[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Hallo! Aku kembali ~ Jangan lupa tinggalkan komentar di paragraf cerita dan vote kamu terlebih dulu😺
Kalau ada kata keliru atau typo bisa kalian ingetin kok, dan makasi ama yg kadang ingetin aku dibagian typo, itu bantu aku bgt💗
Happy reading Ners 🎀
🌻☀️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Guys, gue Hesa. Semuanya pasti kenal gue, kan? Bahkan beberapa dari kalian mungkin pernah gue ganggu. Jadi, gue yang sekarang udah lulus ini mau tobat. Mohon maaf, ya, kalau pernah ngeganggu atau bikin susah. Kalau mau minta ganti duit juga, datang aja langsung ke bonyok gue."
Ucapan itu Hesa lontarkan tadi pagi di acara kelulusan yang jelas membuat seluruh aula riuh. Kini, Riki menceritakan hal itu dengan gaya persis seperti Hesa, lengkap dengan gestur berlebihannya.
Seno yang mendengarkan hanya melongo, tak percaya tapi juga geli. "Seriusan dia ngomong begitu di atas panggung? Ya ampun!" Seno tertawa, tak kuasa menahannya lagi.
Riki mengangguk antusias. "Iya, Bang. Omongannya keren, sih, tapi gayanya aneh banget. Kayak ngajak ribut terus kaku gimana gitu." Ia terkekeh, mengingat lagi momen itu. "Dan bener aja, Bang. Abis itu orang-orang langsung pada minta ganti rugi. Emak bapaknya Bang Hesa abis sembilan ratus ribu, cuma buat bayar duit anak-anak itu," lanjut Riki dengan raut wajah sumringahnya.
Hesa? Jangan ditanya. Anak itu sudah merenggut di pojokan kamar. Riki terus meledek Hesa dari masih di sekolah lalu kini diceritakan lagi pada Seno yang pulang pada pertengahan acara tadi.
"Aish, coba Jian nggak rewel tadi. Gue juga pasti maju, deh, minta ganti rugi ke lo, Sa!" ledek Seno sambil tertawa-tawa.
"Ih, ya udah, sih! Kan gue udah bermaksud baik. Soal pembawaannya, ya, karena gue emang nggak bisa!" balas Hesa sambil memalingkan muka.
Tawa Riki dan Seno makin keras. Bahkan Jian, yang duduk di pangkuan Seno, hanya bisa memandang bingung. Kemudian, Seno berusaha mengontrol dirinya lagi.
Seno kemudian mengusap kepala Jian. "Jian, Abang Hesa sekarang udah jadi baik tuh walaupun dulu nakal. Kalau Jian udah gede, harus jadi anak baik juga, jangan nakal kayak Papa atau dua abang ini, oke?"
"Hehee!" Jian tertawa kecil, mengangguk beberapa kali seolah mengerti.
Hesa tetap di tempatnya, cemberut sambil bersedekap dada bersama si Toyep yang hanya melongo tak mengerti.
"Udahlah, jangan ngambek juga, sama kek bocil lo!" goda Seno, Riki lagi-lagi tertawa, bahkan sudah berguling-guling di lantai karena lelah menertawakan Hesa yang wajahnya sudah semakin mendung karena malu dan kesal.
"Ambil susu Jian deh, tapi jangan ngambek lagi?" tawar Seno. Kasihan juga Hesa terbuli begitu.
"Iki mau juga!" Riki langsung menyambar, ia tiba-tiba saja sudah duduk di sisi Seno.