Gusti Ruumini tahu bahwa pilihannya akan membuahkan hasil yang besar. Ia tidak berhenti tersenyum ketika melihat anak keduanya Armaya Ruahay Si Pemalu tengah berbicara dengan Prabawa—calon raja yang baru. Senang sekali hati Ruumini mengetahui bahwa ia akan menikahkan Prabawa dengan anaknya. Ruumini mendekat dan berusaha memasuki oborlam mereka dengan senyum menggoda. "Bagaimana Prabawa? Apa yang kalian bicarakan?" godanya sembari mengibaskan kipas tangan yang selalu ia bawa.
Prabawa dengan kaku menjawab, "Aku ingin tahu apa yang Armaya lakukan pada jahitannya, Gusti Ruum."
Ruumini ber-oh ria dan berkata, "Armaya pandai menjahit. Jika kamu mau dia akan menjahitkan kamu sarung bantal baru, bagaimana?"
"Jika Armaya berkenan, aku tidak keberatan Gusti Ruum." Prabawa tersenyum tulus dan berpamitan setelah ia memberikan semangat kepada Armaya Ruhaya.
"I-ibu menganggu pertemuanku." Suara itu keluar dari mulut Armaya Ruhaya yang terlihat kesal.
"Kenapa?"
Armaya tidak berkata lagi, dan memilih pergi dengan wajah masam. Dalam hatinya ia mendumel tentang ibunya yang sudah ikut campur. Padahal dia ingin memberikan hasil jahitannya kali ini untuk Archie.
"Armaya," panggil Prabawa ketika melihat perempuan berjalan menjauh dari tempat mereka tadi dan Gusti Ruumini yang sudah tidak berada di sekitarnya.
Kepala perempuan itu menoleh dan pandangan bertanya-nya membuat Prabawa menarik senyum kecil. "Archie suka sapu tangan. Bisakah kamu jahitkan dia satu? Dengan inisial tentunya."
Wajah Armaya berbinar ceria. Anggukan mantapnya membuat Prabawa yakin bahwa perempuan itu memang benar memiliki perasaan kepada sepupunya.
"Baiklah, aku tunggu hadiahnya."
—
"Raden Mas," panggil Prabawa setelah seminggu ini dia begitu sibuk. Akhirnya dia dapat bertemu dengan Archie di pendopo. Pria itu tengah menyesap teh sorenya. Tidak jauh dari mejanya ada Armaya Ruhaya yang sedang mengarit kebun bunga.
Mengetahui kedatangan Prabawa yang sudah direncakan Armaya. Perempuan itu segera mencuci tangannya di keran air yang tidak jauh dari sana.
Prabawa mengeluarkan kotak yang berisi jam tangan untuk sepupunya itu. "Selamat ulang tahun, Mas Archie. Maaf hadiahnya tidak seberapa. Aku sedang menabung," ucap Prabawa sambil bercanda dengan tengilnya.
Archie menatap Prabawa dengan curiga. "Tidak seberapa? Sedang menabung? Kamu bercanda Prabawa? Ini jam tangan mahal, aku tahu."
Prabawa terkekeh. "Aku tidak tahu seleramu. Kemarin aku bertanya kepada Raden Ayu, katanya jam tangan yang kamu pakai jelek sekali. Sudah bertahun-tahun tidak kamu ganti, padahal sesekali jam tangan itu tidak berfungsi. Tetapi kamu tetap memakainya."
Mata Prabawa melihat jam tangan yang dimaksud pada pergelangan tangan kanan Archie. Prabawa menunjuknya dengan jijik dan berkata sambil bercanda, "Ugh, itu dia—ditanganmu Raden Mas."
Archie melirik jam tangannya dan menatap Prabawa dengan sengit. "Ini peninggalan ayahku."
"Oh, maaf Raden Mas. A-aku harus pergi. Para ibu mencariku." Prabawa canggung dan segera berlari meninggalkan Archie yang menatapnya datar dengan gelengan kepala.
Tak lama berselang, Armaya yang baru saja selesai mencuci tangannya terheran tidak melihat Prawaba disana. Padahal mereka sudah berjanji untuk memberikan hadiahnya bersama-sama. Armaya berjalan pelan tanpa menimbulkan suara—takut menganggu waktunya santai Raden Mas-nya. Armaya berdeham kecil sebelum membuka suara.
"R-raden Mas? Dimana Prabawa?" tanyanya ragu.
Archie menangkap sosok Ruhaya dengan hangat dan memberikan gestur untuk perempuan itu mendekat dan duduk didekatnya. "Ruhaya. Prabawa sudah pergi, dia terlihat buru-buru. Katanya para ibu mencarinya."
Armaya ber-oh ria dan duduk dikursi sebelah kiri Archie.
"Selamat ulang tahun, Raden Mas." Armaya Ruhaya menyodorkan hadiahnya. Senyum Archie mengembang sempurna yang membuat pipi Armaya memerah.
"Apa ini? Terima kasih Armaya. Kamu perempuan pertama yang memberi aku hadiah, dan terima kasih sudah mengingat hari kelahiranku."
Pipi Armaya semakin memerah dan dadanya seakan ingin meledak karena kalimat Archie.
Perempuan pertama yang memberinya hadiah?
Senyum Armaya tidak pudar. Dia semakin berani dan berkata dengan jujur. "Semoga Raden Mas suka. Aku menjahitnya sendiri."
"Benarkah? Boleh aku lihat?" tanya Archie lembut dan langsung diizinkan oleh Armaya. "Indahnya, lembut, pintar kamu menjahit Armaya." Archie memuji perempuan itu dengan tulus dan betapa bahagianya Armaya selama seminggu kedepan.
Dengan malu-malu Armaya menunduk dan menutupi wajahnya yang memerah. Armaya tidak tahu, dibalik sikap malu-malunya ada seorang ibu yang diam-diam mengintip perbuatannya.
—
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
SERCHIE
RomansaSERCHIE | © 2023, Ani Joy. All rights reserved. Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama, karakter, insiden, dan Dialog adalah produk dari imajinasi penulis dan tidak akan dibangun sebagai nyata. Kemiripan apapun untuk peristiwa nyata atau orang-orang, h...
