BAB 47

46 6 0
                                    

Estella membalikkan tubuhnya ketika menyadari ada orang lain yang mengikutinya. "Who are you? What do you want?" tanyanya defensif.

"Hai, aku Lalitha. Lalitha Sanggadiatmadja."

Estella menatapnya sinis dan akan menutup pintu kamarnya. Tetapi Lalitha dengan cepat menahannya. "Please, let me in. I want to talk with you. Aku sepupu Archie dari Akkadkamadjantara."

Mata Estella terbuka. Akkadkamadjantara pikirnya, kerajaan itu telah lama ia kagumi. Sungguh sebenarnya Estella ingin mendengar semua cerita disana. Khususnya cerita tentang ibunya yang pernah menjadi ratu setahun. Estella awalnya ragu untuk mempersilakan. Lalitha masuk. Karena perempuan itu asing baginya. Namun, karena Lalitha tersenyum kikuk dan dia berasal dari Akkadkamadjantara, Estella pun membiarkannya masuk.

"Terima kasih," ucap Lalitha pelan dan menunggu Estella duduk dikasurnya.

Perempuan itu pun menatap Lalitha heran. "Apa yang kamu tunggu, duduklah." Estellah mencoba menjadi tuan rumah yang ramah. Walaupun itu bukan seperti dirinya.

Lalitha duduk dengan ragu di ujung ranjang. Sembari melihat-lihat isi ruangan itu. "Apa kamu terganggu dengan kedatanganku? Aku minta maaf karena sudah lancang."

"Ya kamu memang mengangguku. Maka dari itu aku akan meminta bayarannya," balas Estella masih terdengar angkuh. "Mungkin ibuku pernah bertemu denganmu sebelumnya. Jadi aku anggap itu sebagai benang merah diantara kita."

"Tante Hera? Ya, she's the kindness aunty that i have."

"How she is there?" tanya Estellah sangat penasaran sampai dia mendekatkan dirinya kepada Lalitha.

"Dia menjagaku dengan baik, mengajarkan aku menari, mengajakku berkuda, menemaniku sekolah bahasa, dan banyak lagi."

"Is she full of happiness?"

"Ya, she is. Setiap aku datang ke istana, she hold me, hugged me, kissed my cheek, she's so addorable." Lalitha cekikikan ketika mengenang mendiang Hera.

Estella tersenyum pilu, bibirnya bergetar. "She's live in your story—?" Perempuan itupun menaikkan alisnya berusaha mengingat nama Lalitha.

Lalitha Sanggadiatmadja tersenyum dan menyodorkan tangannya, kali ini lebih baik dari sebelumnya. "Lalitha Sanggadiatmadja."

"Ah, ya Lalitha. Aku Estella—Estelkah Van Dallas," jawab Estella membalas genggaman Lalitha.

"Maaf, aku ingin bertanya. Tetapi, ini sedikit lancang. Namun, aku sangat penasaran," ucap Lalitha ragu tapi tetap dengan kepercayaan dirinya.

Tanpa menunggu Estellah mengizinkannya bertanya. Lalitha bertanya dengan nada sok tahunya, "Hubungan kalian memang tidak baik, ya?"

Wajah Estella kaku dan berusaha mengalihkan pandangannya.

"Jika iya, apa ada hubungannya dengan Akkadkamadjantara?"

Wajah Estella kini kembali menatap Lalitha. Kerajaan itu kembali tersebut. Estella mendekat dan berkata, "you tell me about Akkadkamadjantara first. And you'll get the rest."

Lalitha memundurkan tubuhnya sedikit karena takut melihat Estella yang sinis kepadanya.

"Okay, easy Estella." Lalitha memperbaiki posturnya dan melipat kakinya naik ke atas kasur. "Darimana kamu ingin aku bercerita?"

"Perpisahan orang tuanya Archie."

Lalitha menyetujuinya dan menarik napas dalam sebelum bercerita. "Ceritanya mungkin akan sedikit panjang. Tapi singkatnya begini, mereka dipisahkan oleh maut. Gusti Malo waktu itu meninggal dunia didalam kamarnya selepas sarapan bersama istrinya—Aunty Hera. Dia lebih senang dipanggil aunty, daripada Raden Ayu. Meninggalnya Gusti Malo menimbulkan pro kontra di istana. Banyak yang menuduh Aunty Hera sebagai dalang utama kematian Gusti Malo, ada juga yang menyebut Archie sengaja membunuhnya karena menginginkan tahta secepatnya. Semuanya berspekulasi sendiri, dan hanya Aunty Hera dan Archie yang tahu, dan mereka juga tutup mulut. Aunty Hera memilih keluar dari istana dan membawa Cecilia bersamanya. Sementara Archie tinggal disana karena Gusti Roosita menyuruhnya tinggal."

