34.Blessed-cursed ♪

1K 127 45
                                        

Baca aja, baca pas santaii, ngga sedih kok🌻

Happy reading Ners 🎀

Sudah seminggu lebih berlalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sudah seminggu lebih berlalu.

Kini mereka berkumpul di kamar Seno, meski sang pemilik sudah tak ada di sana ini jadi kamar milik Riki dan rencana akan bersama Hesa di sana.

"Abang beneran ngga ada kabar soal Bang Seno?" tanya Riki yang kini suaranya berubah karena flu, jelas saja remaja itu terus menangis setiap malam, tak mau makan dan banyak diam.

"Ngga ada ki," Jay berucap apa adanya, Seno sepertinya disimpan dengan aman oleh Tae. Kemudian lelaki itu melangkah keluar room.

Lesu Riki, belum lagi soal Jaka, Saka, juga Juna yang hari ini akan keluar asrama. Ya mereka tidak mungkin selamanya di sini kan?

Walau pernah dijanjikan bahwa ia tak akan ditinggalkan, nyatanya...

Riki sudah tau dirinya pasti akan ditinggalkan satu persatu setelah Abangnya meninggalkannya, tapi mau bagaimana lagi? Riki harus memahami, hanya tinggal menunggu kabar resmi saja istilahnya.

Juna, Saka dan Jaka saja sudah mengemas barang-barangnya sejak tadi.

"Ki?" Panggilan dari Jaka juga Saka yang datang.

"Hm?" Riki yang kini tengah mengusap-usap toyep yang tubuhnya mulai besar di pangkuannya lantas menoleh.

"Iki mau dengerin Abang ngomong kan?" Jaka ikut duduk di lantai pojok ruangan itu di sisi Riki.

"Mau kok," Riki mengangguk-angguk.

"Abang harus pulang ke rumah, Bang Saka juga udah cukup modal untuk buat cafe di dekat kampus di kota. Riki ngga papa ditinggal?" tanya Jaka hati-hati meski ia juga tau hal ini akan tetap membuat Riki sedih.

"Ngga papa kok, Bang Jaka juga mau lanjut kuliah kan?" ya tidak papa ucapnya tapi tidak dengan hatinya, meski begitu Riki berusaha baik-baik saja.

"Iya, Jaka harus kuliah. Cukup Abang ngga kuliah, adek-adek Abang pendidikannya harus bagus," sambung Saka di belakang Riki seraya mengusap kepala Riki, "Riki juga... Harus jaga diri di sini bareng sama Hesa, kalian harus sama-sama lulus dan lanjut kuliah."

"Abang memang Abang yang baik, selalu mikirin semua hal untuk Adeknya," Riki memuji Saka dengan tulus, jarang-jarang Riki begitu pada Saka.

"Abang lo jauh lebih baik, Ki."

"Tapi Abang ngga ada kabarin apapun, gak bisa dihubungin, Abang... ingkarin janjinya lagi," balas Riki kemudian menunduk merasa kesedihan melanda lebih lagi.

Lagi-lagi Riki menangis, ia segera memindahkan Toyep dari pangkuannya ke dalam kardusnya lagi.

"Aaaa Iki tu cengeng! Cengeng banget kalo udah soal hati! Tapi kenapa prahara yang ada di kehidupan Riki selalu soal hati!" kesal sendiri Riki jadinya.

Sun and SunflowerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang