BAB 54

10 1 0
                                    

Rakanansatya melirik kakanya dengan heran dan berbisik, "Apa maksud Mbak Ruum?"

Ruumini tersenyum licik. "Aku lupa, Raka. Aku memiliki dua putri, Rukaya dan Ruhaya. Sementara kamu memiliki dua putra, Tidjil dan Djati. Tetapi, jika kupikir-pikir mana yang terbaik dan paling menguntungkan—adalah memilih Prabawa sebagai menantuku. Dia adalah keturunan Mbak Roosita, calon kandidat paling memenuhi prospek pemegang tahta selanjutnya."

Sampai saat ini Taj Rukmasana belum diturunkan. Para tetua masih mencari wasiat Gusti Tedjo terlebih dahulu. Tanpa wasiat itu, barulah calon kandidat paling memenuhi prospek, yaitu Dasarata Prabawa Kawi akan resmi menjadi Raja baru bagi Akkadiamadjantara.

Keluarga kerajaanpun berebut-rebut ingin menikahkan anak mereka dengan Prabawa. Karena itu, otomatis anak perempuan yang menikahinya akan menjadi penguasa. Semua ibu yang memiliki ambisi berlomba-lomba datang ke istana untuk bertemu calon Raja itu. Hal itu membuat Prabawa gelisah dan merana karena kesehariannya yang tenang menjadi huru-hara sejak rumor tentang dirinya yang tersebar luas.

Setelah diusir dari kerajaan, untuk menghindari kesialan anaknya. Roosita rela melakukan ritual untuk memohon maaf kepada leluhurnya. Ini sudah malam keempat Roosita melakukan perjalanan ritualnya yang ditemani oleh Sekar Mirah, agar kesialan tidak menimpa keluarganya. Roosita bertanggung jawab penuh atas apa yang telah dilakukan oleh Hariya.

Sementara itu, Archie yang mengetahui isi dari Taj Rukmasana memiliki kegundahan sendiri dihatinya. Mengingat dia bukanlah calon yang kuat, tetapi seharusnya sejak dulu dialah yang berkuasa. Mengapa sekarang ia bagaikan diusir dari rumahnya sendiri. Seharusnya itu miliknya, bukan orang lain.

Serra mendekati suaminya yang terlihat muram menyesap teh hangat di balkon kamar mereka. Wanita itu memijat bahu suaminya sebelum duduk diatas paha pria itu dan bertanya, "Apa yang membuat wajahmu masam seperti ini, Archie?"

Pria itu memeluk Serra dengan hangat dan mengecup punggung tangan istrinya. "Taj Rukmasana."

"Bukankah kamu tidak tertarik dengan tahta, Archie? Kamu sudah berjanji kamu lupa?" Tanya Serra kesal. Bibirnya mengerucut dan membuat Archie semakin gemas dengannya.

"Aku berjanji, Serra. Tetapi ... Wasiat Gusti Tedjo ..." Archie mengeluarkan surat dengan lambang kerajaan Akkadiamadjantara itu menunjukkan kepada istrinya tulisan tangan basah dari paman suaminya itu.

"Archie?" Serra mengelus perutnya.

Archie menghela napas berat. "Gusti Tedjo merubahnya ketika dia mendengar kehamilanmu. Aku tidak tahu, Serra. Aku tidak mengerti mengapa dia memilih anak kita?"

Serra menggeleng kencang, ia sama sekali tidak setuju dengan apa yang tertulis disana. "Anakku belum lahir dan dia harus menanggung beban itu, Archie?" decit Serra kepada suaminya. Matanya mulai berkaca, malang sekali nasib anaknya.

"Hei, Cherry. Tidak akan, aku berjanji anak kita tidak akan menanggung beban ini. Aku akan membuang surat ini, sehingga mungkin Prabawa akan menduduki tahta itu," ucap Archie menunjukkan dia melipat kembali surat wasiat Gusti Tedjo yang ada padanya. "Aku akan meletakkan di kotak ini, dan kita harus berpura-pura tidak pernah membacanya."

Serra mengangguk. "Terima kasih, Archie. Aku hanya tidak ingin anak-anak menderita dan hidup penuh tekanan. Aku ingin mereka bebas, hidup bahagia, tanpa tanggung jawab mereka harus melayani kerajaan."

Archie menyisir rambut istrinya dengan jemarinya. "Pasti, Cherry. Akan aku pastikan anak kita hidup bebas, bahagia, dan bertanggung jawab pada diri mereka sendiri." Pria itu mengecup pucuk kepala istrinya dan ia membawa kotak wasiat itu menuju ruangan dimana lukisan favorit ibunya dipajang. Archie menggeser bingkai itu, menampilkan berangkas yang selama ini menjadi tempat bersemayam wasiat itu.

Archie membuka kode dan meletakkannya dengan perlahan. Memastikan kotak itu tidak rusak dan isinya masih utuh, semua surat wasiat turun temurun ada disana. Ayahnya lah yang memberitahunya rahasia itu. Jauh sebelum lukisan itu dipajang disana, dulu yang menyembunyikan brangkas itu adalah lemari besar milik raja-raja terdahulu. Karena renovasi besar-besaran pada tahun sembilan puluh, lemari itu dipindah dan digantikan menjadi lukisan yang sekarang tergantung disana.

Archie rasa itu cukup aman, karena tak ada yang keruangan itu selain ayah, ibu, dia, dan Serra. Merekalah orang-orang yang sering berkunjung kesana. Hanya untuk melepas rindu, dengan cara menatap lukisan sungai mengalir itu.

TBC

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 9 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SERCHIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang