BAB 58

11 3 0
                                        

Status Prabawa kini sangat sengit. Ia benar-benar akan menduduki tahta selanjutnya. Dengan begitu banyak rapat yang diadakan sejak kemarin, Prabawa positif akan menaiki tahta selanjutnya. Pria itu pun terlihat sibuk dan tidak sempat bertemu dengan sepupunya—Archie Mallory yang sebentar lagi akan meninggalkan Akkadimadjantara untuk sementara waktu. Prabawa keluar dari ruang rapat dan memijat pelipisnya. Berat sekali rasanya, jadi begini rasanya ketika namamu ditunjuk menjadi seorang raja.

Prabawa melangkahkan kaki ke dapur kecil Antawirya yang hanya ada pendingin berisi minuman dan makanan ringan. Prabawa meneguk kaleng soda dan duduk di meja pantry. Baru saja dia akan meneguk untuk kedua kalinya, seseorang datang dan duduk di depannya.

Ariya Rukaya.

"Baru selesai rapat?"

Prabawa mengangguk. "Kamu belum tidur?" tanyanya heran.

"Aku tidak bisa tidur. Perkataan ibuku terus menghantuiku."

"Dia bilang apa?"

"Aku harus menikahimu."

Sontak kaliamt itu membuat Prabawa reflek nenyemprotkan minuman soda dari dalam mulutnya yang segera dia bersihkan. "M-maaf Ariya. Aku tidak bermaksud."

Ariya menyingkirkan bekas semburat itu dengan lemah, karena dia mengantuk.

"Apa kamu mau menjadi suamiku Prabawa?"

Pria itu menggeleng. "Gila kamu, mana boleh. Jelas haram hukumnya, sudah dilarang oleh aturan kerajaan kita. Aku tidak bisa menikahi kamu ataupun Armaya."

Ariya megerjap pelan dengan mata kantuknya. "Berarti kamu akan menikahi Lalitha? Si jalang kecil itu?"

"Apa maksud kamu?" Prabawa meletakkan kaleng sodanya dengan pelan, berusaha mencerna kalimat Ariya.

"Banyak rumor yang bilang Lalitha akan menjadi istrimu."

Prabawa tertawa sinis. Kepalanya  menggeleng yang tidak dilihat oleh Ariya tentunya. "Aku tidak akan menikahi keluargaku, Ariya, titik."

Pria itu kemudian mengambil kaleng sodanya, berdiri, dan berkata kepada Ariya dengan tegas, "Jangan berpikir untuk menikahiku lagi. Atau berspekulasi tentang pernikahanku. Carilah pria lain yang tidak sedarah denganmu, Ariya."

Semenjak itu pula, Dayita sering diminta untuk menyajikan makanan Prabawa—  terpisah dari yang lainnya—dan  membuatnya sering mengunjungi kamar pria itu. Dulu memang ini impiannya—bisa begitu dekat dengan Prabawa. Tetapi, semenjak kematian Nyai Apsarini, dendam terbentuk kepada keluarga kerajaan. Dia tidak akan mengampuni keluarga kerajaan. Mereka telah berbuat sesuatu yang mengerikan—membunuh Nyai Apsarini yang Dayita sayangi, mereka telah membunuh seseorang.

Tubuh Dayita menunduk dalam, mengetahui Prabawa yang baru saja kembali dari rapatnya. Sebelum rapat, Prabawa telah memerintahkan Pawon Ageng untuk memberikannya makan lebih telat daripada biasanya. Karena dia tahu rapat itu akan lama dan Prabawa tidak ingin makanan yang dimakan oleh para tetua dingin. Jadi dia mengusulkan untuk menyajikan makanan setelah rapat usai, dan begitupun milik Prabawa yang selalu diantarkan ke kamarnya—karena dia makan makanan yang berbeda dengan anggota kerajaan lainnya—sebagai persiapan menjadi raja yang baru.

"Malam ini kalian sedikit sekali. Cuma bertiga?" tanya Prabawa yang mulai duduk di meja makannya.

"Ya, Raden Mas yang lain sudah menuju aula agung."

Prabawa mengangguk dan berkata dengan hangat, "Terima kasih atas makanannya. Kalian berisitirahat saja, angkat ini besok."

Dayita menunduk dalam. "Tidak bisa, Raden Mas. Pawon Ageng harus mengawasi setiap suapan yang masuk ke dalam mulut Raden Mas."

SERCHIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang