[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Oh iya, kita baru ke kota lagi jadi ayo beli Bunga!" ucap Riki diperjalanan setelah membeli berbagai barang belanjaan untuk persediaan di asramanya bersama Seno.
"Emang malem-malem buka toko bunga?" tanya Seno yang tengah fokus menyetir di jalanan malam kota.
"Toko bunga langganan Iki buka kok," ucap Riki yakin sebab ia pernah ke toko bunga Sekar saat malam hari.
Seno menyetujui, mereka berjalan sesuai dengan arah yang Riki tunjukan hingga sampai di toko yang dimaksud.
Keduanya melangkah memasuki pintu kaca toko tersebut dan disambut berbagai jenis bunga baik asli maupun tiruan.
"Bu?" Riki berucap, biasanya saat ada yang datang pemilik tokoh bernama Sekar itu pasti muncul, sekarang mana?
"Mana yang jualnya, Dek?"
"Ngga tau Bang," jawab Riki kemudian kakinya melangkah ke dekat meja kasir, nentranya membulat seketika kala mendapati seorang wanita tergeletak di sana, "Abang! Ini Bu Sekarnya!"
Seno menghampiri dan sama kagetnya dengan Riki, ia segera mengecek nafas dan denyut nadi perempuan yang tergeletak itu, "Pingsan Ki, Ayo bawa ke rumah sakit," titah Seno kemudian membiarkan Riki menggendong wanita itu.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit daerah itu, sekitar satu jam kemudian akhirnya Sekar sadarkan diri dengan Riki dan Seno yang menjaganya.
"Makasih ya, udah bawa Ibu ke rumah sakit," ucap wanita yang kini duduk bersandar di brankar-nya itu.
Seno maupun Riki tersenyum, "Iya Bu, sama-sama. Dan... Maaf Ibu ada keluarga ngga? Kita bisa telponin," ucap Riki karena ponsel wanita itu masih terbawa kemari sebab ada di saku baju wanita itu, jadi pasti bisa menghubungi lewat ponsel itu.
"Ada, Ibu mau coba telpon Putra Ibu," ucap wanita itu hendak meraih ponselnya yang tergeletak di nakas tapi tiba-tiba kepalanya merasa pusing dan meringis.
"Kita aja yang telponin ya Bu?" Seno berucap sembari meraih ponsel tersebut.
Sekar mengangguk, "Cari kontak dengan nama Putraku ya nak?"
Seno mulai mencari kontak tersebut dan menemukannya, ia langsung menekan tombol memanggil.
Telpon hanya terus berdering, bahkan tiga kali mencoba menelpon masih tidak diangkat, "Ngga diangkat, Bu."
"Coba yang kontak putriku, Nak. Maaf ya Ibu merepotkan," ucap Sekar lagi.
"Ngga sama sekali, Bu," Seno berucap sembari menelpon kontak itu dan ternyata dijawab.
Sekar yang bicara pada suara di telpon tersebut.
-☀️🌻-
Sesuai dugaan sebelumnya, tanpa Riki di kamar ini jadi ada saja keributan yang tidak ada habisnya karena tak ada yang menegur.