[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Part ini hambar, karena emangg mereka lagi di fase itu, aku nulisnya aja hampa hueee.
Happy reading Ners 🎀
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-☀️🌻-
"ini bulan Juni, harusnya Bang Seno ultah, tapi dia beneran ngga ada kabar."
Ucapan Riki kala itu, lalu lelaki itu menangis begitu pilu sambil terus menempel di sisi tubuh Hesa yang sibuk menenangkannya.
Hesa saja sampai kewalahan, untung tidak terlalu berlangsung lama, karena Riki kembali baik-baik saja meski masih menyimpan kesedihannya sendiri.
Hingga beberapa bulan pun berlalu. Benar sekali, berbulan-bulan berlalu tanpa ada sedikitpun kabar dari Seno.
Ini sudah bulan November. Untuk Riki, kesedihan memang masih menghantui tanpa tahu kapan akan terhenti. Apalagi, jika diingat-ingat di bulan ini tahun kemarin mereka masih bercanda tertawa bersama namun kini sudah ada kegiatan masing-masing.
Saling bertemu? Tidak. Mereka sibuk masing-masing, anak SMA sibuk dengan banyaknya kegiatan sekolah yang beberapa bulan lagi akan lulus dan anak kuliahan sibuk tentang kegiatan mereka juga.
Bahkan sekedar kabar saja jarang ada, rasanya mereka asing.
Jaka: Maaf baru balas, Jaka baru buka hp. Ngga, aku ngga rayain ultah. Kamu sendiri?
"Jaka ngga rayain ulang tahunnya," ungkap Hesa kemudian menaruh ponselnya sembarang di atas kasur dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Gitu ya? Emang ngga bakalan ketemu nih kita keknya," balas Riki ikut berbaring di sisi Hesa, ini sudah waktunya makan malam, tapi kegiatan kelompok membuat mereka baru pulang beberapa menit lalu.
"Yah gimana lagi? Kita anak SMA aja banyak banget kegiatannya karena jadi murid rajin gini, apalagi anak Kuliahan kan?" balas Hesa.
"Iya juga sih ya, Bang Juna dulu capek pastinya ya? Apalagi dia urus kita bertiga sendirian," ucap Riki spontan saja.
Hesa terdiam, benar juga kan? Pasti dulu Juna sangat lelah mengurus mereka, meski crewet nyatanya Juna benar-benar membantu mereka semua, "Iya ya," balas Hesa pelan.
Kemudian Riki baru sadar ia membawa-bawa Juna di pembicaraan, ia duduk dan melihat ke arah Hesa yang tiduran, "Udah lah, masak yok. Mie aja deh malam ini mah, Abang capek kan buat masak yang ribet-ribet."
Saat beranjak bangun Riki mendapati Toyep, kucing itu tengah mengorek-ngorek kardus di pojok ruangan, ya itu kardus-kardus yang biasa digunakan Seno untuk mengemas paket-paket.
Riki hanya menatapnya sendu, ada rindu yang menggebu, lantas imajinasinya pun mengerti akan kerinduan tersebut sehingga kembali menayangkan masa lalu di tempat itu.