BAB 57

50 4 2
                                        

Setelah berkemas, Archie keluar dari kamarnya dan menuju ruang baca karena ia ingin mengambil buku untuk dibaca di perjalanan nanti. Namun, di dalam ruang baca remang itu. Archie tertegun ketika melihat siluet perempuan dengan pundak yang bergetar. Archie mendekat tanpa suara, ketika dia yakin siapa perempuan itu Archie-pun memberanikan diri membuka suaranya. "Armaya?"

Perempuan itu terlihat buru-buru menutup wajahnya dan menyeka air matanya. Ia mengusap wajahnya dan tersenyum kecil menyambut sapaan Raden Mas nya. "R-raden Mas."

"Kenapa kamu menangis Armaya? Siapa yang menyakitimu?"

Ariya menggeleng. "T-tidak ada, Raden Mas. Aku hanya sedih, aku baru baca buku ini." Armaya mengambil buku acak dan menunjukkan kepada Archie.

Pria itu tahu, Armaya berbohong. Buku yang dipegangnya saja buku ensiklopedia. Bagaimana bisa seorang manusia berakal menangis membaca buku itu?

"Armaya duduklah dulu. Aku harus meluruskan sesuatu." Ariya mengikuti perkataan Archie. "Sebelumnya aku ingin minta maaf kepadamu. Karena aku, kamu menjalani hari-hari yang sulit. Aku dengan tulus meminta maaf. Karena sangat sulit untuk bisa berbicara denganmu."

"Ah, ya, maaf Raden Mas. Aku telah memaafkanmu. Jangan pedulikan aku, aku sudah biasa."

"Jika ada yang menyakitimu, ceritakan kepadaku."

Tidak, dia yang akan menyakitimu juga, Raden Mas.

Armaya menggeleng. "Aku baik-baik saja, Raden Mas. Aku harus pergi, jika ada yang melihat, mereka akan salah paham." Baru saja Armaya akan berdiri ia kembali membuka suara. "Dan, Raden Mas?"

"Ya, Armaya?"

"Terima kasih sudah menerima hadiahku. Walaupun hanya sapu tangan biasa." Setelah itu Armaya pergi dan menutup pintu ruang baca meninggalkan Archie sendirian dalam keheningan.

"Kenapa dia terlihat menyedihkan sekali? Aku harus mengambil buku bacaanki," gumam Archie datar dan mulai menyortir buku untuk dia bawa nanti ke Jakarta.


"Adimas," panggil Ruumini kepada adiknya. "Aku mendengarnya , benar. Mereka akan ke Jakarta untuk menemui Raden Ajeng Mimi. Apakah kamu sudah menemukan orangnya?"

Rakanansatya yang baru menyeruput kopi hitamnya, membulatkan mata dan mengambil tabletnya. Melihatkan daftar orang yang akan mereka gunakan untuk menyabotase perjalanan Raden Mas dan Raden Ayu agar tidak sampai di Jakarta.

"Sudah Mbakyu. Aku menemukan delapan orang yang bisa menjadi wartawan gadungan."

"Mana sini aku lihat dulu." Ruumini yang tidak sabar terlihat menarik tablet milik Rakanansatya dan membaca serta mengamati foto orang suruhannya. "Bagus. Mereka akan menjadi wartawan kan? Suruh mereka ikuti kemanapun mobil kerajaan pergi. Bawa yang banyak, dan jalankan sesuai perintah. Jangan sampai mereka bertemu dengan Thamirah Widodo. Jika mereka bertemu, maka Taj Rukmasana tidak akan pernah jatuh ditangan kita," desis Ruumini tajam.

"Bagaimana dengan hasil rapat Prabawa, Mbakyu? Anak itu pasti yang dipilih untuk meneruskan tahta selanjutnya."

Gusti Ruumini tersenyum sinis. "Tidak masalah. Dia tidak akan lama duduk disana. Sesuai rencanaku, siapkan Matteo, dan Ariya yang harus menjadi ratunya, atau aku akan menikahkan Armaya dengan Tidjil dan menjadikan anak harammu itu menjadi raja selanjutnya."

"T-tidak, jangan Mbakyu. Aku akan memulai dengan Matteo. Jangan pernah libatkan Tidjil dalam hal ini, dia tidak pantas sama sekali. Bahkan untuk menjadi bagian inti kelaurga dia jauh dari kata pantas," desis Rakanansatya penuh dendam. "Baik, Mbakyu. Serahkan semuanya kepadaku, aku akan membuat mobil mereka balik lagi ke sini dan tidak akan pernah bertemu dengan Thamirah Widodo." Rakanansatya pun menjawab dengan penuh percaya diri. "Lagipula, wanita itu sudah sakit-sakitan semenjak Mas Tedjo meninggal. Sangat mudah membuatnya tak berdaya." Senyum sinis menyeringai dari bibir Rakanansatya.

"Bagus, Adimas. Kamu sekarang mengerti posisimu. Jalankan sesuai perintahku, dan kita nikmati masa-masa kepemimpinan Prabawa sebelum berganti menjadi Raja Matteo," ucap Ruumini dengan berseri. Memikirkannya saja dia sudah senang bukan main.

"Biarkan mereka tidak nyaman dengan kehadiran para wartawan nanti," tawa Ruumini menggema diruangan pertemuan mereka. "Mereka akan tahu ganjarannya jika main-main dengan Gusti Ruumini."

TBC

SERCHIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang