BAB 59

26 4 1
                                        

Malam itu sebelum rapat dimulai, Archie dan Serra sudah bersiap berangkat menuju Jakarta. Mereka akan mengunjungi Tamira Widodo istri dari mendiang raja Tedjo. Mereka akan tinggal beberapa saat sembari menunggu kelahiran kedua putra Serra dan Archie.

Keduanya sudah bersepakat memilih jakarta sebagai tempat kelahiran calon Raja Ajuda itu. Setelah berunding bersama Gusti Roosita dan Ratu Regina, Serra diijinkan untuk melahirkan di Jakarta. Walaupun rencana awalnya Ratu Regina menyarakankan untuk melahirkan di Portugal. Tetapi melihat potensi hamil besarnya, dan beberapa masalah yang terus betubi-tubi datang, mereka tidak sempat pergi ke Ajuda sebelum kehamilan Serra semakin besar.

Di dalam mobil marcedes yang disupiri supir kerajaan, Archie dan Serra duduk di kursi penumpang. Keduanya menikmati perjalanan dari bandara sampai ke pusat jakarta dengan tenang. Sampai sesaat sebelum mereka memasuki salah satu underpass yang cukup gelap. Beberapa mobil mulai mendekati, flash kamera ada dimana-mana. Detik itu juga Archie memastikan istrinya baik-baik saja dan dia melepas seat belt nya,  membuka kaca pembatas antara supir dan dirinya.

"Pak Cipto, aman Pak?"

Supir itu dengan santai menjawab, "Aman, Raden Mas. Ini paling cuma wartawan aja Mas."

Archie mengangguk dan menutup pembatas itu. Serra memegangi perutnya karena khawatir dan Archie ikut mengelusnya juga. "It's okay,. It's just paparazi."

"Firasatku tidak enak Archie."

Archie berusaha tenang sambil memasangkan kembali sabuk pengamannya. "Hei .. semuanya akan baik-baik saja—" belum sempat sabuk itu terpasang, dentuman keras menggema.

Suara klakson dan bunyi rem berdecit dimana-dimana. Rasanya seperti dihantam bola besi, tidak lebih keras, baja mungkin. Kepala Serra berputar seiring dengan tergulingnya mobil mereka. Matanya sekilas melihat Archie yang terhempas keluar jendela karena ia tidak berhasil menggunakan sabuk pengamannya. Tangan Serra terulur dan ingin meraihnya, tetapi ia tidak bisa. Kejadiannya begitu cepat. Tubuh Serra terhentak, perutnya terjepit sabuk pengaman dan rasanya nyeri sekali. Cahaya menyilaukan dari kirinya membuat Serra tidak dapat membuka matanya dan semuanya gelap.

Archie tidak dapat merasakan tubuhnya sekarang. Pandangannya mulai kabur dan dia hanya dapat melihat cahaya silih berganti di depannya. Ia berusaha menggerakkan jemarinya, tetapi dia tidak bisa merasakannya. Rasa sakit di kepalanya tidak dapat ia tahan, saking sakitnya ia bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati. Detik-detik terakhirnya, ia memikirkan istrinya. Wanita yang paling dia cintai—Abrata Serra, Cherry nya. Jantung hatinya, belahan jiwanya, teman hidupnya.

"Cherry .." lirihnya tak tahu apakah suaranya dapat didengar atau tidak. Saat ini Archie hanya pasrah. Berdoa kepada Tuhan bahwa jangan ambil istrinya, biarkan dia dia pergi terlebih dahulu dan biarkan kehidupan berjalan kepada istri dan kedua anaknya.

Tuhan, selamatkan istri dan kedua anakku. Biarkanlah mereka hidup, ampuni aku. Ambil nyawaku.

