BAB 56

28 5 2
                                        

"Ibu, ampun Bu! Kenapa ibu memukuli aku?!" Armaya berusaha menghindari pukulan ibunya. Tetapi mau sampai kapan dia mengelak pukulan itu akan terus mengenainya sampai ibunya puas.

"Aku sudah bilang jangan dekat-dekat dengan anak sial itu!"

"Ibu, ampun Bu!"

"Dia akan menerima ganjarannya karena membuat kamu menyukainya," geram Ruumini dan memastikan pukulan terakhirnya membuat Armaya jera akan tindakannya.


"Eyang, mendiang Raja Tedjo memberikan aku sebuah wasiat—"

"Aku tahu."

Ucapan Archie dipotong oleh neneknya denga cepat. Mereka duduk berhadapan di kamar Roosita. Suasana remang-remang membuat situasi menegang dan Archie tidak pernah segugup ini ketika berhadapan dengan neneknya.

"Aku tahu, Archie. Simpan itu dengan baik. Jangan sampai ada yang tahu."

"Baik, Eyang."

"Pergilah ke Jakarta, Archie. Kunjungi Raden Ajeng Mimi, kondisinya tidak baik-baik saja. Semenjak Daom meninggalkannya, dia sering sakit. Pergilah ke sana, bawa Serra bersamamu."

"Baik, Eyang."

Di luar tanpa sepengatahuan mereka, Gusti Ruumini baru saja melepas telinganya dari pintu jati itu. Bibirnya menegang dan kipas yang ia bawa, diremasnya sama beberapa tulangnya patah. Sialan, anak sial itu akan mengambil tahta.

Ruumini berjalan cepat, ia harus bertemu dengan adiknya. Ia harus menyusun rencana, rencana terburuk sekalipun. Dia tidak akan membiarkan Archie menjadi raja selanjutnya. Ditengah jalan ia bertemu dengan Serra yang akan memasuki lorong untuk ke kamar Roosita. Serra menunduk hormat, menunggu kepergian Ruumini yang buru-buru. Serra membawa sarung bantal baru yang diberikan Armaya kepadanya untuk diberikan kepada Roosita. Serra mengetuk pintu dan membukanya ketika diijinkan untuk masuk.

"Eyang, ada hadiah untuk Eyang." Serra berkata dengan semangat sambil meletakkan sarung bantal itu di atas meja.

Roosita dengan mata berbinar mengusap lembut sarung bantal itu. "Armaya yang menajhitnya?" tebak Roosita dan langsung dipanggil oleh Serra.

"Armaya memang pandai menjahit, Eyang. Aku diberikan hadiah sapu tangan ketika ulang tahunku."

Roosita memandang Archie iba, dan tangannya terulur menyentuh pipinya. "Maafkan aku, Archie. Aku melupakan ulang tahunmu."

Archie menggeleng pelan. "Tidak masalah, Eyang. Aku baik-baik saja walaupun tidak ada yang mengingat ulang tahun ku."

"Aku mengingatnya," rengek Serra tidak terima.

"Kamu pengecualian, istriku."

"Jadi aku tidak dianggap? Aku kan pasti orang nomor satu yang mengucapkan selamat kepadamu dan memberi mu hadiah spesial."

Archie tersenyum malu-malu. "Karena itu, karena kamu si paling pertama. Aku berikan kamu nomor spesial, alias sebelum nomor satu."

"Oh, apa yang terjadi kepadaku. Aku melupakan banyak hal akhir-akhir ini. Aku lupa dimana inhaler-ku. Lupa dimana letak kamar mandi, dan bahkan melupakan hari penting cucuku." Roosita memegang kepalanya dan bersender pada badan kursi. "Archie apa aku sudah demensia?"

Archie melirik Serra dan wanita itu segera mengusap pundak neneknya dengan hangat. "Eyang tidak perlu berpikir sejauh itu. Jika memang benar, aku tidak akan bosan mengulang cerita untuk Eyang setiap hari."

"Cherry, kamu menantu terbaikku."

Roosita kembali mengusap sarung bantal itu dan bertanya, "Siapa yang membawa sarung bantal lembut ini?"

Archie dan Serra kembali bertatap. Kali ini Archie yang menjawab, "Armaya, Eyang. Armaya Ruhaya anak Gusti Ruumini."

"Armaya? Si pendiam Armaya?"

"Iya, Eyang," jawab Archie.

"Aku baru tahu dia pandai menjahit."

"Jangan menjahit, membordir, menyulam, semua bisa dia lakukan, Eyang." Archie bersemangatnya menceritakan sepupunya kepada Roosita.

"Benarkah? Kalian jangan lupa ke Jakarta. Kunjungi Mimi."

"Iyaa, Eyang," jawab Archie dan Serra bersamaan dengan nada gemas.

TBC

SERCHIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang