Perayaan kematian Sang Raja mendapatkan perhatian publik. Akkadiamadjantara ditutup sementara sampai perayaan kematian oleh keluarga dan rakyat Akkadiamadjantara selesai. Rakyat diluar kerajaan dilarang masuk dan melangkahi gerbang abdi. Karena bagi mereka keluarga adalah sebaik-baiknya ikatan. Persemayaman diadakan secara tertutup dan khidmat. Seluruh anggota keluarga kerajaan pulang dan mengantarkan jasad ke rumah abadinya.
Karangan bunga dan tangisan mewarnai pagi Sabtu yang kelabu. Iringan rombongan pengantar Gusti Tedjo memanjatkan doa dan harapan agar Sang Raja ditempatkan di tempat terbaik. Ia adalah raja yang bijaksana, pendengar yang baik, dan yang paling disukai oleh rakyatnya—dia adalah seorang yang mendahului hajat orang lain daripada dirinya sendiri. Gusti Tedjo, raja terbaik selama pemerintahannya begitulah yang diucapkan oleh sebagian rakyat Akkadiamadjantara. Walaupun dia jarang muncul di istana dan lebih memilih tinggal secara tertutup di Jakarta—karena penyakitnya. Raja Tedjo akan segera tiba jika rakyat membutuhkannya.
Kematiannya adalah kesedihan. Cerita mengenai penyakitnya tak lama menyebar dengan cepat. Bisikan dari mulut ke mulut membuat berita itu tersebar luas. Bahkan media luar sedang menduga-duga adanya konspirasi keluarga dalam kematian Raja ke sepuluh itu.
Setelah memberikan penghormatan terakhir sebelum peti ditutupi tanah. Gusti Ruum, dengan cepat mencegat Archie yang akan mendorong kursi roda Roosita untuk menaburkan bunga dan wewangian ke atas liang lahatnya. Dengan senyum liciknya, Gusti Ruum berkata, "Biar aku saja."
Archie melirik neneknya sekilas, dan nenek tua itu mengangguk.
"Kenapa Ruum?" tanya Roosita langsung pada intinya.
Ruum tersenyum penuh, "Mbak sudah memilih siapa yang akan bertahta?"
Roosita mengambil bunga yang diberikan oleh Lalitha. "Pilihan akan selalu di tangan Sang Raja. Keputusan itu, ada didalam Taj Rukmasana."
"Tapi, Mbak sudah memilih kan?"
"Aku tidak mempunyai kuasa. Semua penunjukan, pemilihan, atas kuasa penuh Sang Raja. Aku hanya ibu suri, tugasku memastikan Raja menjalankan tugasnya—menunjuk calon pewaris tahta." Roosita meletakkan bunga lili putih di atas gunukan tanah yang mulai dibasahi oleh wewangian terbaik di istana.
Ruumini mendesah berat. "Mbak kok tidak menggunakan kuasa. Mbak memiliki kuasa penuh atas kehendak yang akan Mbak lakukan. Kenapa tidak menggunakannya?"
"Jika aku gunakan pun, pilihannya tetap Mallory. Tidak ada keturunanmu atau Raka yang akan memimpin kerajaan ini," ucap Roosita melirik adiknya yang berada dibelakangnya.
Ruumini meremas pegangan kursi roda itu dengan geram. Harga dirinya tersakiti, angkuh sekali pikirnya. Ia melepas kursi roda itu dan berdiri disamping kakanya. "Jangan sombong, Mbak. Taj Rukmasana tidak akan lagi berada di tangan kalian. Sudah saatnya membawa perubahan pada kerajaan. Ariya akan menikah dengan Djati. Mereka akan memimpin kerajaan ini dan Mbak tidak bisa berbuat apa-apa."
"Ruumini, itu dilarang. Dilarang bagimu untuk menikahkan anak dari adikmu atau kakakmu dengan anakmu sendiri."
"Itu harus kita lakukan, Mbak. Agar keturunan kita, dan tahta Taj Rukmasana tidak jatuh ke orang lain. Keluarga adalah sebaik-baiknya ikatan bukan?" Ruumini tersenyum sinis dan sedikit tertawa. "Mbak tidak perlu khawatir."
"Taj Rukmasana tidak akan memilih kalian," desis Roosita.
"Jangan percaya diri Mbak. Jika bukan karena ikatan darah, kita tidak akan bisa sedekat ini," bisik Ruumini tepat di telinga Roosita yang membuat bulu kuduk nenek tua itu merinding.
"Akan kugunakan segala macam cara untuk mendapatkan Taj Rukmasana. Ingat, kita adalah saudara Mbak. Jangan halangi aku, atau kamu akan menanggung akibatnya." Roosita menatap tajam adiknya, Ruumini bagaimana tidak bersalah ia meninggalkan lili putih dan kakanya di pemakaman.
—
KAMU SEDANG MEMBACA
SERCHIE
RomanceSERCHIE | © 2023, Ani Joy. All rights reserved. Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama, karakter, insiden, dan Dialog adalah produk dari imajinasi penulis dan tidak akan dibangun sebagai nyata. Kemiripan apapun untuk peristiwa nyata atau orang-orang, h...