Sayup-sayup ia dapat mendengar seseorang berteriak dan menepuk wajahnya, memberikan sensasi nyeri ke dadanya. Kilatan cahaya silih berganti dari mata kiri dan kanannya. Dinginnya permukaan alat yang diletakkan di dada kanan dan kirinya membuat Archie merintih dan berhumama tidak jelas. Ia hanya ingin satu, istrinya. Dia akan memastikan istrinya hidup.

"Cherry .. " gumamnya lagi. Tetapi sampai detik penghabisan, ia tidak dapat melihat istrinya.

Serra terbangun karena rasa mual yang cukup memabukkan. Ia muntah memuncrat dan dadanya sesak sekali. Perut nya sakit dan Serra tidak tahan sampai merintih kesakitan. Dia ditengah ketidak sadar dan sadarnya itu memegang perutnya dan kepalanya yang seakan ingin pecah, ia tidak tahu apa yang terjadi kepada tubuhnya. Intinya dia sudah tidak kuat.

Ketika kepalanya menoleh, ia melihat Archie yang sedang diselamatkan oleh tim medis. Beberapa orang mulai silih berganti memberikan kompresi dada. Air mata Serra mengalir, apa ini takdirnya? Inikah nasibnya? Serra menangis didalam kesendiriannya, didalam kesakitannya. Perlahan memorinya bersama Archie terluta kembali, ingatannya bersama pria itu bagaikan roll film yang diputar dengan sendirinya. Serra menangis terisak dan tangannya berusaha meraih suaminya kembali.

Tetapi tim medis dengan cepat menanganinya dan belum sempat dia berpamitan dengan Archie, tubuhnya sudah di dorong lagi entah kemana.

Serra tersadar di tengah-tengah lorong rumah sakit.  Diaa tahu bau ini. Khas alkohol, steril, dan besi. Tubuhnya di tepuk dengan kencang dan matanya Serra yang berlinang air mata hanya dapat menatap lurus.

"My bean, save my beans," lirihnya tak kuat. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkan kalimat itu. "Selamatkan anak saya." Itulah kalimat terakhirnya. Sebelum Serra benar-benar kehilangan kesadarannya.

Para medis mendorong ranjang itu sangat kencang. Membawanya ke ruang operasi segera untuk menyelamatkan bayinya. Salah seorang dokter jaga sudah naik ke atas tubuhnya dan melakukan resusitasi jantung paru. 

"Pasien tidak ada nadi! Code blue!"

Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi Serra diberikan kompresi dada, tubuhnya yang kian melemah harus segera diooerasi untuk mengeluarkan bayinya. Jika tidak ketiganya tidak akan selamat. Di ruang operasi dokter sudah bersiap, dan operasi itu tidak butuh waktu lama. Karena Sang Ibu telah tiada, jadi prosesi mengeluarkan bayipun dlakukan sangat cepat untuk mengurangi risiko kurang oksigen kepada bayi.

Tangisan bayi itu begitu kencang. Keduanya dilahirkan dengan waktu yang tepat. Keduanya sama-sama  menangis kuat, bergerak aktif dan tak ada satupun bagian tubuh yang memburu. Para medis bernapas lega dan rasanya seperti terlepas dari belnggu. Mereka mengucap syukur dan haru. Waktu genting itu sangatlah tipis. Jika tidak tepat bisa-bisa  mereka juga kehilangan kedua bayi itu.

Tubuh Serra kaku, sisa air matanya mengalir ketika mendengar tangisan kencang putranya.

"Waktu kematian Ny. Serra, pukul dua belas lewat dua puluh lima." Setelah dokter menyatakan waktu kematiannya, tubuh Serra dibersihkan. Dijahit perut yang dibelah itu. Diseka semua darahnya, dijahit lukanya, dan ditutupi dengan perban.

Serra meninggal dalam kesendiriannya, mengharap suaminya ada disampingnya, memeluknya dan berkata mencium bibirnya seperti kecupan sebelum tidur. Tapi itu semua hanya harapannya, tidak ada yang tersisa selain kenangannya.

TBC

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SERCHIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang