Berita kehamilan Sang Putri Mahkota tersebar dengan cepat. Namanya naik di surat kabar Portugal, New York, dan Indonesia. Kini mereka semakin dikenal dan kehidupan sehari-hari yang jauh dari sorot publik pun semakin tersorot. Serra bahkan memutuskan untuk bekerja dari rumah selama tujuh bulan ini karena dia tidak sanggup meladeni wartawan yang terus bertanya mengenai kakaknya, Ajuda, dan bahkan hubungannya dengan suaminya. Serra benci itu, Serra benci sorotan dan manipulasi wartawan.
Sementara itu, Roosita memutuskan untuk tetap tinggal di New York selama musim panas ini. Ia mulai melunak kepada istri cucunya, ia juga perhatian dan senang sekali mengelus perut Serra yang kian membesar. Seperti malam ini, Roosita baru saja masuk ke ruang makan dan sebelum ia mendudukkan bokongnya, ia mengelus perut buncit Serra seraya membisikkan, "Dua raja kecil sehat-sehatlah." Dia juga menutup mata dan memohon keselamatan bagi kedua calon cicitnya.
"Eyang berdoa apa?" tanya Serra ikut mengelus perutnya.
"Aku mendoakan keselamatan dan kesehatan dari cicitku," jawab Roosita .
"Ibunya tidak Eyang doakan?"
Roosita melirik Serra dan menggerutu, "Kamu tidak perlu didoakan disini. Keselamatan dan kesehatanmu aku doakan di hadapan Tuhan secara pribadi."
Serra tersenyum mendengar ucapan neneknya. Semenjak kehamilannya, entah kenapa Serra malah senang dengan gertuan Roosita. Ternyata nenek tua itu lucu juga, Serra juga iseng kepadanya. Seperti meminta tolong mengantarkan sesuatu dengan dalih cicitnya yang minta.
"Tetapi cicit Eyang ingin dengarkan secara langsung Eyang mereka mendoakan ibunya." Serra mengambil nasi dengan sengaja menghalangi Roosita yang juga akan mengambil nasi.
Roosita mendesah berat, ia mendekat dan menempelkan jemarinya di atas kepala Serra. Dengan senang hati wanita itu menutup matanya dan ikut mendoakan dirinya sendiri. Terakhir Roosita mengelus rambut kecokelatan milik Serra dengan hangat dan mencium tangan wanita itu. "Kamu ibu yang hebat, makan yang benar dan jangan sampai sakit."
"Baik, Eyang," jawab Serra dengan manja sambil menuangkan kuah sup ke mangkok Roosita.
Di tengah kehangatan itu, Archie datang dengan langkah cepat dan duduk di samping neneknya. "Eyang sudah mendapat kabar?"
"Kabar apa?" tanya Roosita heran sambil menyeruput sup kepitingnya.
Archie membawa punggung tangan neneknya dan mengelusnya dengan hangat. "Eyang harus tenang," ucap Archie memastikan neneknya tidak tegang.
"Ya, aku tenang sekali, Archie."
"Gusti Tedjo jatuh sakit, Eyang. Dan mengalami penurunan kesadaran."
Sendok yang Roosita gunakan untuk menyeruput supnya lepas dengan ringan, sehingga membuat sup itu tumpah ke bajunya.
"Eyang " Serra dengan cepat mengambil serbet dan membersihkannya.
"Eyang? Eyang baik-baik saja?" Archie panik dan menenangkan neneknya.
"A-aku. Aku tidak siap, Archie."
"Gulanya drop, Eyang. Ternyata selama ini, Gusti Tedjo mengidap diabetes bahkan jari kakinya juga sudah pernah diamputasi. Tetapi dia menutupi semuanya dari kita."
"Tentu saja dia begitu," lirih Roosita. Ia mendesah berat dan memegang kepalanya. "Aku harus pulang, Archie. Daom membutuhkanku."
Archie mengangguk dan menyetujui itu. "Iya, Eyang. Kita akan pulang besok. Aku akan mengurus semuanya."
"Bolehkah aku ikut?" tanya Serra bimbang.
"Kita akan konsultasi ke dokter obgyn terlebih dahulu, Cherry. Aku tidak mau mengambil risiko dengan kamu yang sedang hamil besar." Serra mengangguk menyetujui perkataan suaminya.
"Eyang, semua akan baik-baik saja. Kita harus terus berdoa dan berharap kepada kesembuhan Gusti Tedjo."
—

KAMU SEDANG MEMBACA
SERCHIE
RomanceSERCHIE | © 2023, Ani Joy. All rights reserved. Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama, karakter, insiden, dan Dialog adalah produk dari imajinasi penulis dan tidak akan dibangun sebagai nyata. Kemiripan apapun untuk peristiwa nyata atau orang-orang, h...