. "Kami akan sehat, Eyang. Kami akan bertahan dan menjadi harapan keluarga."
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Archie berdiri di sana dengan wajah pucatnya. "Aku rasa, Eyang harus melihatnya."
Roosita sangat syok dan ia dibawa menggunakan kursi roda. Ya, Daomnya sudah meninggalkan mereka. Detik terakhir napasnya dihembuskan tepat ketika Roosita memiliki firasat kepada cicitnya. Tangisan Roosita tidak dapat dibendung. Anaknya, permatanya, kini sudah bergabung bersama belahan hatinya di surga. Oh, sungguh Roosita tidak ingin sendiri menyaksikan kematian orang tersayangnya terus-menerus. Ia lelah, sungguh.
—
KAMU SEDANG MEMBACA
SERCHIE
RomanceSERCHIE | © 2023, Ani Joy. All rights reserved. Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama, karakter, insiden, dan Dialog adalah produk dari imajinasi penulis dan tidak akan dibangun sebagai nyata. Kemiripan apapun untuk peristiwa nyata atau orang-orang, h...