"Ada rumor bahwa Aunty Hera telah menikah lagi sebelum Gusti Malo meninggal—yang artinya dia selingkuh dari Gusti Malo."

"It's not true."

"Hm?" tanya Lalitha berdeham.

"She's not cheating. Papa bilang kalau mommy datang ke New York untuk mencari tempat tinggal. Dia membantu mommy, memberikannya flat dan tidak lama kemudian mereka jatuh cinta. Hanya  itu yang aku ingat dari cerita Papa sebelum dia meninggal dunia." Estella mencoba mengingat.

"Apa alasan papamu meninggal dunia?"

Estella mendengus dan wajahnya berubah masam. "Because of him— Verdogen."

"Verdogen?"

"Saat aku berusia lima tahun, dimana papaku menceritakan kisahnya dengan mommy, Verdogen datang mencari ibunya. Ia bagai anak tikus yang kesusahan karena kehilangan induknya. Dia memberitahu bahwa dia adalah anak laki-laki dari mommy, Agra yang berusia tujuh tahun pada saat itu jelas cemburu. Namun, ada rasa senang sedikit dihatiku karena aku memiliki saudara lagi. Well Cecillia not bad for being a sister. She's good, smart, completely competent. I was so happy to have Cecillia. But Archie? He's like enemy, kedatangannya membawa petaka bagi mommy. Bagaikan teringat kembali akan mendiang suaminya, mommy mulai bersikap aneh dan sering marah-marah. He's the trigger."

"Kedatangannya waktu itu juga membuat papa dan mommy Agra sering bertengkar. Sehingga suatu malam, selepas pertengkaran hebat, mommy mengusir papa, Archie baru saja kembali dari pesta Harvard-nya, dan secara bersamaan taksi yang ditumpangi Archie menabrak papa. Dan dia meninggal di tempat."

"Kedatangannya benar-benar membawa kesialan."

Di dalam lubuk hatinya, Lalitha tidak terima jika Archie dikatakan sebagai pembawa sial. Mau bagaimanapun, Lalitha adalah calon istri pria itu—jika Serra tidak muncul ke permukaan. Lalitha sedikit kesal dan berbicara, "Semua yang terjadi karena suatu alasan, Estella. Aku turut berduka untuk ibu dan bapakmu. Aan sulit untuk menerima kehilangan, karena aku juga kehilangan kedua orang tuaku. Tetapi aku tahu kamu bisa melewatinya."


"Are you okay, Cherry?" Semenjak mengusir Agra Van Dallas dari Mansion Mallory, gelagat wanita itu berubah. Ia seakan menghindari Archie dan bahkan tidak melihat sedikitpun ke arah pria itu.

Saat ini, mereka sedang berada di kamar yang Archie tau, sebelum ia masuk, istrinya sudah menutup pintu duluan. Apa istrinya tidak ingin diganggu? Pikir Archie kebingungan. Pria itu mendekat dan menyentuh puncak bahu Serra. Namun, dengan cepat wanita itu menepis dan menghela pajang. "Aku ingin istirahat. Tolong jangan ganggu aku."

Kening pria itu mengkerut. Kenapa Serra berubah dan menjadi seperti ketika mereka pertama kali bertemu di Ajuda.

"Ada apa, Cherry? Apa aku berbuat salah?"

"..."

"Jika iya tolong katakan. Jangan diam seperti ini, you make me scared."

"For what you scared?" tanya Serra sarkas.

"Kamu akan meninggalkan aku?"

"..." Don't say that

"Cherry answer me," ucap Archie lirih.

"Am i doing wrong? Apa aku membuatmu malu?"

"..." No

Pria itu mendengus mengerti. "Aku pikir kamu tidak masalah dengan nama itu."

"Archie," ucapnya pelan berharap pria itu berhenti berbicara.

"I'm fine if you feels so. Aku mengerti, posisimu sekarang mungkin berbeda dan kamu malu memiliki suami sepertiku—yang cacat secara mental dan bahkan mungkin sudah gila karena keluarganya."

Serra membalikkan badannya seraya matanya tidak ingin menatap pria itu. Sungguh sakit rasanya.

"Cherry, if you want to talk about this. Let's talk..."

"Tidak ada—, tidak ada yang harus dibicarakan. Everything it's clear—, and ... Everything it's okay."

TBC

SERCHIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang